15 Juni 2026 17:50

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 134

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Berita tentang wanita muda menggendong bayi yang pingsan di pinggir jalan di dini hari, hujan lebat lagi, menjadi berita yang sangat menarik.

Maka, dari Kantor Polsek Gajahmungkur, para wartawan itu berangkat menuju rumah sakit.

Rumah Sakit Dr Kariadi, di jalan Dr Soetomo, tak pernah sepi.

Rumah Sakit terbesar di Jawa Tengah ini, menjadi pusat pelayanan kesehatan yang terlengkap fasilitas peralatan medisnya.

Seperti biasa, Instalasi Gawat Darurat, selalu sibuk melayani pasien yang datang dengan kasus sakit gawat yang perlu penanganan pelayanan cepat.

Para wartawan menemui petugas pelayanan informasi di Instalasi Gawat Darurat.

BACA JUGA:Ada Apa dengan Shalat Kita?

Mereka menanyakan kasus wanita muda menggendong bayi yang pingsan kehujanan dini hari tadi.

“Ya, betul. Ada kasus itu. Wanita muda menggendong bayi pingsan di pinggir jalan. Ditolong oleh petugas piket jaga rumah dinas Kapolda. Untung segera tertolong. Saat ini wanita muda dan bayinya sudah dalam penanganan Tim Medis. Terlambat sedikit saja, bayinya mungkin sudah tidak tertolong. Kondisinya sudah membiru karena kedinginan. Hipotermia.”

Petugas layanan informasi memberikan penjelasan rinci tentang keadaan wanita muda dan bayinya.

“Jadi wanita muda dan bayinya tertolong ya, pak? Apakah identitas keduanya sudah diketahui?” tanya wartawan.

“Alhamdulillah, keduanya tertolong. Sekarang dalam perawatan intensif. Masih belum boleh diganggu oleh siapapun.”

“Kami bersama pihak kepolisian sedang berusaha melacak identitas mereka.”

“Dalam satu dua hari, sepertinya kami sudah dapat petunjuk titik terang.”

“Untuk sementara, baru itu informasi yang dapat kami berikan kepada anda.”

Kembali petugas layanan informasi memberikan penjelasan lebih rinci.

“Baiklah, Pak. Terima kasih untuk penjelasannya. Kami menunggu perkembangan informasi selanjutnya.” sahut salah satu wartawan mewakili rekan-rekannya.

Wartawan bubar. Instalasi Gawat Darurat kembali sibuk seperti biasa.

***
Rumah megah itu tampak sepi. Pintu gerbang terbuat dari kayu setinggi satu setengah meter tertutup rapat.

Seperti tidak ada kehidupan di dalamnya.

Di pinggir jalan depan rumah, bertumpuk karangan bunga yang sudah rusak terkena siraman air hujan semalam.

Karangan bunga itu kini menjadi sampah bertumpuk teronggok, menggunung, seperti tak ada arti dan nilai sama sekali.

Padahal, berapa banyak uang habis untuk membeli karangan bunga itu?

Sesudah semua teronggok menjadi sampah, semua mubazir.

Semua sia-sia.

Dalam suasana jalan yang sepi, datang satu mobil bercat hitam kuning.

Mobil dinas polisi.

BACA JUGA:Kiai Darodji Imbau Umat Geser Rekening ke Syariah

Mobil itu berhenti tepat di depan pintu gerbang kayu.

Pintu mobil sebelah kiri terbuka.

Seorang perwira berseragam lengkap polisi turun.

Dia ternyata Kapolsek Gajah Mungkur.

Diikuti pintu sebelah kanan, sopir yang juga berseragam polisi, ikut turun.

Mereka berdua diam sebentar di depan pintu gerbang.

Menebarkan pandangan ke sekitar rumah.

Sepertinya mereka menyelidik mencari sesuatu di sekitar lingkungan rumah.

Lalu, Kapolsek menganggukkan kepala memberi isyarat.

BACA JUGA: Suka Duka Pengemudi Truk

Si sopir maju mendekati pintu gerbang dan memencet bel yang ada di pojok kanan atas pintu.

Terdengar suara tang ting tong bel berbunyi di dalam rumah.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version