Kawah Putih Bandung Selatan Butuh Perhatian, Prof Ahmad Rofiq: Infrastruktur Diutamakan
Kawah Putih adalah sebuah tempat wisata di Jawa Barat yang terletak di Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang terletak di kaki Gunung Patuha
OPINIJATENG.COM – Indonesia merupakan hamparan karunia Allah Tuhan Sang Pencipta yang luar biasa keindahan dan kekayaan alamnya.
Salah satu kekayaan alam itu adalah kawasan wisata Kawah Putih.
Kawah Putih merupakan danau yang berwarna putih dan airnya nampak hijau muda dan konon bisa berubah warna.
Alhamdulillah, setelah acara mbesan melaksanakan amanat untuk menyerahkan calon mempelai laki-laki Feriq Muhammad Darojat kepada orang tua calon mempelai perempuan Nanda Silvia Nur Dewi, dan walimahan di Bumi Samami Bandung, bersama anak-anak dan para cucu-cucu dan keluarga besar di Farmhouse dan Kawah Putih.
BACA JUGA:MUI Jateng-Kemenag Gelar Halaqah tentang Moderasi Beragama
Laman id.wikipedia.org merilis bahwa Kawah Putih adalah sebuah tempat wisata di Jawa Barat yang terletak di Desa Alam Endah, Kecamatan Rancabali, Kabupaten Bandung, Jawa Barat yang terletak di kaki Gunung Patuha.
Kawah putih merupakan sebuah danau yang terbentuk dari letusan Gunung Patuha.

Tanah yang bercampur belerang di sekitar kawah ini berwarna putih.
Warna air yang berada di kawah ini berwarna putih kehijauan.
Yang unik dari kawah ini adalah airnya kadang berubah warna.
BACA JUGA:Nyadong Berkah: Ribuan Alumni Ploso Berebut Salaman dengan Kiai Nurul Huda
Danau Kawah Putih sendiri berada pada ketinggian 2194 mdpl.
Luas total Danau Kawah Putih 25 ha, untuk wisata 5 ha, dan lokasi kawah sendiri seluas 3 ha.
Menurut id.wikipedia.org, bahwa kisah tentang Kawah Putih Ciwidey ini, berawal pada abad ke-10.
Konon terjadi sebuah letusan Gunung Patuha yang sangat hebat.
Pasca letusan terdapat kejadian aneh, yaitu sekelompok burung terbang melewati Kawah Putih didapati mati.
Karena hal ini, pada masa itu penduduk setempat menganggap bahwa kawasan tersebut merupakan kawasan yang angker.
Padahal boleh jadi itu karena asap belerang dalam kadar tinggi, sehingga menyebabkan burung-burung mati.
Cerita mitos pun berkembang.
BACA JUGA:Prof Ahmad Rofiq: Mengotori Kekuasaan dengan Berbuat Dzalim, di Akhirat Bisa Bergelar Al-Muflis
Berita keangkeran Gunung Patuha ini sampai ke telinga seorang cendikiawan Belanda, kelahiran Jerman, Friedrich Franz Wilhelm Junghuhn (26 Oktober 1809 – 24 April 1864).
Junghuhn adalah seorang naturalis, doktor, botanikus, geolog dan pengarang berkebangsaan Jerman (lalu Belanda).
Junghuhn berjasa sebagai peneliti pulau Jawa dari sudut pandang ilmu bumi, geologi, vulkanologi dan botanik dan juga daerah Batak di Sumatera.
Ia juga tercatat sebagai anggota Koninklijk Instituut voor de Tall-, Land-, en Volkekunde (KITLV) di Keresidenan Priangan.
BACA JUGA:Prof Dr S Martono Msi Calon Terkuat Rektor Unnes Periode 2022-2026
Dr Junghuhn saat itu tinggal di kawasan tanah Priangan untuk mengembangkan tanaman kina.
Sikap skeptis, dan karena itu ia mengajak beberapa penduduk setempat pada tahun 1837 melawan mitos yang membuat orang enggan mendaki Gunung Patuha.
