18 April 2026 01:48

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 89

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Seusai makan malam, Iben dan Lita duduk berdua di ruang depan. Sambil nonton televisi, mereka ngobrol.

“Aku lihat kamar ibu sudah wangi lagi. Kamu ya yang mengganti bunga, tadi pagi?” tanya Lita.

“Iya. Tapi yang beli Mbok Siti, tadi.” jawab Iben singkat.

“Ben, ayah sudah telepon aku. Ikang juga telepon aku. Mereka pasti juga sudah telepon kamu. Jadi, kamu pasti sudah tahu, apa yang kumaksudkan ini.” Lita berkata dengan nada datar.

BACA JUGA:Intip Kepribadian Seseorang melalui Tulisan Tangan

“Iya, aku juga tahu. Kak Ikang yang telepon aku. Katanya ayah sudah setuju idenya. Terus bagaimana dengan kamu?” Iben mencoba menyelidik.

“Aku ini apa sih? Aku ini tak beda dengan Agung. Aku juga karyawan. Pemiliknya kan ayah dan Ikang. Jadi apa mau mereka, aku ya harus nurut saja.”

“Iya. Aku bisa memaklumi posisimu. Tapi, maaf ya. Aku minta kamu jangan menganggap aku sebagai watchdog, yang diberi tugas khusus mengawasimu. Aku serius ingin belajar dari dekat manajemen perusahaan. Aku mengakui, ternyata kamu memang mampu dengan baik mengurusnya.” Iben berkata pelan.

“Hehehe… Kamu begitu jujur, Ben. Memang kamu diminta jadi watchdog, kok. Terutama Ikang, menugasimu untuk mengawasiku. Dia takut aku merebut perusahaan ini dari tangannya. Itu hal yang wajar. Normal. Aku sepenuhnya bisa mengerti. Jadi, lakukan saja tugasmu dengan baik.”

“Terima kasih. Kamu juga mau mengerti posisiku. Tapi bener lho. Aku memang pengin belajar dari dekat, langsung dari kamu dan Agung.” kata Iben, sambil memandang wajah Lita.

BACA JUGA:Tes Kepribadian: Siapa Orang Pertama yang Anda Bantu? Pilihanmu Menggambarkan Karaktermu

“Oke deh. Kalau begitu, sesuai tugasmu, kamu jadi auditor keuangan saja. Tugasmu mendampingi Dewi, bendahara yang cantik itu.” kata Lita sambil tersenyum.

“Wah, aku harus mulai belajar akuntansi lagi, nih.” Iben setengah bercanda.

“Belajarlah dengan Dewi, nanti.” Mata Lita mengerjap cepat, mencuri kerling ke arah Iben.

Iben tidak menjawab. Hanya mulutnya tersenyum kecut, walau kepalanya tetap mengangguk pelan.

“Eh, Ikang sudah ngomong untuk tugasmu, aku harus memberimu gaji bulanan. Kamu sudah tahu, belum?” tanya Lita sambil tertawa.

“Ah, tidak penting itu, Terserah kamu saja.” jawab iben, setengah malu.

“Karena kamu karyawan istimewa, aku berikan hak khusus untuk menentukan gajimu sendiri. Tapi tetap tidak boleh lebih tinggi dari gaji direktur lho, ya. Hehehe…” Lita bicara sambil tertawa renyah.

BACA JUGA:MAKI Ungkap Dugaan Pungli oleh Oknum Pegawai Bea dan Cukai di Bandara Soetta

“Ah, kamu. Pokoknya terserah kamu sajalah…” Iben jadi seperti kehabisan kata.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version