17 April 2026 21:34

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 101

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Untuk menyesuaikan dengan posisi Iben, Lita terpaksa ikut menurunkan posisi bersandarnya.

Kembali suasana kamar sunyi.

Hanya suara film televisi, meskipun tidak terlalu keras, terdengar memenuhi ruangan.

Mata Lita masih belum terpejam.

Lamunannya kembali mengembara.

Dia ingat Theo, suaminya.

Entah di mana dia sekarang.

Entah sedang berbuat apa, dengan siapa.

Lita tak ingin tahu dan tak ingin memikirkannya lagi. Yang masih terus mengganggu pikirannya, seperti apakah reaksi Theo nanti bila tahu hubungannya dengan Iben sekarang sedekat ini?

BACA JUGA:Malaikat Mendoakan Orang yang Duduk setelah Berjamaah

Apakah yang akan dilakukan Theo terhadap dirinya? Apakah yang akan terjadi dengan hubungan anak-bapak, Iben-Theo, bila suatu saat kedekatan hubungan ini terbuka di mata keduanya?

Tiba-tiba tubuh Lita menggigil.

Muncul kecemasan dalam dirinya.

Bagaimanapun, dia sadar sedang bermain api.

Risiko terbakar dan hangus selalu menyertai.

Lita menggeleng-gelengkan kepala.

Film televisi sudah berakhir.

Dia melihat jam di tembok.

Tepat jam dua belas malam.

Tangannya memencet tombol remote control televisi.

Televisi mati.

Lalu tangannya menjangkau saklar lampu di bawah meja di samping tempat tidur.

Lampu utama mati.

BACA JUGA:PTA Semarang akan Gelar Diklat Mediator Masalah Keluarga Bekerja Sama dengan BP4

Yang tinggal hanya lampu tidur yang nyala temaram.

Lita makin memelorotkan tubuhnya ke bawah, sampai kepalanya tepat di atas bantal.

Dengan begitu kepala Iben ikut bergeser naik, sekarang tepat di bawah buah dadanya.

Tangan Lita juga merengkuh memeluk tubuh Iben.

Matanya dipejamkan.

Antara sadar dan tidak, Lita merasa ada sesuatu yang mengelus-elus buah dadanya.

Seperti biasa, bila tidur Lita selalu melepas BH, membiarkan buah dadanya bebas tanpa halangan.

Dadanya berdesir, tangannya bergerak ingin tahu, apa yang mengelus-elus lembut buah dadanya.

Baru beberapa detik kemudian, yang dia tangkap ternyata tangan Iben.

BACA JUGA:BKKBN Gandeng BP4 Jateng Turunkan Kasus Stunting

Tangan itu, dengan lembut mengelus buah dadanya.

Dari atas ke bawah, dari bawah ke atas.

Tangan Lita menangkap tangan Iben.

Lalu, Lita membalikkan tubuhnya ke arah kanan.

Wajahnya persis berhadapan dengan wajah Iben.

Sementara tangan Iben dalam pegangan tangannya masih menempel di dadanya.

Mata Lita nanar menatap mata Iben.
Mata Iben setengah tertutup.

“Ben…” bisik Lita lirih.

“Emh…” Iben hanya melenguh pelan.

“Ben, bangun…” kembali Lita menggoyang tubuh Iben.

Mata Iben pelan terbuka.

Matanya bertemu lurus dengan mata Lita yang redup.

“Ben…” bisik Lita, lebih lirih.

“I..Ibu.. “ suara menggeragap keluar dari mulut Iben.

“Bukan ibu. Ini aku. Lita!” Lita menjawab agak keras.

“Lita…?” Iben seperti baru tersadar dengan apa yang terjadi.

“Ben, ya. Ini aku Lita,” kembali Lita menegaskan.

“Litaaa…” mata Iben terbuka lebih lebar.

Mata mereka beradu.

Cukup lama.

Nafas Lita memburu.

Keringat mulai menitik di keningnya.

Sedang Iben menurunkan pandangan matanya.

BACA JUGA:Angka Perceraian Tinggi, BP4 Jateng Adakan Edukasi Pernikahan

Matanya tertancap pada tangannya yang digenggam Lita, masih menempel di dada Lita yang kancing dasternya sudah terbuka.

Dengan jelas Iben melihat, walau dalam temaram lampu kamar, buah dada Lita yang penuh, kuning bersih memantulkan cahaya temaram lampu kamar.

Suasana hening.

Yang terdengar hanya dengus nafas Lita.

Dan entah siapa yang memulai, tiba-tiba saja mereka sudah saling berpagut bibir.

Lita mencium, menghisap, menggigit bibir dan sesekali lidah Iben dengan ganas.

BACA JUGA:Tantangan BP4 Jateng, Prof Ahmad Rofiq: Indonesia Nomor 2 Se-ASEAN Kasus Perkawinan Anak

Iben sampai megap-megap seperti ikan kehabisan air.

Lita seperti kuda binal yang terlepas dari kandang.

Lepas kendali.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version