17 April 2026 19:44

Ilustrasi Aan Si Pengendali Air/Design by canva

OPINIJATENG.COM-Pada siang hari sepulang sekolah ada dua anak kecil kelas 4 SD dalam perjalanan pulang ke rumah mereka. Di tengah perjalanan, mereka melewati sebuah sungai yang tenang.

Zaka : “Aan, apakah kamu pernah berenang?”

Aan  : “Tidak Zaka, aku tidak pernah berenang?”

Zaka : “Memangnya kenapa kamu tidak pernah berenang, bukankah rumahmu dekat dengan sungai ini?”

Aan  : “Iya kau benar, rumahku sudah dekat dari sini, tapi orang tuaku tidak mengizinkannya karena takut aku tenggelam.”

Zaka : “Tentu kau akan tenggelam karena tidak bisa berenang, tapi bagaimana jika aku mengajarimu berenang sore nanti”

Aan  : “Aku ingin sekali berenang, tapi aku takut ketahuan orang tuaku.”

Zaka : “Sudah tenanglah mereka tidak akan tahu. Kita akan selesai sebelum mereka pulang”

Aan  : “Baiklah sore nanti mari kita ke sungai untuk berenang, aku mengandalkanmu Zaka.”

Ilustrasi Aan Si Pengendali Air/Design by canva

Mereka pulang ke rumah masing-masing dan bersiap untuk segera berenang di sungai sesuai dengan rencana awal. Aan bersemangat untuk berenang pertama kalinya. Namun, dia juga merasa takut jika ketahuan orang tuanya. Rasa senang itu menutupi rasa takutnya. Dia pun langsung menuju sungai untuk menemui Zaka yang ternyata sudah di dalam sungai.

Aan  : “Zaka, kamu sudah sampai ternyata.”

Zaka : “Iya Aan, aku sudah sampai sini duluan karena enggak sabar untuk berenang.”

Aan  : “Wow….kamu jago sekali berenangnya Zaka, aku enggak menyangka.”

Zaka : “Ahh kamu bisa aja An, biasa aja kali, aku bisa berenang karena aku ikut les renang.”

Aan  : “Aku jadi minder sekarang, karena aku enggak bisa sama sekali.”

Zaka : “Sudah tenanglah, kan memang itu tujuan kita berenang, biar aku bisa mengajarimu berenang, sudah cepatlah turun, sungainya lumayan dangkal,kok. Aku pasti akan membantumu.”

Aan  : “Yang bener kamu Zak, okelah jika begitu, aku akan segera turun supaya bisa kamu ajari berenang.”

Ilustrasi Aan Si Pengendali Air/Design by canva

Aan dan Zaka pun berenang di sungai. Pelan-pelan Zaka mengajari Aan, mulai dari mengayunkan tangan dan kaki hingga ia bisa mengapung dan berenang. Tak terasa langit sudah gelap.

Aan  : “Zaka, aku harus segera pulang sekarang, karena orang tuaku akan segera sampai rumah.”

Zaka : “Baiklah jika begitu, besok kita lanjutkan lagi ya sepulang sekolah.”

Zaka dan Aan segera pulang kerumah masing-masing.  Mereka sudah janjian untuk bertemu kembali sepulang sekolah di sungai.

Keesokan harinya, di tepi sungai Aan dan Zaka yang masih menggunakan seragam sekolah.

Aan  : “Zaka apakah sebaiknya kita tidak ganti baju dulu.”

Zaka : “Tidak An, nanti kita tidak bisa lama berenangnya jika harus ganti dahulu, bukankah kamu ingin cepat mahir berenangnya ?”

Aan  : “Kamu benar Zaka, jika kita pulang dahulu maka waktu nanti akan semakin sore, baiklah ayo cepat ajari aku berenang lagi agar mahir seperti kamu”

Zaka  : “Okehh, aku akan mengajari mu bagaimana gaya gaya didalam renang”

Aan  : “Sip……!”

Mereka pun kembali berenang disungai. Namun, kali ini Zaka mengajari Aan berbagai gaya renang meskipun Aan belum mahir betul. Secara perlahan Aan sudah mulai bisa untuk mengikutinya.

Zaka : “Aan, Lihatlah, kamu sudah mulai mahir, aku tidak percaya kamu bisa belajar secepat ini.”

Aan  : “Bisa aja kamu Zak. Aku bisa kan karena kamu ajari.”

Zaka : “Memang benar begitu, tapi kamu juga cepat belajar.”

