17 April 2026 22:03

Inflasi dan Rencana Kenaikan Harga BBM Bersubsidi – 2 (besambung)

0
WhatsApp Image 2022-09-02 at 09.49.53

Pengaruh kebijakan kenaikan harga BBM tahun 2005 terhadap inflasi tahunan saat itu

OPINIJATENG.COM – Keputusan kapan menaikkan dan berapa besaran kenaikan yang akan diberlakukan, presiden memerintahkan dan menunggu hasil perhitungan yang cermat oleh para pembantunya dengan memperhatikan segala aspeknya.

Salah satu sebagai pertimbangan dalam memutuskan adalah seberapa besar dampaknya terhadap besaran inflasi yang akan terjadi.

Menurut Tri Karjono, diketahui bahwa BBM merupakan komoditas administered price yang secara langsung mempunyai andil yang cukup tinggi terhadap fluktuasi besaran inflasi, karena begitu tingginya bagian biaya yang harus dikeluarkan masyarakat dari seluruh kebutuhannya. Belum lagi dampaknya secara berantai sehingga mengakibatkan kenaikan pada komoditas lain.

Inflasi dan Rencana Kenaikan Harga BBM Bersubsidi – 1 (bersambung)

Pengalaman memperlihatkan bahwa ketika terjadi kenaikan harga BBM pada tahun 2005 utamanya premium saat itu sebesar 87,5 persen dan solar sebesar 104,8 persen mampu mendongkrak inflasi tahunan (yoy) sebesar 2,67 kali lipat dari tahun sebelumnya.

Dimana inflasi tahunan tahun sebelumnya sebesar 6,40 persen naik cukup tinggi menjadi 17,11 persen pada tahun 2005.

Bahkan dampaknya terhadap persentase penduduk miskin saat itu meningkat 1,78 persen dari 15,97 menjadi 17,75 persen.  Walau pada kenaikan BBM setelahnya yaitu pada Juni 2013 dan November 2014 tidak menunjukkan dampak secara signifikan terhadap inflasi.

“Tentunya ini karena disamping kenaikan yang terjadi tidak se-ekstrim tahun 2005, juga pemerintah telah belajar dari kondisi kenaikan harga BBM sebelumnya tersebut dengan menyiapkan berbagai program untuk meredamnya,” jelasnya.

Disisi lain keputusan pemerintah untuk seakan mengulur waktu penetapan dengan alasan harus mengkalkulasi secara cermat dan mempertimbangkan seminimal mungkin dampak yang terjadi justru berpotensi menimbulkan spekulasi di masyarakat.

Dengan begitu para pelaku ekonomi akan berhati-hati untuk melepaskan barang dengan harga normal atau mengambil keuntungan dengan cara menunda melepaskan barang ke pasar. Alhasil kenaikan beberapa harga berpotensi memicu inflasi.

 

“Namun spekulasi yang mungkin terjadi itu sepertinya telah diantisipasi oleh pemerintah secara matang jauh-jauh hari,” ungkapnya lagi.

Siagakan Ratusan Personil, Polisi Siap Kawal Suporter Laga Persis Vs PSIS di Manahan

Tersedianya komoditas yang cukup dipasar dan intervensi kebijakan menurunkan harga beberapa komoditas, terutama kebutuhan pokok yang diperkirakan mampu memicu naiknya inflasi bulan Agustus yang secara tahunan telah menembus angka 4,69 persen pada bulan sebelumnya cukup ampuh.

Terbukti rilis BPS pada 1 September 2022 menunjukkan perkembangan indeks harga konsumen bulan Agustus 2022 mengalami penurunan atau deflasi sebesar 0,21 persen. Dari 90 kota SBH se Indonesia, 79 kota diantaranya terjadi deflasi, termasuk seluruh 6 kota di Jawa Tengah dan hanya 11 kota yang mengalami inflasi. Deflasi dipicu penurunan harga yang terjadi pada kelompok makanan, minuman dan tembakau yang cukup tinggi yaitu 0,48 persen.

Beberapa komoditas seperti bawang merah, cabe dan minyak goreng yang beberapa bulan sebelumnya mengalami kenaikan dan sempat menimbulkan kegaduhan berhasil turun harga cukup signifikan oleh campur tangan pemerintah.

Sedangkan telur ayam yang terlihat belum mampu terkendalikan dengan baik. Deflasi yang terjadi pada bulan Agustus ini sedikit mampu menurunkan kumulatif inflasi tahun 2022 ini menjadi 3,63 persen dari sebelumnya yang telah mencapai 3,85 persen.

Demikian informasi tentang Inflasi dan Rencana Kenaikan Harga BBM Bersubsidi – 2 (besambung).***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version