Ia menemukan alasan mengapa burung-burung enggan melintasi Gunung Patuha.
Kawah yang terdapat di puncak gunung menguarkan aroma belerang yang menyengat sehingga binatang pun menghindarinya.
Selepas penemuan itu, pabrik belerang bernama Zwavel Ontgining Kawah Putih dibangun.
Pabrik itu dibangun saat masa kolonial Belanda.
Saat Indonesia dijajah Jepang, pabrik itu tetap dikelola dan berganti nama jadi Kawah Putih Kenzaka Gokoya Ciwidey.
Meski keberadaannya sudah diketahui sangat lama, masyarakat Indonesia, menurut catatan id.wikipedia.org, baru menjadikan tempat ini sebagai lokasi wisata pada tahun 1987.
Saat itu, Pemerintah Orde Baru melalui PT Perhutani (Persero) Unit III Jawa Barat dan Banten menjadikan Kawah Putih sebagai lokasi wisata.
Perjalanan dari Kawasan Farmhouse jam 13.00-an ke destinasi wisata Kawah Putih membutuhkan waktu cukup lama, apalagi di saat longweekend, pukul 17.00 WIB baru sampai.
Itupun kabut tebal sudah turun, sehingga saat mendekat di Kawah Putih ingin mengambil gambar, sudah tertutup kabut.
Ini selain jalan yang relatif sempit, berkelok, dan terlebih lagi setelah memasuki portal dan membayar tiket plus parkirnya saja untuk ukuran mobil Toyota Hiace mencapai Rp 162.000 ternyata fasilitas jalan naik sejauh kurang lebih lima kilometer ke puncak Kawah Putih, jalannya rusak parah.
Sudah barang tentu, ini membuat tidak nyaman pengendara dan wisatawan yang ingin menuju Kawasan wisata yang paling banyak diminati masyarakat.
Sementara untuk pelancong rombongan besar dengan bus, maka disediakan angkutan-khusus semi-tebuka, yang agak aneh, karena meskipun jalanan rusak, mereka tetap ngebut, seolah tidak membawa penumpang saja.
Ngeri-ngeri sedap.
BACA JUGA:Nakal Belum Tentu Kriminal, Resensi Novel Ketapel Karya Wardjito Soeharso
Semoga para pejabat pemangku kepentingan yang mengelola Kawasan wisata alam Kawah Putih di Kabupaten Bandung Jawa Barat, dapat membaca tulisan ini, dan segera menindaklanjuti dengan melakukan pengaspalan jalan supaya menjadi lebih bagus, dan membuat para wisatawan merasa nyaman.
Pengelolaan para pedagang di Kawasan parkir sudah cukup nyaman, akan tetapi sebenarnya potensi ekonominya belum ditata secara profit-oriented dan bersih.
Misalnya dibuatkan, semacam deretan toko yang rapi dan desain yang indah.
Tentu dengan penyediaan tempat buang sampah yang sangat memadai, sehingga tampak asri, indah, dan sekaligus menghasilkan pundi-pundi uang, guna menambah PAD atau retribusi bagi negara.
Jalan menuju Kawah Putih sangat membutuhkan perhatian dan tindakan nyata.
Kegiatan wisata yang merupakan bagian dari perintah ajaran agama, untuk bertadabbur tentang tanda-tanda kekuasaan Allah, adalah untuk merenungi tentang ke-Maha-Besaran Allah Sang Pencipta Alam Raya ini.
BACA JUGA:Kelas Sosial dalam Zakat
Tadabbur atau perenungan seseorang hamba, tentu dimaksudkan untuk memberikan penyadaran dan pencerahan seorang hamba, agar terus mensyukuri karunia dan kenikmatan yang telah Allah limpahkan kepada kita.
Saudaraku, jika Anda melakukan perjalanan ke Bandung Jawa Barat, disarankan singgah di Kawah Putih.
Selamat berwisata dan bertadabbur.
*)Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA. Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana dan FSH UIN Walisongo Semarang, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat IAEI Pusat.***