17 April 2026 17:32

Wuquf di Arafah untuk Mengenali Diri Sendiri

0
WhatsApp Image 2022-07-03 at 11.16.44

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar dan Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, dan Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, dan Ketua Rombongan 1 Kloter 16/SOC.

Oleh Ahmad Rofiq

Haji adalah wuquf di Arafah, karena wuquf merupakan ibadah puncak ibadah haji. Arafah adalah tanggal 9 Dzul Hijjah, bulan ke-12 dan terakhir dalam penanggalan Islam. Dalam Riwayat Ibn Hibban dan Al-Hakim, Riwayat Abdurrahman bin Ya’mar ad-Daily, bahwa “seseorang dari Ahli Najd datang kepada Rasulullah saw, beliau di Arafah, mereka bertanya, maka beliau memerintahkan orang yang memanggil, dan beliau memanggil: “Hajji adalah Arafah”. At-Tirmidzi mengatakan: “Barangsiapa tidak wuquf di Arafah sebelum terbit fajar maka lewatlah hajinya. Dan tidak mencukupinya apabila ia datang setelah terbit matahari, dan (wuqufnya) bermakna umrah, dan baginya wajib haji (lagi)”. Rasulullah saw bersabda: “Haji adalah (wuquf di) ‘Arafah” (Riwayat Ahmad dalam Musnad, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasai, dan Ibnu Majah dalam Al-Sunan).

Imam Waki’ mengatakan, wuquf adalah induknya manasik haji (ummu l-manasik). Syeikh ‘Izzuddin bin Abdissalam menegaskan “penentuannya. Didapatkannya haji adalah wuquf di Arafah. Imam Al-Qari menjelaskan, bahwa bagian terbesar rukun haji adalah wuquf di Arafah. Seseorang yang tidak bisa wuquf di Arafah, maka hajinya juga akan tidak didapat”. Karena itu, jamaah haji musti mempersiapkan diri sebaik-baiknya.

Jamaah haji akan diberangkatkan ke Arafah, pada 8 Dzulhijjah siang hingga malam hari sesuai dengan giliran undian dari Maktab, agar bisa sampai di Arafah sebelum fajar 9 Dzulhijjah. Bus yang mengevakuasi jamaah dalam satu maktab, dibatasi hanya 21 bus, untuk menghindari kemacetan (zahmah).

BACA JUGAMenjual Kulit dan Kepala Hewan Kurban Hukumnya Haram, Ini Pendapat Ulama

Tanah arafah adalah tanah yang menjadi impian berjuta-juta umat Islam di seluruh dunia. Padang Arafah, yang dulu tandus sudah berubah hijau dengan rerimbunan pepohonan. Tempat yang menjadi puncak pelaksanaan ibadah haji. Tempat di mana setiap doa dan permohonan hamba-Nya akan dikabulkan oleh Allah SWT. Siapapun hamba, baik yang berlumuran atau bergelimang dosa, akan diterima taubatnya, karena Allah menjanjikan membersihkan dan mensucikan hamba-hamba-Nya, jika melakukan taubatan nashuha.

Dari Padang Arafah ini, Allah ‘Azza wa Jalla, akan membanggakan hamba-hamba-Nya di hadapan para malaikat yang dahulu memprotes penciptaan dan penugasan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi, karena sering berbuat kerusakan dan kesalahan. Kepada para Malaikat, Allah ‘menegaskan: “Hamba-hamba-Ku datang kepada-Ku dengan rambut kusut masai dari setiap sudut negeri yang jauh. Wahai hamba-hamba-Ku, berpencarlah kalian dari Arafah dengan (membawa) ampunan-Ku atas kalian semua”.  Rasulullah saw juga menegaskan: “Tiada hari yang Allah lebih banyak membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka (melebihi) di hari Arafah ini” (Riwayat Muslim dari ‘Aisyah ra).

Wuquf untuk Mengenali Diri Sendiri

Manusia sebagai hamba Allah, nyaris tidak mampu menghindari dosa dan kesalahan dalam perilakunya sehari-hari. Wuquf di Arafah inilah, momentum untuk bermuhasabah dan menengok siapa diri kita ini yang sebenarnya. Kita hanyalah seonggokan tulang berbalut daging yang terus menerus berusaha membungkus aib dan perilaku maksiat di sepanjang masa yang telah kita lewati. Tidak perlu jauh-jauh kita membayangkan, sekedar membaca surat Al-Fatihah saja, rasanya kita belum fashih. Jangankan mengamalkan isinya. Mengerjakan shalat, hanya di sisa-sisa waktu, di tengah rutinitas kesibukan kita sehari-hari. Itupun sering tidak bisa khusyu’. Membaca al-Qur’an pun, boleh jadi hanya di ujung lidah, dan tidak sanggup memahami makna dan pesan-pesannya dengan baik dan utuh, apalagi mengamalkan seluruh isinya. Berdzikir kepada Allah, lebih sebagai ritual dengan mempertontonkan betapa besar dan panjang untaian biji tasbih, alunan suara tekanan tasbih atau tasbih digital, bahkan sujud pun, rasanya dahi belum benar-benar menempel di sajadah. Tetapi mengapa Allah telah memberikan penghormatan sedemikian besar, para jamaah dihadirkan di padang Arafah, untuk menerima jamuan dan siraman embun maghfirah yang meneduhkan dan menyejukkan hati?

BACA JUGAKajian Kitab Kuning Optimalkan Dakwah Wasathiyah melalui Radio

Allah menciptakan jin dan manusia, tujuannya hanyalah untuk beribadah kepada-Nya. Supaya manusia dapat beribadah, maka manusia harus mengenali dirinya. Dari apa diciptakan, untuk apa manusia diberi hidup, apa tujuan hidup di dunia yang pendek ini. Leluhur kita menyebut laksana mampir ngombe (minum). Rasulullah saw mengingatkan: “Man ‘arafa nafsahu ‘arafa Rabbahu” artinya “barangsiapa mengenal dirinya maka berarti dia mengenal Tuhannya”. Sekiranya manusia mengenali dirinya secara hakiki, makai a tidak akan melihat dirinya, kecuali banyak kelemahan, ketidakmampuan, dan kebutuhan, dan ia mengenal bahwa Allah SWT adalah Dzat yang sempurna dengan kekayaan, kesempurnaan pengetahuan, kesempurnaan hikmah (wisdom), dan Allah Tabaraka wa Ta’ala, tidak ada yang bisa menghalangi apa yang Dia berikan, tidak ada yang mampu memberikan, apa yang Dia halangi, maka berfikir dan bertafakkur dalam urusan ini, merupakan suatu kewajibanm agar kita mampu menambah iman dan taqwa kita kepada-Nya.

Selamat menanti saat-saat puncak ibadah haji yang paling khidmat, Wuquf di Arafah, mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya saudaraku yang terpilih menjadi tamu Allah di Padang Arafah nanti, dan itulah momentum yang sangat berharga, mahal, jamuan sebagai tamu Allah, yang menjadi modal kita dibanggakan oleh Allah di hadapan para Malaikat.

Allahumma ij’alhu hajjan mabruran wa sa’yan masykuran wa dzanban maghfuran wa ‘amalan shalihan maqbulan wa tijaratan lan tabura. Allah a’lam bi sh-shawab.***

Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar dan Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, dan Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, dan Ketua Rombongan 1 Kloter 16/SOC.

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version