17 April 2026 22:03

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 120

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Bagian 16
LANGIT KELAM BERAWAN HITAM

Hari berganti hari.

Sudah dua minggu Theo tinggal di rumah.

Selesai Rapat Kerja Nasional tidak langsung balik lagi ke Jakarta.

Katanya, minggu depan memasuki masa reses, tidak ada jadwal acara sidang.

Saatnya bagi politisi untuk menyapa konstituennya di berbagai daerah pemilihannya.

Theo bilang, minggu ini akan istirahat total di rumah.

Rapat Kerja dan persiapannya menyita banyak waktu dan tenaganya.

Oleh karena itu, sebelum keliling ke kota-kota yang masuk daerah pemilihannya, Theo ingin istirahat dahulu.

Maka, kegiatan sehari-hari Theo lebih banyak di rumah.

BACA JUGA:Bulan Rajab Bulan Spesial untuk Beribadah

Baca koran, nonton televisi.

Atau kalau bosan di rumah, ikut Lita ke pengolahan kayu.

Lita sendiri tetap bersikap biasa.

Begitu juga dengan Theo.

Meskipun kesempatan bersama Lita lebih banyak, sikapnya juga biasa saja.

Dia bersikap mesra dan manja hanya saat-saat awal datang saja.

Setelah itu, kembali pada kebiasaannya.

Cuek.

Asyik pada dirinya sendiri.

Teleponnya tidak pernah berhenti berdering atau bertangtingtong.

Begitulah Theo.

Bahkan dengan Iben, walau satu rumah dan kadang bertemu, keduanya tidak saling menyapa.

Keduanya menjadi seperti orang asing.

Mereka sudah tidak pernah satu meja makan lagi.

Theo makan berdua dengan Lita.

Iben entah kapan makan sendiri.

Atau malah tidak makan di rumah.

Iben memang lebih banyak tidak berada di rumah.

Siang di kampus.

Malam begadang atau keluyuran dengan teman-temannya.

BACA JUGA: Warga NU Bersama TNI Siap Hadapi Teroris dan Radikalis

Ranselnya selalu penuh dengan pakaian untuk ganti.

Dia pulang ke rumah, kalau pakaian di dalam ransel sudah kotor semua.

Pulang hanya untuk mengganti pakaian kotor dengan yang bersih.

Yang kotor tinggal lempar ke keranjang cucian.

Mbok Siti yang mengurusnya.

Kalau pun tinggal sebentar di rumah, Iben lebih senang mengurung diri di dalam kamar.

Kamarnya sendiri maupun kamar ibunya.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version