17 April 2026 23:15

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 99

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

“Gak ah, kayaknya perutku sudah gak mampu menampung. Ini saja aku sudah memaksakan diri untuk menghabiskannya.”

“Ya, sudah.” lalu Lita mengambil obat dari tasnya, diberikan pada Iben.

“Minum lagi obat flu ini. Semoga besok kamu pulih sehat lagi.”

Tanpa suara Iben menerima obat, lalu menyobek bungkusnya, dan langsung melempar obat ke dalam mulutnya.

BACA JUGA:Ketika Miskin Teman Menghindar, Itu Bagus Kata Gus Baha

Setelah itu, mendorong obat dengan minum air jeruk yang sudah berubah hangat.

Lita mendekati Iben.

Ternyata tubuh Iben banyak berkeringat.

Baju kaosnya sampai basah oleh keringat.

Lita menyentuh kening Iben dengan telapak tangannya.

“Nah, kamu sudah mulai berkeringat. Tubuhmu masih lumayan panas. Sudah sekarang kamu tiduran saja dulu di sini. Tutup tubuhmu dengan selimut. Biar semua keringat keluar dari tubuhmu.”

Lita lalu menyiapkan bantal dan selimut.

Tanpa berkata sepatah pun, Iben menuruti kemauan Lita.

Iben tiduran agak di pinggir tempat tidur.

Lalu Lita menyelimutinya sampai di pangkal leher.

Lita sendiri mengambil posisi di pinggir yang lain dari tempat tidur.

Dia berbaring dengan punggung bersandar pada kepala tempat tidur.

Lita masih mencoba menikmati film di kanal HBO.

Sedang Iben mulai memejamkan mata.

Mencoba menikmati sensasi membanjirnya keringat dari tubuh di bawah selimut.

Ketika Iben merasa panas punggungnya karena cukup lama terlentang, dia membalikkan badan ke kiri menghadap ke arah Lita.

Melihat Iben bergerak, Lita menengok, memandang wajah Iben.

“Mengapa? Masih pusing?” tanyanya.

Dan seperti otomatis, tangan Lita bergerak memegang dan lalu mengusap-usap kepala Iben.

Iben, yang dipegang kepalanya, hanya menggeleng pelan, malah memejamkan kembali matanya.

Seolah menikmati usapan tangan Lita.

Lita tidak melepaskan tangannya dari kepala Iben.

Sekarang malah memijit kepala, tengkuk, kening, dan sesekali menarik-narik pelan rambut Iben yang gondrong.

“Gimana? Terasa lebih enak, sekarang?” tanya Lita, lagi.

Lagi-lagi Iben tidak bersuara, hanya kepalanya mengangguk pelan.
Iben malah menggeser tubuhnya sedikit makin mendekati Lita.

Lita seperti paham akan keinginan Iben.

BACA JUGA: BP4 Jateng Mengusulkan agar Bimbingan Pranikah Diwajibkan

“Sini, lebih dekat ke aku. Kamu ingin dekat aku, kan?” berkata begitu, Lita menarik tubuh Iben makin dekat dengan tubuhnya.

Iben pun makin menggeser tubuhnya.

Kini sudah tak ada jarak di antara keduanya.

Lita masih dalam posisi dengan punggung bersandar di kepala tempat tidur.

Tangannya masih memijit kepala Iben.

Tiba-tiba Iben memerosotkan tubuhnya agak ke bawah.

Kepalanya berada tepat di samping perut Lita. Lita tidak bereaksi.

Tetapi, entah keberanian dari mana datangnya, Iben mengangkat kepala.

Wajahnya mendongak memandang Lita, dengan ekspresi tanpa dosa, kekanak-kanakan, lalu pelan-pelan meletakkan kepalanya ke atas perut Lita.

Kepalanya menghadap ke bawah, ke arah kaki Lita yang selonjor.

Dan tangannya pun ikut bergerak.

Tangan kanan menyelusup di balik punggung Lita, sedang tangan kiri memeluk pinggul.

Setelah itu, Iben diam.

BACA JUGA:Nur Khoirin: BP4 Harus Hadir di Setiap Kecamatan dan Desa, sebagai Bengkel Keluarga

Nafasnya pelan teratur.

Bahkan sebentar kemudian, terdengar dengkur halusnya.

Lamat-lamat Lita seperti mendengar mulut Iben mendesis, “Ibu….”

Lita merasa tubuhnya kaku.

Perutnya terasa cukup berat dibebani kepala Iben.

Dia hanya bisa menggerakkan kakinya yang selonjor.

Ada perasaan aneh berkecamuk dalam dirinya.

Saat ini tubuhnya sepenuhnya dalam pelukan Iben.

Tangan kanan memeluk melingkar di belakang tubuhnya.

Tangan kiri memeluk bagian depan pinggulnya.

Lita hanya memakai daster batik tipis.

Sentuhan wajah dan tangan Iben ke tubuhnya seolah terasa tanpa berbatas kain.

Hangat tubuh Iben dan hangat tubuhnya terasa menyatu.

Membuat aliran darahnya terasa meningkat.

Begitu pun dengan nafasnya, menjadi semakin cepat.

Bahkan sesekali, Lita terpaksa menarik nafas panjang untuk mengambil jeda mengatur nafasnya agar mengalir normal kembali.

Tangan Lita masih terus mengusap-usap kepala Iben.

Pikirannya menerawang mengembara, mencoba mencari jawab atas tanya, apa yang sedang terjadi malam ini?

Salahkah dia mengajak Iben pergi ke Banjarbaru?

Salahkah dia telah membiarkan anak ini sekarang tidur lelap di atas perutnya?

Lita sadar, selama ini Iben mau berdekatan dengannya setelah dia mencoba memerankan diri seperti Ipo, ibunya.

BACA JUGA: Bimbingan Pranikah Diwajibkan, Usul BP4 Jawa Tengah

Untuk menarik perhatian Iben, Lita menampilkan diri seperti Ipo.

Cara berpakaian, cara mengikat rambut, cara berperilaku, sampai mengikuti kebiasaan kegiatan harian Ipo.

Lita mengorek banyak cerita tentang Ipo dari Mbok Siti.

Lita banyak bertanya pada Mbok Siti, apakah yang dilakukannya sudah benar?

Sudah seperti atau paling tidak mendekati seperti Ipo?

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version