OPINIJATENG.COM – Rumah semestinya menjadi tempat paling nyaman bagi anak untuk bercerita, mengungkapkan perasaan, dan belajar memahami dirinya sendiri. Namun, di tengah kesibukan orang tua dan tuntutan kehidupan sehari-hari, percakapan sederhana dengan anak terkadang justru menjadi hal yang terabaikan.
Pertanyaan seperti “Bagaimana sekolahmu hari ini?” mungkin terdengar biasa. Akan tetapi, jawaban anak tidak selalu cukup untuk menggambarkan apa yang sebenarnya sedang mereka rasakan. Di balik sikap diam, perubahan suasana hati, atau keengganan bercerita, bisa saja terdapat persoalan yang membutuhkan perhatian lebih.
Kesehatan mental anak bukan sekadar persoalan ketika mereka mengalami tekanan berat. Lebih dari itu, kesehatan mental juga berkaitan dengan bagaimana anak merasa aman, dihargai, dan diterima di lingkungan terdekatnya.
UNICEF Indonesia melalui laman Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Hidup menekankan pentingnya peran orang tua dalam mendukung kesejahteraan emosional dan sosial anak. Pengasuhan penuh kasih sayang menjadi salah satu fondasi bagi perkembangan keterampilan sosial dan emosional yang dibutuhkan anak untuk tumbuh dengan sehat.
Pesan tersebut mengajak kita melihat kembali satu hal mendasar: sebelum mencari cara memperbaiki kesehatan mental anak, sudahkah rumah menjadi ruang yang nyaman bagi mereka untuk mengungkapkan perasaan?
Anak Tidak Selalu Membutuhkan Nasihat, Terkadang Mereka Hanya Ingin Didengarkan
Dalam kehidupan keluarga, orang tua sering kali ingin segera menyelesaikan persoalan yang dihadapi anak. Ketika anak mengeluh tentang teman sekolah, misalnya, respons yang muncul bisa berupa nasihat, teguran, atau permintaan agar mereka tidak terlalu memikirkan masalah tersebut.
Niatnya mungkin baik. Orang tua ingin anak segera merasa tenang dan mampu menghadapi persoalannya. Namun, respons yang terlalu cepat terkadang membuat anak merasa bahwa perasaannya belum benar-benar dipahami.
Padahal, mendengarkan merupakan bagian penting dari komunikasi yang sehat. Anak perlu mengetahui bahwa mereka boleh merasa sedih, kecewa, takut, atau marah tanpa langsung dianggap berlebihan.
Alih-alih berkata, “Begitu saja kok sedih,” orang tua dapat mencoba merespons dengan kalimat, “Sepertinya hari ini berat buat kamu. Mau cerita?”
Perbedaan kalimat tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi dapat membuka ruang percakapan yang lebih nyaman. Anak tidak dipaksa untuk segera merasa baik-baik saja, melainkan diberi kesempatan memahami dan mengungkapkan emosinya.
Dalam panduan pengasuhan yang dibagikan UNICEF, orang tua didorong untuk menerima perasaan remaja, membangun percakapan dengan empati, serta menunjukkan kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi.
Dengan demikian, mendengarkan bukan berarti selalu menyetujui tindakan anak. Orang tua tetap dapat memberikan batasan dan arahan, tetapi dilakukan setelah memahami persoalan yang sedang dihadapi.
Jangan Sampai Rumah Hanya Menjadi Tempat Anak Mendapat Teguran
Sebagian orang tua mungkin merasa telah memberikan perhatian karena memenuhi kebutuhan pendidikan, makanan, pakaian, dan fasilitas anak. Semua itu memang penting. Namun, kebutuhan emosional juga perlu mendapatkan tempat dalam pengasuhan.
Bayangkan seorang anak yang lebih sering mendengar teguran ketika melakukan kesalahan, tetapi jarang mendapatkan apresiasi ketika berusaha melakukan sesuatu dengan baik. Dalam situasi seperti itu, anak berpotensi merasa bahwa perhatian hanya datang ketika dirinya melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan.
