18 April 2026 01:48

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 112

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Bagian 15
BENIH MULAI TUMBUH

Pagi ini, ketika Lita dan Theo sedang sarapan di ruang makan, terdengar suara deru mesin Vespa memasuki halaman rumah.

Seperti dikomando, Lita dan Theo berhenti makan.

Mereka saling pandang.

“Hm, makin lama Iben ini makin susah diurus ya. Pergi sore pulang pagi. Kelayapan ke mana saja dia semalaman?”

Theo menggerutu.

“Sudahlah, biarkan dia masuk dulu.” kata Lita.

Sebentar kemudian, pintu butulan garasi dan ruang dalam terbuka.

Iben masuk dengan berjalan setengah sempoyongan.

BACA JUGA:Love and Leashes, Film Korea Komedi Romantis Dewasa Seohyun dan Lee Jun-Young Genre Terbaru

Wajahnya kusut.

Rambut gondrongnya acak-acakan.

Matanya agak merah.

Theo masih duduk tenang di kursinya.

Melihat kondisi Iben yang tidak karu-karuan itu, tiba-tiba Lita bangkit dari kursinya.

Cepat menyongsong Iben yang sudah mau naik tangga ke lantai dua.

“Iben, tunggu!” suara Lita setengah berteriak.

Mendengar suara Lita, Iben menengok.

Matanya memandang tajam pada Lita.

“Ada apa?” katanya agak ketus.

“Dari mana saja kamu, semalaman?” tanya Lita.

Membalas tatapan tajam mata Iben.

“Apa urusanmu dengan aku? Layani saja suamimu dengan baik.” kata Iben dengan suara tinggi.

Dari mulutnya menguar bau alkohol yang cukup menyengat.

Lita tidak menjawab.

Dia melangkah maju beberapa langkah sampai berhadapan langsung dengan Iben.

Tiba-tiba, tangan Lita terayun keras, menampar pipi Iben.

Plaaakk!

BACA JUGA:Bisakah Takdir Berubah? Ini Penjelasannya

“Kamu mabuk ya? Kenapa tidak minum racun serangga sekalian? Hah….!”

suara Lita juga tak kalah tinggi.

Iben seperti kaget mendapat tamparan keras di pipinya.

Pipinya terasa pedih dan panas.

Tapi lebih pedih dan panas lagi hatinya.

Tapi Iben tidak berkata sepatah pun.

Dia hanya berdiri tegak diam membeku di tempatnya.

Melihat ribut-ribut antara Lita dan Iben, Theo mendatangi keduanya.

Dipandanginya Iben sambil tangannya bersedekap di dada.

“Hm, kamu sudah merasa dewasa sekarang ya. Sudah berani minum. Bahkan sampai mabuk.” kata Theo, masih dengan suara tenang.

Kalau dengan Lita, Iben banyak diam, bahkan saat ditampar sekali pun, berbeda dengan ketika ditegur Theo.

Wajahnya mendongak.

Berani menatap tajam wajah Theo.

“Ya. Aku sudah dewasa. Sudah bisa mengurus diriku sendiri. Aku bebas mau apa saja. Mau begadang semalaman kek, mau mabuk kek, mau tidur dengan pelacur, kek. Tak ada yang bisa melarangku.”

Iben berkata sambil mengepalkan kedua tangannya.

“Iben…! Lita sudah seperti kehilangan kontrol. Melangkah maju ke depan Iben lagi. Tapi tangannya keburu ditarik oleh Theo.

“Biarkan saja. Aku ingin lihat seberapa hebat anak bungsuku ini mengikuti cara hidupnya.” kata Theo, masih dengan suara dingin.

Tapi ekspresi wajahnya memperlihatkan kemarahan yang sangat.

“Boleh…boleh. Ayah boleh lihat, siapa yang akan jadi pemenang di akhir cerita keluarga kita, nanti. Kalau yang minum dan mabuk Kak Ikang, ayah diam saja.”

BACA JUGA:Ini Kata Ustadz Adi Hidayat: sedang Diuji Allah? Bersabarlah, hanya Kamu yang Mampu

“Kalau yang menghabiskan uang untuk kuliah di Amerika Kak Ikang, ayah justru mendukungnya.”

“Bahkan perusahaan pun ayah sudah siap wariskan ke Kak Ikang.”

“Sementara ayah tidak peduli dengan Kak Ibas. Hebatnya, Kak Ibas bisa mencari jalannya sendiri. Kak Ibas bisa menjadi seniman musik yang digandrungi anak muda seantero negeri ini.”

“Sekarang, aku baru mabuk saja, ayah sudah marah. Aku mabuk dengan duitku sendiri. Duitku juga bukan duit dari ayah. Duitku dari ibuku.”

“Kalaupun sekarang aku dapat duit dari perusahaan, itu adalah hakku.”

“Gajiku karena aku sudah menghabiskan waktu dan tenagaku. Dan ingat! Aku bekerja di situ karena diminta Kak Ikang. Perusahaan itu sudah ayah wariskan pada Kak Ikang. Jadi aku bekerja pada Kak Ikang. Bukan pada ayah.”

Iben bicara keras dengan berapi-api.

Matanya makin bertambah merah.

“Bagus.. bagus…kayaknya kamu sudah tamat membaca The Rebelnya Albert Camus. Sekarang kamu sudah merasa dewasa. Sudah siap jadi pemberontak.”

Kata Theo.

BACA JUGA:Perawat Harus Memiliki Payung Hukum Soal Khitan

“Sudah siap menghadapi ganasnya kehidupan. Bagus. Aku suka gayamu, Iben. Kamu benar-benar sudah siap jadi pemberontak. Jangan tanggung-tanggung. Jangan setengah-setengah. Mau mabuk, boleh, mau tidur dengan pelacur, boleh. Habiskan itu warisan uang tabungan ibumu.”

“Mau ikut-ikutan Ibas, boleh. Buktikan kalau dirimu juga sehebat Ibas. Aku bangga dengan Ibas. Dia itu tipe lelaki sejati. Mengapa aku memanjakan Ikang? Dialah yang paling penurut. Mau mendengar kata-kataku. Mau mengikuti keinginanku. Kamu paham sekarang?”

“Tapi tidak apa-apa. Aku bangga dengan Ibas. Aku pun akan bangga dengan kamu, kalau kamu juga mampu membuktikan dirimu sehebat Ibas. Keluarkan semua kebisaanmu.”

“Jadi lelaki jangan hanya jadi trouble maker, tapi jadilah problem solver.”

Theo lalu menggandeng tangan Lita melangkah meninggalkan Iben, yang masih berdiri kaku di tempatnya.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version