17 April 2026 23:41

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 95

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Sebagai istri yang masih muda, Lita masih sangat butuh sentuhan-sentuhan suaminya, Theo.

Sebagai wanita yang masih muda, Lita masih sangat butuh sentuhan-sentuhan lelaki.

Dan sekarang, lelaki yang sering menyentuhnya, walau masih sekedar pegang, gandeng, atau genggam tangan itu, adalah Iben.

BACA JUGA:Nur Khoirin: BP4 Harus Hadir di Setiap Kecamatan dan Desa, sebagai Bengkel Keluarga

Remaja culun menjelang dewasa, yang kebetulan berstatus anak tirinya.

Lita mendesah sendiri.

Untuk mengurangi kegalauannya, Lita pun akhirnya masuk kamar mandi.

Malam ini Lita mengguyur seluruh tubuhnya, dari ujung rambut sampai ujung kaki, dengan air panas di bawah shower.

Kulitnya yang kuning bersih sampai kemerahan karena terguyur air panas.

Setelah mandi, Lita merasa lebih segar.

Beban pikirannya berkurang.

Segera dia matikan televisi, matikan lampu.

Dalam gelisahnya, Lita justru bertemu Iben di taman bunga.

Seperti biasa, Iben memegang tangannya, menggandengnya berjalan-jalan, lalu menggenggam tangannya.

Ketika berhenti di bawah pohon rindang, tiba-tiba saja Iben mencium lembut keningnya.

BACA JUGA:BKKBN Gandeng BP4 Jateng Turunkan Kasus Stunting

Geragapan Lita terbangun.

Hatinya kembali didera gelisah yang sangat.

Dia melirik jam tangannya.

Tepat pukul tiga.

Dini hari.

***

Sejak pukul tiga dini hari, Lita sudah tidak bisa tidur lagi.

Dia hanya bergelimpangan saja di tempat tidur, menunggu waktu pagi.

Ketika dari jendela kaca suasana luar sudah terlihat agak terang, Lita bangun dari tempat tidur.

Baru pukul lima lebih empat puluh lima menit.

Tapi Lita segera masuk kamar mandi.

BACA JUGA:BP4 Jateng Gelar Raker Bernuansa Kekeluargaan

Mengisi bath tube dengan air hangat, lalu berendam berlama-lama di dalamnya.

Sekarang pukul tujuh pagi.

Kota Banjarbaru sudah terang benderang.

Jalanan di depan hotel sudah cukup ramai orang berlalu lalang.

Lita sudah siap-siap turun untuk sarapan pagi di restoran di lantai bawah.

Dia meraih pesawat telepon di atas meja kecil di samping tempat tidur.

Dia putar nomor kamar sebelah.

Kamar Iben.

Telepon masuk.

Berdering.

BACA JUGA:BP4 Jateng Mengusulkan agar Bimbingan Pranikah Diwajibkan

“Hai…” sapa Lita pelan.

“Hm..ya?” jawab Iben terdengar agak malas.

“Sudah pukul tujuh. Kita sarapan yuk? Pak Ali jemput pukul delapan tiga puluh nanti.”

“Oh, yaaa…” terdengar suara Iben lemah.

“Kamu kenapa? Suaramu kok lemah gitu?” selidik Lita ingin tahu.

“Oh, ya. Gak tahu nih. Kepalaku kok agak pusing.” jawab Iben, masih pelan.

“Pusing? Kamu sakit? Gimana rasanya badanmu?” Lita jadi penasaran.

“Gak tahu. Bangun tidur kok kepala terasa pusing. Badan agak meriang,”

“Wah, untung aku selalu bawa obat kalau hanya untuk pusing dan flu. Sekarang, yuk kita sarapan. Habis sarapan kamu minum obat.”

BACA JUGA:Bimbingan Pranikah Diwajibkan, Usul BP4 Jawa Tengah

Lita langsung seperti memberi instruksi.

“Iya deh. Tunggu sepuluh menit. Aku siap turun.” jawab Iben.

Kali ini dengan cepat.

Pagi itu Lita dan Iben makan pagi bersama dengan banyak diam.

Iben terlihat kurang semangat makan.

“Makanlah yang banyak. Mukamu pucat. Kamu perlu energi. Jangan sampai kebablasan sakit.” Lita mencoba menasehati Iben.

“Iya. Tapi mulut gak ada selera makan. Kalau dipaksakan bisa-bisa malah muntah, nanti.” jawab Iben.

“Tapi kamu tetep kuat jalan kan hari ini? Kalau merasa gak kuat, kamu istirahat saja di kamar. Biar aku jalan sendiri dengan Pak Ali. Tidak apa-apa, kok.” Lita sekali lagi mencoba memberi pengertian.

BACA JUGA: PTA Semarang akan Gelar Diklat Mediator Masalah Keluarga Bekerja Sama dengan BP4

“Tidak apa-apa. Aku tetep ikut. Biasa lah kalau hanya pusing dan meriang, begini.” Iben tidak mau kalah ngotot tetap ingin ikut.

“Oke deh. Itu Pak Ali sudah datang. Yuk, kita siap-siap.”

Sambil berkata, Lita bangkit, menarik tangan Iben untuk ikut bangkit.

Bertiga dengan Pak Ali, Lita dan Iben berangkat menuju lokasi kunjungan.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version