Karena itu, penting bagi orang tua untuk menyeimbangkan koreksi dengan penghargaan. Mengapresiasi usaha anak, mendengarkan pendapatnya, dan memberikan kesempatan untuk menjelaskan situasi dapat membantu membangun hubungan yang lebih terbuka.
Hal ini bukan berarti orang tua tidak boleh menegur atau mendisiplinkan anak. Sebaliknya, disiplin tetap diperlukan, tetapi sebaiknya dilakukan tanpa merendahkan harga diri anak.
Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua dapat membedakan antara perilaku yang perlu diperbaiki dan nilai diri anak sebagai individu. Anak perlu memahami bahwa tindakannya bisa salah, tetapi bukan berarti dirinya tidak berharga.
Lingkungan keluarga yang suportif juga bukan berarti rumah harus selalu bebas dari konflik. Perbedaan pendapat merupakan bagian dari kehidupan bersama. Yang penting adalah bagaimana setiap anggota keluarga berusaha menyelesaikan persoalan tanpa kekerasan, penghinaan, atau ancaman.
Kesehatan Mental Anak Juga Berkaitan dengan Kondisi Orang Tua
Ada satu hal yang sering luput dibicarakan ketika membahas kesehatan mental anak: kondisi emosional orang tua sendiri.
Orang tua memiliki tanggung jawab yang tidak ringan. Pekerjaan, kebutuhan ekonomi, urusan rumah tangga, dan berbagai persoalan lainnya dapat menguras energi fisik maupun mental. Ketika kelelahan menumpuk, kesabaran dalam menghadapi perilaku anak juga bisa berkurang.
Dalam keadaan tersebut, orang tua mungkin lebih mudah meninggikan suara, bereaksi berlebihan, atau kesulitan mendengarkan cerita anak sampai selesai.
Situasi ini tidak serta-merta menjadikan seseorang sebagai orang tua yang buruk. Namun, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa pengasuhan membutuhkan perhatian terhadap kesejahteraan seluruh anggota keluarga, termasuk orang dewasa yang menjalankannya.
UNICEF Indonesia turut menyediakan panduan mengenai perawatan diri bagi orang tua serta pentingnya menjaga kesejahteraan diri ketika mengasuh anak.
Merawat diri dapat dimulai dari langkah sederhana, seperti mengambil jeda ketika emosi meningkat, berbagi tanggung jawab dengan pasangan atau anggota keluarga, dan mencari dukungan ketika merasa kewalahan.
Jika telanjur membentak anak, orang tua juga dapat mengakui kesalahannya dan meminta maaf. Sikap ini bukan tanda kehilangan wibawa. Justru, anak dapat belajar bahwa setiap orang bertanggung jawab atas tindakannya dan bahwa konflik bisa diperbaiki melalui komunikasi.
Dengan kata lain, membangun keluarga yang sehat secara emosional tidak menuntut orang tua menjadi sosok yang selalu benar. Yang dibutuhkan adalah kesediaan untuk belajar, memperbaiki diri, dan membangun hubungan yang lebih baik.
Lima Kebiasaan Sederhana untuk Membangun Rumah yang Lebih Ramah bagi Emosi Anak
Mendukung kesehatan mental anak tidak selalu harus dimulai dengan perubahan besar. Sejumlah kebiasaan sehari-hari dapat menjadi langkah awal untuk menciptakan hubungan keluarga yang lebih hangat.
1. Luangkan waktu untuk berbicara tanpa gangguan
Sediakan waktu untuk berbincang dengan anak tanpa terus-menerus memeriksa telepon atau melakukan pekerjaan lain. Percakapan singkat saat makan bersama atau sebelum tidur dapat menjadi kesempatan untuk memahami pengalaman mereka.
2. Tanyakan perasaan, bukan hanya pencapaian
Selain menanyakan nilai pelajaran atau tugas sekolah, orang tua dapat bertanya tentang pengalaman yang menyenangkan, hal yang membuat anak kecewa, atau sesuatu yang sedang mereka khawatirkan.
3. Hindari membandingkan anak dengan orang lain
Perbandingan dengan saudara atau teman sebaya dapat membuat anak merasa usahanya tidak dihargai. Lebih baik bantu mereka memahami perkembangan diri sendiri dan menetapkan target yang realistis.
