OpiniJateng.com – Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi meminta seluruh sekolah memperketat pengawasan terhadap siswa untuk mencegah perundungan atau bullying terulang. Ia menegaskan bahwa setiap sekolah harus menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan.
Langkah ini menjadi perhatian serius setelah muncul kasus dugaan perundungan terhadap seorang siswa sekolah dasar di Kabupaten Pemalang. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah tidak ingin kejadian serupa kembali terjadi di wilayah lain.
Ahmad Luthfi Minta Sekolah Wujudkan Zero Bullying
Ahmad Luthfi meminta Dinas Pendidikan Jawa Tengah mengoptimalkan edukasi dan pengawasan di seluruh satuan pendidikan. Ia menekankan pentingnya upaya pencegahan agar siswa dapat belajar tanpa rasa takut terhadap ancaman maupun tindakan kekerasan.
Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga mendorong sekolah untuk memperkuat budaya saling menghormati di antara siswa. Langkah tersebut perlu melibatkan kepala sekolah, guru, tenaga kependidikan, serta orang tua agar pencegahan perundungan berjalan lebih efektif.
Guru Diminta Awasi Siswa Saat Istirahat hingga Pulang
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah Sadimin menjelaskan bahwa sekolah telah menjalankan gerakan sekolah ramah anak dan membentuk tim pencegahan serta penanganan kekerasan. Namun, pihaknya menilai sekolah masih perlu mengevaluasi dan memaksimalkan program tersebut.
Sadimin juga meminta guru meningkatkan pengawasan, terutama saat jam istirahat dan menjelang kepulangan siswa. Sekolah tidak cukup hanya mengandalkan kamera pengawas atau CCTV. Guru dan petugas piket perlu memantau langsung area sekolah serta memastikan siswa tetap mendapat pengawasan selama berada di lingkungan pendidikan.
Menurutnya, pengawasan yang konsisten dapat membantu sekolah mendeteksi potensi perundungan lebih awal. Dengan begitu, pihak sekolah bisa segera mengambil langkah sebelum situasi berkembang menjadi tindakan yang membahayakan siswa.
Pemprov Jateng Koordinasi Tangani Kasus di Pemalang
Pemprov Jawa Tengah turut memantau perkembangan kasus dugaan perundungan terhadap siswa sekolah dasar di Kabupaten Pemalang. Meski pemerintah kabupaten/kota memiliki kewenangan atas pendidikan SD dan SMP, pemerintah provinsi tetap menjalin koordinasi dengan dinas pendidikan setempat.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa pencegahan kekerasan membutuhkan kerja sama berbagai pihak. Sekolah perlu menyediakan saluran pengaduan yang aman, menindaklanjuti laporan siswa, serta memberikan pendampingan kepada anak yang mengalami perundungan.
Upaya menciptakan sekolah bebas bullying juga membutuhkan keberanian untuk melaporkan setiap bentuk kekerasan. Guru dan orang tua harus membangun komunikasi terbuka agar anak merasa aman ketika menceritakan masalah yang mereka alami.
Sekolah Aman Jadi Kunci Prestasi Siswa
Lingkungan belajar yang aman tidak hanya melindungi siswa dari kekerasan, tetapi juga mendukung perkembangan karakter dan prestasi mereka. Karena itu, komitmen mewujudkan zero bullying perlu berjalan melalui pengawasan nyata, edukasi berkelanjutan, dan penanganan laporan secara serius.
Pemprov Jawa Tengah berharap seluruh sekolah meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat program pencegahan perundungan. Dengan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah, siswa diharapkan dapat belajar dengan tenang tanpa takut mengalami intimidasi.
Sementara itu, kasus dugaan perundungan yang melibatkan siswa SD di Pemalang masih dalam penyelidikan kepolisian. Penanganan kasus tersebut perlu mengedepankan proses yang cermat sekaligus perlindungan terhadap anak-anak yang terlibat.


