18 April 2026 21:37

Ilmuwan Banjarnegara Diskusi bersama Peraih Nobel Fisika

0

Ilmuwan Banjarnegara Diskusi bersama Peraih Nobel Fisika/Dr. Tuswadi

OPINIJATENG.COM-Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) baru baru ini menggelar Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2025 pada 7-9 Agustus 2025 di Sasana Budaya Ganesa (Sabuga).

Acara ini menjadi bagian dari langkah strategis pemerintah dalam memperkuat fondasi menuju Indonesia Emas 2045 melalui pengembangan industri nasional yang berbasis sains, riset, dan inovasi teknologi.

Mengusung tema “Sains dan Teknologi untuk Pertumbuhan dan Pemerataan Ekonomi”, KSTI 2025 menjadi wadah kolaboratif antara dunia akademik, industri, pemerintah, media, dan masyarakat untuk mempercepat transformasi ekonomi Indonesia menjadi industri bernilai tambah tinggi. Presiden Republik Indonesia (RI), Prabowo Subianto hadir menjadi pembicara utama dalam agenda KSTI 2025.

Presiden RI mengapresiasi dan memotivasi para ilmuwan untuk turut andil dalam kebangkitan Indonesia menjadi negara berdaulat. Empat ilmuwan bereputasi dunia dihadirkan sebagai keynote speaker yaitu Sir Konstantin Novoselov (Penerima Nobel Fisika 2010 atas penelitian graphene), Prof. Brian Paul Schmidt (Penerima Nobel Fisika 2011 atas penemuan percepatan ekspansi alam semesta), Prof. Chennupati Jagadish (Pakar optoelektronika semikonduktor dan nanoteknologi, Presiden Australian Academy of Sciences), dan Prof. Lam Khin Yong (Pakar computational mechanics dan nanoscience, Vice President of Industry Nanyang Technological University)

Jumat, 8 Agustus 2025, diinisiasi oleh Direktur Jendral Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), berlangsung makan malam (dinner) para ilmuwan anggota Akademi Ilmuwan Muda Indonesia (ALMI) dengan kedua guru besar ternama (Prof. Schmidt dan Prof. Jagadish) didampingi oleh Wakil Menteri Kemendiktisaintek, Profesor Stela Christi bertempat di Plataran Bandung.

Salah satu ilmuwan yang ikut serta di pertemuan tersebut adalah Dr Tuswadi (guru SMP N 1 Banjarnegara) yang merupakan anggota Kehormatan ALMI. Dia sangat bersyukur bisa duduk satu meja dengan tiga ilmuwan kelas dunia membicarakan masa depan Indonesia dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Ketika Dr Tus memperkenalkan bidang riset yang digeluti selama ini yakni pendidikan kebencanaan, Profesor Schmidt mengatakan bahwa pendidikan tanggap bencana wajib diperlukan untuk membangun bangsa yang resilient mengingat Indonesia termasuk negara rawan berbagai bencana alam. Pemerintah Australia, menurutnya, juga sangat intens bekerjasama dengan pemerintah Republik Indonesia dalam turut serta membangun kapasitas guru dan murid Indonesia dalam tanggap bencana melalui Sekolah Siaga Bencana (SSB).

Profesor Stella menanggapi bahwa salah satu tantangan besar adalah masih kurang dan lemahnya kemampuan dan kapasitas guru dalam memberikan pembelajaran tanggap bencana yang tepat dan berkesinambungan di semua jenjang sekolah-dan ini merupakan PR pemerintah yang akan terus dikerjakan untuk mewujudkan masyarakat yang selamat dalam masa-masa krisis dan kritis.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version