18 April 2026 02:18

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 98

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

“Wah, sup ayam panas! Kayaknya seger juga untuk tubuhku yang lagi meriang ini.” jawab Iben menyambut ajakan Lita.

“Ya sudah. Cepet ke sini. Nanti habis makan, minum obat lagi. Terus tidur. Biar besok pagi bangun lebih segar badanmu.”

“Ya. Tunggu sebentar.”

Beberapa saat kemudian, bel pintu kamar Lita berdering.

BACA JUGA:Ketika Miskin Teman Menghindar, Itu Bagus Kata Gus Baha

Lita membuka pintu.

Iben sudah berdiri di luar pintu.

Hanya pakai celana komprang di bawah lutut dan kaos T-shirt harian yang biasa dipakai bila sedang di rumah.

Sedang Iben juga kelihatan kaget sejenak melihat Lita.

Lita hanya memakai daster batik yang juga biasa dipakai tidur bila sedang di rumah.

Daster sebatas lutut lengan pendek dengan kancing-kancing bulat di depan.

Rambutnya, seperti biasa, juga diikat ekor kuda.

Penampilan yang sangat biasa, bahkan sederhana.

Tapi di mata Iben, dalam bayangannya, dia seperti melihat Ipo, ibunya, di masa muda remajanya.

“Masuklah! Kok malah bengong di situ.” kata Lita lembut.

Iben melangkah masuk.

BACA JUGA:Malaikat Mendoakan Orang yang Duduk setelah Berjamaah

Duduk di ujung tempat tidur, persis menghadap televisi.

Lalu dia ganti saluran televisi lokal dengan saluran televisi kabel HBO, yang kebetulan sedang menayangkan film roman tahun 1980-an, Lady Chatterley’s Lover, cerita film yang dibuat berdasarkan novel karangan pengarang Inggris terkenal D.H. Lawrence.

Terdengar bel pintu berderik lagi.

Lita berjalan ke arah pintu.

Membuka pintu dan pelayan pembawa makanan pesanan sudah berdiri di depannya.

“Pesanan makan malam untuk Bu Lita.” kata pelayan itu.

“Ya, silakan masuk.” jawab Lita singkat.

Pelayan meletakkan nampan penuh makanan di meja kayu kecil di samping jendela.

Setelah menerima pembayaran dari Lita, pelayan itu langsung pamit keluar kamar.

“Ayo, makan dulu, Ben. Mumpung masih panas. Makan yang banyak, biar badanmu cepet sehat.”

BACA JUGA:Orang Tua Perlu Melek Pendidikan Literasi Digital

Lita mulai mengambil piring yang sudah ada nasi, lalu mengambil sup ayam dan mengucurinya dengan sedikit saus sambal.

Lalu menyerahkannya pada Iben.

Iben menerima piring itu, dan mengambil satu gelas air jeruk panas.

Setelah minum sedikit air jeruk, Iben mulai makan nasi sup ayamnya.

Sedang Lita sendiri juga langsung mengambil mangkuk berisi mi rebus dengan telur, yang mengepulkan asap.

Tanda mi itu masih panas.

BACA JUGA:Tanda-tanda Allah sedang Menghapus Dosa-dosamu, Salah Satunya Kamu Merasa Sedih

Setelah mengaduk-aduk sebentar mi dengan saus sambal, pelan-pelan Lita mulai mencicipinya.

“Hm, enak juga ya masakan restoran hotel ini. Mie rebusnya tak kalah dengan mie godognya Pak Gareng yang di Wotgandul itu.” Kata Lita mencoba memecah kebekuan.

“Iya, sup ayamnya juga lumayan enak. Rasa mericanya cukup tajam. Bikin tubuhku makin panas saja.” Iben menimpali.

“Nanti kan badanmu terus berkeringat. Itu bagus untuk mempercepat penyembuhan. Terus dipakai tidur selimutan yang rapat, biar keringat mengucur makin banyak. Kalau keringat banyak keluar, tubuhmu kan malah jadi dingin nanti. Besok bangun pagi, sudah segar sehat lagi.”

“Iya nih. Tubuhku mulai berkeringat. Hidung juga mulai meler. Hih..”

Iben mengambil tisu dan menyeka hidungnya yang mulai mengeluarkan ingus.

Efek makan sup ayam panas, cairan ingus di rongga hidung keluar semua.

Cairan ingus yang mandek di rongga hidung itu yang membuat kepala terasa berat dan pusing.

BACA JUGA:BP4 Jateng Gelar Raker Bersama Keluarga Berfungsi sebagai Lembaga Mediator dan Advokasi

“Ih, tapi ya jangan njijiki gitu dong ngeluarkan ingusnya.” sergah Lita yang tampaknya risih dengan gaya Iben mengelap ingus dari hidungnya.

“Kamu jijik dengan ingus ya? Nih, aku kasih, hehehe…” berkata begitu, Iben melemparkan tissue penuh ingus di tangannya ke pangkuan Lita.

“Ibennn….semprul kamu!” Lita mengibaskan tangannya pada tisu yang ada di pangkuannya.

Dia juga mengibas-ngibaskan dasternya untuk meyakinkan tissue sudah tidak berbekas di sana.

“Jangan buat aku kehilangan selera makan, ya!” katanya sambil matanya melotot pada Iben.

Iben hanya tertawa kecil.

Sambil tetap meneruskan makan sup ayamnya.

Nasi di piringnya sudah habis.

Sementara sup ayam di mangkok masih tersisa.

BACA JUGA:BP4 Jateng Mengusulkan agar Bimbingan Pranikah Diwajibkan

“Habiskan saja sekalian supnya. Biar cepet sehat.”

Lita berkata dengan nada setengah memerintah.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version