4. Berikan ruang untuk menyampaikan pendapat
Anak perlu belajar bertanggung jawab, tetapi mereka juga membutuhkan kesempatan untuk menyampaikan pandangan. Dengarkan pendapat mereka dan jelaskan alasan di balik aturan keluarga agar komunikasi tidak hanya berjalan satu arah.
5. Jangan mengabaikan perubahan perilaku yang menetap
Perubahan suasana hati, menarik diri dari pergaulan, gangguan tidur, atau hilangnya minat terhadap kegiatan yang biasanya disukai patut diperhatikan, terutama jika berlangsung terus-menerus dan mengganggu kehidupan sehari-hari.
Perubahan tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan mental. Namun, orang tua sebaiknya mengajak anak berbicara dengan tenang dan mempertimbangkan bantuan tenaga profesional jika diperlukan.
Apabila anak menunjukkan tekanan emosional yang berat atau berbicara tentang keinginan menyakiti diri, orang tua perlu menanggapinya secara serius dan segera mencari bantuan profesional.
Menghapus Anggapan bahwa Anak Harus Selalu Kuat
Di tengah lingkungan yang sering menuntut anak untuk berprestasi, patuh, dan mampu menyesuaikan diri, perasaan mereka terkadang dianggap sebagai persoalan kecil yang akan hilang dengan sendirinya.
Padahal, anak juga sedang belajar memahami dunia yang tidak selalu mudah. Mereka menghadapi tuntutan sekolah, dinamika pertemanan, perubahan tubuh, hingga tekanan untuk memenuhi harapan orang-orang di sekitarnya.
Karena itu, mengajarkan anak menjadi tangguh tidak berarti meminta mereka menyembunyikan kesedihan atau menanggung semua masalah sendirian.
Ketangguhan juga dapat tumbuh ketika anak mengetahui bahwa dirinya boleh meminta bantuan, membicarakan kesulitan, dan mencari solusi bersama orang yang dipercaya.
Orang tua tidak harus selalu memiliki jawaban atas setiap persoalan. Terkadang, kehadiran yang konsisten dan kesediaan untuk mendengarkan sudah menjadi langkah awal yang berarti.
Apabila persoalan emosional anak berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, dukungan keluarga dapat dilengkapi dengan bantuan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang kompeten.
Kesehatan Mental Anak Dimulai dari Hubungan yang Mau Terus Diperbaiki
Membicarakan kesehatan mental anak seharusnya tidak hanya dilakukan ketika masalah sudah terlihat jelas. Perhatian perlu hadir dalam keseharian, melalui cara orang tua berkomunikasi, memberikan batasan, menghargai perasaan, dan menyelesaikan konflik.
Materi UNICEF Indonesia mengingatkan bahwa kesejahteraan emosional dan sosial anak merupakan bagian penting dari tumbuh kembang mereka. Pesan ini relevan untuk setiap keluarga, terlepas dari latar belakang sosial maupun kondisi ekonominya.
Pada akhirnya, rumah yang mendukung kesehatan mental bukanlah rumah tanpa pertengkaran, kesalahan, atau kesedihan. Rumah yang sehat adalah tempat anggota keluarga dapat belajar memahami perasaan, memperbaiki hubungan, dan mencari pertolongan ketika menghadapi kesulitan.
Maka, sebelum bertanya apakah anak sudah cukup kuat menghadapi dunia di luar rumah, ada baiknya orang tua bertanya kepada diri sendiri: apakah anak merasa cukup aman untuk menceritakan dunia yang sedang mereka hadapi?
Sebab, terkadang langkah awal menjaga kesehatan mental anak bukanlah memberikan nasihat panjang, melainkan menyediakan waktu, menahan diri untuk tidak menghakimi, dan benar-benar mendengarkan.
Sumber referensi: UNICEF Indonesia, Kesehatan Mental dan Kesejahteraan Hidup — https://www.unicef.org/indonesia/id/kampung-pengasuhan/kesehatan-mental



