18 April 2026 01:51

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 84

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Beberapa minggu terakhir ini, Iben jarang bertemu dan ngobrol dengan Lita.

Lita sekarang menjadi manusia sibuk.

Pukul tujuh pagi sudah harus berangkat ke perusahaan pengolah kayu.

Seharian acaranya juga sangat padat.

Selain mengurus perusahaan, ternyata banyak kegiatan lain yang menuntut waktu dan tenaganya.

Berbagai undangan rapat, meeting, briefing, gathering, sampai refreshing, bareng sesama pengusaha.

Mau tidak mau Lita juga harus masuk menjadi anggota perkumpulan atau asosiasi pengusaha.

Bahkan, baru saja bergabung, Lita sudah ditunjuk menjadi Bendahara Asosiasi Pengusaha Wanita.

Nama Theo, sebagai Wakil Ketua DPR RI, tetap saja memberikan posisi yang spesial untuk Lita di berbagai komunitas dan perkumpulan pengusaha.

Sudah biasa bila sekarang Lita sampai rumah sudah lewat waktu makan malam.

Seringkali Lita langsung masuk kamar tidur untuk istirahat karena capek.

Makan malam sudah di luar tadi bersama rekan-rekan bisnisnya.

Mbok Siti jadi sering di rumah sendiri.

BACA JUGA: 10 Ciri Istri Pembawa Rezeki untuk Suami, Kamu Harus Tahu

Pak Anwar menyopiri Lita.

Iben juga jadi ikut-ikutan jarang di rumah.

Berangkat pagi pulang sore.

Dan malam seringkali pergi lagi.

Bila ditanya, jawabnya pendek, pergi ke rumah teman.

“Ben, aku lihat akhir-akhir ini kamu cukup banyak berubah. Kamu lebih sering keluyuran di luar rumah daripada ngendon di dalam kamar ibumu. Mesti ada yang tidak beres di dalam rumahmu.” Suatu saat Dodit, sahabatnya, mencoba mengorek masalah yang sedang dihadapi Iben.

Iben diam beberapa saat.

Diangkatnya gelas minumnya.

Dia meneguk es jeruk di tangannya dengan bernafsu.

Seperti orang kehausan setelah lari marathon di siang hari yang terik.

Nafasnya terdengar sedikit memburu.

“Tak tahulah, Dit. Aku seperti tak bisa berpikir, saat ini. Rumah sepi kayak kuburan. Hanya ada Mbok Siti, yang lebih banyak sibuk di belakang. Lita dan Pak Anwar berangkat pagi pulang malam. Rumah kehilangan penghuni ibarat rumah tanpa jiwa. Rumah tanpa ruh. Rumah mati. Bagaimana aku bisa berlama-lama berada di dalam rumah yang mati?” Iben menelungkupkan kedua telapak tangan ke wajahnya yang menunduk dalam.

Dodit menghela nafas. Panjang.

BACA JUGA:Upin Ipin Kisah Nyata? Pantesan sampai Sekarang Masih Kecil, Ternyata…

“Aku ikut senang ketika kamu sudah bisa membangun komunikasi dengan Tante Lita. kamu terlihat lebih bergairah. Tante Lita mampu menjadi energi positif buatmu. Saat kau ajak dia ke perpustakaan dulu itu, aku bisa melihat kalian berdua mulai menemukan chemistry untuk membangun hubungan yang lebih baik.”

Dodit berhenti sebentar.

Dipandanginya Iben yang memalingkan wajah ke arah jalan di luar gedung.

“Tapi mengapa sekarang tiba-tiba hubungan itu memburuk lagi?”

Dodit menepuk pelan pundak sahabatnya.

Sekarang gantian Iben yang menghela nafas panjang.

BACA JUGA:Ayam Goreng ala Chef Devina Hermawan, Cuma Pakai 5 Bahan dan tanpa Ungkep

“Tidak ada yang salah antara aku dan Lita. Yang salah itu ayah. Ayah meminta Lita mengelola perusahaan kayu itu. Sekarang Lita tidak pernah berada di rumah. Sibuk ngurus perusahaan. Aku sudah beritahu Kak Ikang. Kak Ikang juga kaget. Kok malah Lita yang diminta mengurus perusahaan. Perusahaan itu kan sudah dianggap warisan untuk Kak Ikang. Jauh-jauh Kak Ikang belajar manajemen Bisnis ke Boston, Amerika Serikat, dengan harapan setelah lulus nanti, langsung memegang perusahaan itu.”

Iben berhenti sejenak.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version