Aan  : “Benarkah begitu, mungkin ini yang dinamakan bakat alami.”

Ilustrasi Aan Si Pengendali Air/Design by canva

Tak disangka kedua orang tua aan hari ini pulang kerja lebih cepat, sehingga mereka memergoki Aan dan Zaka yang sedang berenang di sungai.

Ibu Aan : “Aan….”(Memanggil Aan dengan kuat)

Aan        : “Lohhh… Ayah, Ibu, kok sudah pulang”

Ibu Aan : “Sudah jangan banyak tanya. Ayo pulang. Kamu juga cepat pulang Zaka (sambil menunjuk Zaka)”

Zaka       : “Baik tante, maaf Zaka salah karena mengajak Aan berenang”

Ibu Aan    : “Sudah, ayo cepat pulang” (sambil memasang wajah marah)

Ilustrasi Aan Si Pengendali Air/Design by canva

Sesampai di rumah, Aan langsung mandi karena takut  dimarahi orang tuanya. Selesai mandi Aan mencoba menjelaskan ke orang tuanya.

Aan  : “Ayah, Ibu maaf yaa Aan sudah enggak nurut. Aan hanya ingin bisa berenang, makanya minta diajarin Zaka.”

Ibu   : “Kamu tau kan kenapa Ibu enggak bolehin berenang?”

Aan  : “Iya Bu, tau, tapi Zaka bisa berenang kok. Dia biasanya ikut les renang, pasti aman.”

Ibu     : Ya tetap saja Aan, yang namanya musibah engga ada yang tau. Ibu enggak mau Aan kenapa-kenapa.”

Ayah   : “Sudah-sudah jangan dimarahin terus, kasihan Aan. Lain kali jangan diulangi lagi ya aan. Cepat masuk kamar.”

Aan  pun masuk kekamar dan murung karena sudah dimarahin orang tuanya. Tidak lama Aan ketiduran karena kecapekan. Tak disangka, badan Aan menjadi hangat. Ia menggigau hingga mengagetkan orang tuanya.

Aan  : “Ayah…. Ibu lihat. Lihat ini Ibu, Aan Berhasil” (Tidur tetapi sambil berteriak)

Ayah dan Ibu yang mendengar pun kaget karena khawatir. Mereka segera menuju kamar anaknya.

Ibu  : “Kenapa Aan? Ada apa? Berhasil apa ?”

Ayah : “Ibu tenanglah, sepertinya Aan hanya mengigau, badannya hangat, sepertinya dia demam karena kecapekan mandi di sungai.”

Aan   : “Ibu aku berhasil menjuarai lomba renang ini, aku berhasil, Bu” (Masih tetap mengigau)

Ayah : “Sepertinya Aan megingau ikut lomba renang, Bu, kasihan Aan.”

Ibu    : “Tapi Yah, kan bahaya kalau Aan berenang disungai, Ibu takut Aan kenapa-kenapa.”

Ayah  : “Bagaimana jika Aan kita ikutkan les seperti Zaka, supaya lebih aman daripada mandi di sungai.”

Ibu   : “Entahlah, Yah, Ibu masih khawatir Aan kenapa-Kenapa”

Ayah  : “Sudah percaya saya sama Ayah.”

Ilustrasi Aan Si Pengendali Air/Design by canva

Aan sembuh dari demamnya. Akhirnya Ayah mengizinkan Aan les renang bersama Zaka.

Ilustrasi Aan Si Pengendali Air/Design by canva

Aan  : “Wow seperti ini ya rasanya berenang dikolam, airnya benar benar jernih, pasti aku akan semakin mahir jika begini.”

Zaka   : “Wah, gawat ini saingan beratku bertambah satu.”

Aan   : “Ah, Zaka, jangan gitu, kau kan sahabatku, pasti kita akan semakin mahir bersama.”

Pelatih  : “Itu benar, kita disini untuk berlatih bersama dan juga bersaing secara sehat untuk menjadi juara di berbagai lomba. Selalu semangat, ya, kalian  berdua.”

Ilustrasi Aan Si Pengendali Air/Design by canva

Akhirnya mereka berlatih berenang bersama pelatih. Aan dan Zaka berlatih dengan giat dan sungguh sungguh. Hingga akhirnya berhasil menjadi juara di setiap perlombaan yang diikuti.***

*) Ditulis oleh Muhammad Viqqih Vinanda, Nindy Putri Sabrina, Bunga Yulia Trisna P, Regita Widia Annisa, Eka Ayu Lestari, mahasiswa S1 PGSD Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version