17 April 2026 16:15

Peringatan HSN 2022 dan Hari Pahlawan 10 November, MAJT Semarang Doakan Kiai Abbas Buntet Cirebon atas Jasa Perjuangannya

0
WhatsApp Image 2022-10-17 at 11.28.19

Rombongan Mujahadah HSN 2022 MAJT Semarang yang dikoordinatori Dr KH Nur Khoirin YD didampingi didampingi Panitia Bidang Mujahadah HSN 2022 MAJT Semarang Drs H Eman Sulaeman MH dan Ketua Panitia HSN 2022 MAJT Semarang H Isdiyanto SIP berdoa di Makam Kiai Abbas di kompleks Mahbaroh Gajah Ngambung, Buntet Pesantren, Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, Sabtu 15 Oktober 2022.

OPINIJATENG.COM – Peringatan HSN 2022 dan hari Pahlawan 10 November merupakan momentum yang sangat berkesan.

Pengurus Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Sabtu 15 Oktober berziarah ke makam Kiai Abbas Buntet Cirebon Jabar sebagai bentuk terimaksih atas perjuangan yang telah dilakukan beliau.

Perjuangannya melawan penjajah dan keteladanan sebagai ulama patut diberi apresiasi.

BACA JUGA: Rakornas Persiapan Sensus Pertanian 2023, Siap Menjawab Kebutuhan Data Pertanian yang Berkualitas

Ada beberapa alasan mengapa memilih Kiai Abbas Buntet sebagai ulama dan pahlawan yang dikunjungi.

Pertama, ziarah ke makam waliyullah adalah menjadi salah satu rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) MAJT Semarang 2022 jatuh pada 22 Oktober.

Kedua, hanya selang 20 hari dari Peringatan HSN adalah tanggal 10 November 2022.

Kita tahu, 10 November adalah Hari Pahlawan, dimana tiap tahun selalu diperingati untuk mengingat peristiwa heroik pertempuran di Surabaya pada 1945.

Peristiwa tersebut diawali insiden perobekan Bendera Merah Putih Biru di atas Hotel Yamato pada 19 September 1945.

Meski Presiden Soekarno memerintahkan untuk gencatan senjata pada 29 Oktober 1945, namun pertempuran kembali pecah pada 30 Oktober 1945.

Saat itu rakyat Surabaya bersama para pejuang termasuk para ulama dan santrinya dari Jatim, Jabar, Jateng, dan Madura, bertempur melawan tentara Inggris (pasukan sekutu) yang berjumlah sekitar 15.000 orang.

Sekitar 6000 rakyat Indonesia pun gugur dalam pertempuran yang berlangsung selama 3 minggu di Surabaya itu.

Pertempuran Surabaya pada 10 November 1945 itu pun ditetapkan sebagai Hari Pahlawan melalui Keppres Nomor 316 tahun 1959 pada 16 Desember 1959.

Pada awal September 1945, tentara Inggris mendarat di Jakarta dan mereka berada di Surabaya pada 25 September 1945.

Tentara Inggris tergabung dalam AFNEI (Allied Forces Netherlands East Indies) datang bersama (diboncengi) tentara NICA (Netherlands Indies Civil Administration) atau tentara penjajah Belanda.

Tugas mereka adalah melucuti tentara Jepang dan memulangkan mereka ke negaranya, membebaskan tawanan perang yang ditahan oleh Jepang, sekaligus mengembalikan Indonesia kepada pemerintahan Belanda sebagai negara jajahan.

Hal ini memicu kemarahan warga Surabaya, mereka menganggap Belanda menghina kemerdekaan Indonesia dan melecehkan bendera Merah Putih.

Lalu apa kaitannya dengan Kiai Abbas Buntet?

Ya, Kiai Abbas Buntet yang bernama lengkap KH Abdullah Abbas adalah seorang ulama besar di Jawa Barat.

Kiai Abbas adalah pengasuh Pesantren Buntet di Desa Mertapada Kulon, Astanajapura, Cirebon, Jawa Barat.

Kiai Abbas adalah panglima perang dalam Peristiwa Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

BACA JUGAMTQN dan Resonansi Positifnya?

Di awal masa kemerdekaan RI, Kiai Abbas juga pernah menjabat Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU).

Menurut Panitia Bidang Mujahadah HSN 2022 MAJT Semarang, Drs H Eman Sulaeman MH atau akrab disapa Kiai Eman, ziarah ke makam Kiai Abbas Buntet merupakan rangkaian peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2022.

