17 April 2026 19:10

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 115

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

“Bu Lita ke mana, Wi?” tanya Iben kepada Dewi yang sibuk dengan komputernya.

“Tadi bersama Pak Agung keliling ke pengolahan. Mungkin sebentar lagi kembali.” jawab Dewi, masih dengan memelototi layar komputernya.

“Oh, gitu. Eh, ada nota-nota yang perlu approval saya gak, hari ini?” tanya Iben lagi.

“Ada. Lumayan banyak tuh, Mas. Nanti sebentar lagi, aku siapkan.” jawab Dewi, kali ini dengan kepala menengok ke arah Iben.

“Kok Mas Iben tampak kusut banget sih, hari ini?” Dewi mulai menyelidik.

BACA JUGA:2022 PTKIN Akan Terima 172.985 Mahasiswa Baru

“Biarin,” jawab Iben ketus, lalu: “Siapkan saja nota-nota yang perlu aku approve.”

“Oke. Sorry, Mas. Hehehe…” Dewi menanggapi dengan bercanda.

Iben kembali masuk ke ruang dalam kantor.

Tak lama kemudian, masuk Lita diiringi Agung.

Mereka bercakap-cakap sebentar.

Lalu Agung masuk ke ruang kerjanya.

Lita juga masuk ke ruang kerjanya.

“Eh, kamu, Ben. Sudah lama?” tanyanya begitu melihat Iben duduk di kursi tamunya.

“Lumayan. Setengah jam kali.” jawab Iben.

“Rupamu gak karu-karuwan, gitu.” selorohnya.

BACA JUGA:Kantongi 100 Medali Emas, Maitsa Tambah Percaya Diri

Gak karu-karuan.

Ini idiom Jawa untuk sesuatu yang kelihatan amburadul, tidak berbentuk, kacau balau, dan sejenisnya.

“Biarin. Yang penting sudah mandi dan gosok gigi.” canda Iben, sambil mengelus pipi.

“Masih sakit, ya?” tanya Lita melihat Iben mengelus pipi.

“Gak! Aku malah ingin mengucapkan terima kasih, padamu.” jawab Iben lirih.

Lita tidak menjawab.

Wajahnya tertunduk.

Lesu.

“Kamu tidak boleh lagi begitu. Minum itu bukan menyelesaikan masalah. Tapi justru menambah masalah. Cobalah berpikir dan bersikap lebih dewasa.” Lita menasehati Iben.

Iben hanya menganggukkan kepala pelan.

Tangannya masih mengelus-elus pipi.

“Baiklah. Sekali lagi terima kasih. Aku tahu memang sudah seharusnya kamu menampar aku.” kata Iben. Masih dengan nada pelan.

“Syukurlah, kalau kamu paham dengan yang kulakukan padamu. Aku bahagia, Ben.” kata Lita.

BACA JUGA : Akupuntur Alternatif Wajah jadi Glowing, Buktikan!

Wajahnya mengembangkan senyum sangat manis.

Iben menatap mata Lita.

“Aku juga bahagia menerima tamparan tanganmu.”

Keduanya tersenyum. Hanya mereka berdua yang paham arti di balik senyum itu.

“Oh ya. Sebentar lagi aku mau ke Ambarawa. Ada proyek di sana yang harus segera digarap. Key Personnya anak muda. Kalau ketemu kamu mungkin akan berbeda hasilnya. Sama-sama anak muda. Kalau selera sama kan lebih mudah bicaranya.” kata Lita, sambil memberesi beberapa berkas yang ada di mejanya.

“Oke. Aku juga masih ada beberapa nota yang harus aku approve.” kata Iben.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version