18 April 2026 00:06

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 127

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Theo sibuk menerima para tamu khusus.

Dari Pemerintah Provinsi hadir mewakili Gubernur, Sekretaris Daerah, Boediyanto.

Dari Pemerintah Kota Semarang, hadir sendiri Walikota, Slamet Haryanto.

Begitu pula para Ketua DPRD Provinsi maupun DPRD Kota, semua hadir dalam waktu yang hampir bersamaan.

Lita ikut sibuk menemui dan mengajak ngobrol istri-istri para pejabat.

Lita tampil anggun dengan baju panjang terusan warna hijau muda, selaras dengan kulitnya yang kuning bersih.

BACA JUGA: Kantongi 100 Medali Emas, Maitsa Tambah Percaya Diri

Rambutnya disanggul sehingga lehernya yang jenjang tampak lebih tegas memberikan kesan seksi pada penampilannya.

Walaupun baru seminggu melahirkan, tapi tubuh Lita masih tetap membentuk lekukan yang mencuri perhatian.

Memang pinggangnya tidak terlalu ramping lagi.

Tapi dengan tinggi badan yang proporsional, apalagi ditunjang dengan sepatu high heel, Lita tetap terlihat mempesona.

Penampilan Lita yang muda, anggun, seksi, menjadi kontras dengan penampilan istri para pejabat.

Mereka rata-rata sudah setengah umur, badan mulai mekar, sehingga tak bisa lagi disebut seksi.

Mereka mengucapkan selamat sambil memeluk dan mencium mesra pipi Lita.

Tentu sambil memuji kecantikan dan kemolekan tubuh Lita.

Lita tampak bahagia malam ini.

Wajahnya selalu tersenyum.

Bahkan tertawa lebar bila mendapat peluk dan cium dari istri para pejabat itu.

Bayinya ditempatkan di dalam box kayu yang dihias indah.

Tampak Dewi, si bendahara cantik dari pengolahan kayu yang menjaga agar si bayi tidak rewel.

Hampir semua tamu yang hadir menengok ke dalam box.

Tangan mereka menyentuh pipi si bayi.

BACA JUGA:Akupuntur Alternatif Wajah jadi Glowing, Buktikan!

Dan komentar mereka selalu hampir sama.

“Ih, cakepnya,” atau, “Ih, gantengnya,” atau. “Ih, lucunya.”

Sambil menyentuh atau menowel pipi bayi, lanjutnya, “Persis seperti Mas Iben, ya?” Lalu ada pula yang menimpali, “Iya, seperti foto copy sama Mas Iben.”

Begitulah komentar para tamu yang sudah mengenal keluarga Theo, mengenal dengan baik ketiga anak lelakinya.

Dan komentar itu masih dibawa sebagai bahan obrolan di antara mereka ketika mereka sudah duduk di kursi sambil menikmati hidangan.

Seorang tamu yang kebetulan duduk satu meja dengan Iben pun, memberikan komentar yang sama, langsung di depan Iben.

“Wah, adiknya benar-benar duplikat Mas Iben. Wajahnya persis banget.” katanya.

Yang lain ikut menimpali.

Iben hanya tersenyum kecut.

BACA JUGA: Madrasah Harus menjadi Bagian Penguatan Moderasi Beragama

Namun, mendengarkan komentar-komentar para tamu itu, pikiran Iben menjadi kacau.

Dia gelisah di tempat duduknya.

Wajahnya pucat.

Tubuhnya berkeringat dingin.

Tingkahnya jadi serba salah.

Apalagi, ketika acara utama sudah dimulai, Iben tambah gelisah.

Dalam pandangannya, para tamu saling berbisik tentang kemiripan wajah si bayi dengan wajahnya.

Dia merasa, ada beberapa tamu yang mencuri-curi pandang meliriknya.

Iben merasa dirinya dengan si bayi sedang menjadi objek pembicaraan para tamu.

Untunglah.

Pembicaraan para tamu berhenti.

Sekarang pusat perhatian beralih ke Theo.

Theo bersama Lita tampil berdiri di depan para tamu undangan.

“Selamat malam, para tamu undangan yang mulia,”

BACA JUGA:Tertibkan Truk ODOL, Kurangi Nyawa Melayang Korupsi Terkendali

Theo lalu menyebut nama para tamu terhormat yang datang.

Dia mengawali dengan mengucapkan selamat datang, dan menyampaikan terima kasih atas kehadiran mereka.

“Malam ini, kami, saya dan Lita, sungguh merasa sangat bahagia. Untuk berbagi kebahagiaan itulah, kami mengundang ibu-ibu dan bapak-bapak semua ke rumah kami.”

“Malam ini bayi kami tepat satu minggu. Saatnya untuk memberi nama. Sebagai orang Jawa, leluhur kita sudah memberi contoh, bagaimana tata cara menyambut kelahiran sampai upacara puputan nanti. Malam ini, ibu-ibu dan bapak-bapak, menjadi saksi, saya memberi nama anak lelaki kami: Adi Pamungkas, dengan nama pendek panggilan Ipung.”

“Ini anak saya yang keempat. Dengan mendiang istri pertama, saya punya tiga anak lelaki. Ikang, Ibas, dan Iben. Nah, kehadiran Ipung ini menambah skuad anak lelaki kami menjadi empat. Kwartet Theo yunior.”

Theo bersemangat menyampaikan pidato.

Dasar politikus, pidato adalah “makanan” sehari-hari.

Para tamu undangan tepuk tangan meriah menyambut pidato Theo.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version