17 April 2026 22:20

NU Jangan Mengandalkan Jumlah Jamaah, Ambil Peran Strategis dalam Tranformasi SDM

0
WhatsApp Image 2022-02-03 at 17.41.47 (1)

Wakil Ketua PWNU Jateng Dr Abdul Hakim dan Guru Besar Antropologi Undip Mudjahirin Thohir saat menjadi pembicara Diskusi Lakpesdam ‘’Transformasi Sumber Daya NU Menuju Abad Kedua’’ di kantor PWNU Jateng Jl Dr Cipto 180 Semarang

OPINIJATENG.COM – Guru Besar Antropologi Undip Prof. Dr. Mudjahirin Thohir mengingatkan, Nahdlatul Ulama (NU) jangan hanya bangga dan mengandalkan besarnya jumlah jamaah atau anggotanya.

“Sebagai Ormas Keagamaan, NU harus mampu menghadapi tantangan zaman yang penuh dengan permasalahan sosial. NU harus mampu mengurus jam’iyahnya (organisasi), jamaahnya dan umatnya. Gagasan dan konsep  Nahdlatul ulama dalam kehidupan beragama dengan fikrah, harakah dan amaliyahnya menjadikan NU mampu menerima pluralitas sekaligus memahami menentukan sikap dalam berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Dia mengatakan hal itu dalam disuksi Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) NU Jateng bertema ‘’Transformasi Sumber Daya NU Menuju Abad Kedua’’ di kantor PWNU Jateng Jl Dr Cipto 180 Semarang, kemarin.

BACA JUGATertibkan Truk ODOL, Kurangi Nyawa Melayang Korupsi Terkendali

Ketua Lakpesdam NU Jateng Muh Nuh menjelaskan, selain Prof Dr Mudjahirin, tampil sebagai pembicara Wakil Ketua PWNU Jateng Dr Abdul Hakim. Diskusi diselenggarakan dalam rangka Harlah Ke-96 NU.

Menurut Mudjahirin, untuk memiliki sumber data yang kuat terkait kebutuhan dan penguatan lembaga NU, Lakpesdam dituntut memperkuat riset, mampu bekerja sama dan berkolaborasi dengan pemerintah, dunia usaha dan dunia industri.

‘’Memasuki abad kedua, NU dituntut membangun budaya organisasi (jam’iyyah) yang lebih solid. Sebagai ormas terbesar di Indonesia, NU seharusnya tidak lagi sekadar mengandalkan kekuataannya sebagai komunitas budaya (jama’ah). Kebesaran jama’ah tanpa soliditas jam’iyyah hanya akan membuat NU semakin tidak relevan dalam pergolakan zaman,’’ kata Ketua Komisi Litbang MUI Jateng itu.

Menurutnya, peran NU oleh negara sangat diperlukan, sehingga dengan adanya transformasi sumber daya NU diberbagai bidang harapannya dapat mewujudkan kemandirian NU disegala bidang.

Wakil PWNU Jawa Tengah Dr Abdul Hakim menjelaskan, kehadiran NU harus semakin memiliki relevansi di tengah dunia yang tengah bergolak dan terus berubah dengan cepat. ‘’Untuk tetap memiliki relevansi, NU seharusnya mengambil peran-peran strategis dalam berbagai persoalan bangsa, negara dan bahkan dalam skala peradaban global. Dengan peran-peran strategis tersebut, NU akan memiliki pengaruh yang lebih besar dalam medan permainan yang lebih luas sehingga semakin memiliki daya tawar untuk mengajukan berbagai jalan keluar alternatif atas berbagai persoalan sosial,’’ kata Hakim.

BACA JUGA :DPR RI Buka Pintu Audiensi PB PGIN

Untuk mewujudkan cita-cita besar tersebut, para pengurus NU dituntut bekerja lebih keras dalam memperkokoh jam’iyyah. Salah satu pekerjaan besar yang perlu dilakukan adalah manajemen data sumberdaya NU.

NU menurut Dosen Unissula Semarang itu tidak akan mampu mewujudkan cita-cita besarnya dalam skala peradaban global jika tidak didukung oleh manajemen data yang kredibel atas sumber daya yang dimilikinya sendiri.

‘’Sudah menjadi rahasia umum dalam organisasi ini bahwa manajemen data terkait sumber daya yang dimiliki NU, baik sumber daya manusia maupun sumber daya fisik, keuangan dan informasi, masih lemah dan belum tergarap secara optimal. Keempat sumber daya organisasi tersebut harus dikelola dan dimanfaatkan semaksimal mungkin untuk mendukung perjuangan besar NU,’’ katanya.

Kekuatan utama NU yang tidak dimiliki oleh ormas keagamaan yang lain terletak pada wibawa atau kharisma langit yang dimiliki oleh para ulama khos yang memiliki keluasan ilmu agama dan kedalaman laku spiritual. Para ulama khos itu menurutnya SDM Syuriah NU di berbagai tingkatan.

‘’Manajemen SDM Syuriah NU perlu dilakukan untuk memastikan agar regenerasi ulama kharismatik tersebut terus berjalan dengan baik sehingga jangan sampai kita mengalami defisit ulama. Upaya-upaya regenerasi perlu dipikirkan secara serius di tengah kecenderungan menurunnya jumlah ulama kharismatik di kalangan NU. Selain itu, juga terdapat kecenderungan untuk menarik para ulama terlalu jauh ke dalam politik praktis dan kepentingan duniawi lainnya sehingga berakibat pada semakin memudarnya wibawa ilmu dan spiritual ulama,’’ katanya.***

 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version