Ya, kedatangan rombongan yang dipimpin Koordinator Mujahadah HSN 2022 MAJT Semarang Dr KH Nur Khoirin YD, didampingi Drs H Eman Sulaeman MH, dan Ketua Panitia HSN 2022 MAJT Semarang H Isdiyanto SIP, disambut hangat oleh KH Muhammad Yahya Abdulah Lc MA, salah satu Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Nadwatul Umah Buntet Pesantren Cirebon.

Kiai Eman Sulaeman menyatakan terima kasih atas sambutan Gus Yahya dan para santri di lingkungan Buntet pesantren.

“Semoga ke depan ada jalinan silaturahmi dan kerjasama antara Buntet Pesantren dan MAJT Semarang,” ujar Eman Sulaeman.

Gus Yahya mengatakan, jumlah santri di lingkungan Buntet sekitar 17.000 dari 68 pondok pesantren.

Semua ponpes Buntet berada di bawah naungan satu yayasan, yakni Yayasan Lembaga Pendidikan Islam (YLPI) Buntet Pesantren dan semuanya masih ada keterkaitan keluarga.

Makam Kiai Abbas yang berlokasi di kompleks Mahbaroh Gajah Ngambung, Buntet Pesantren, Desa Mertapada Kulon, Kecamatan Astanajapura, Kabupaten Cirebon, selain sering dikunjungi para alumni Buntet Pesantren, juga banyak dari kalangan pejabat.

Bahkan para tamu nonmuslim pun juga banyak yang berkunjung ke makam Mbah Yai Abbas Buntet tersebut.

“Para pejabat negara mulai dari RI 1 dan di bawahnya sering berziarah ke makam Mbah Yai Abbas. Bahkan ada mitos jika ada perhelatan, terutama menjelang Pilpres kalau ingin jadi (terpilih) ya berziarah ke makam Mbah Abbas. Sehingga semua yang mencalonkan diri menjadi pejabat publik, rerat berziarah ke situ. Meskipun nantinya yang jadi hanya satu (untuk perhelatan Pilpres, Pilgub, Pilwakot, Pilbup, hingga Pilkades,” ujar Gus Yahya.

Menurut Gus Yahya, sejumlah kiai Buntet Pesantren Cirebon memiliki nashab hingga Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Salah satunya KH Abbas atau yang lebih dikenal Kiai Abbas Buntet.

Kiai Abbas Buntet merupakan salah satu cucu dari Sunan Gunung Jati yang dikenal dengan keramatnya yang sangat populer, terutama kalangan Nahdliyyin.

Kiai Abbas Buntet dipercaya Kiai Hasyim Asy’ari untuk memimpin perang revolusi 10 November 1945, yang selanjutnya setiap 10 November diperingati sebagai Hari Pahlawan Nasional.

Berawal dari seruan KH Hasyim Asyari, pendiri Nahdlatul Ulama yang menyatakan perang melawan penjajah yang tergabung dalam pasukan NICA atau sekutu yang hendak mencengkeram kedaulatan NKRI.

Menurut Kiai Hasyim, cinta Tanah Air adalah bagian daripada iman.

Kemudian lahirlah fatwa Resolusi Jihad pada 22 Oktober 1945 untuk mempertahankan Tanah Air.

Resolusi Jihad yang diserukan KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945 membakar semangat para arek-arek Suroboyo dan seluruh warga untuk mempertahankan kedaulatan NKRI.

Karena baru saja diproklamasikan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945.

Arek-arek Suroboyo yang tidak sabar untuk segera berperang melawan sekutu, ditahan oleh KH Hasyim Asyari.

Kakek Gus Dur itu memberi maklumat, untuk tidak segera melakukan serangan sebelum datangnya Kiai Abbas dan para kiai dari Cirebon.

Setelah selesai berziarah di makam Kiai Abbas Buntet Cirebon, rombongan ulama dan pengurus MAJT melanjutkan perjalanan ke Kelurahan Sugihwaras Pemalang untuk melakukan ziarah ke makam Syekh Maulana Syamsudin. Doa dan tahlil dipimpin oleh KH Amdjat Al Hafidz.

Ketua Panitia HSN MAJT, H Isdiyanto SIP mengatakan, rangkaian kegiatan dalam rangka memeriahkan Hari Santri Nasional diawali dengan Seminar Pemberdayaan Santri di Era Digital di TVKU Udinus, kemudian ziarah ke makam Kiai Abbas Buntet Cirebon dan Syekh Maulana Syamsudin di Pemalang.

BACA JUGASambut HSN 2022, MAJT Gelar Seminar Nasional Bertema Pemberdayaan Santri di Era Digital

MAJT Semarang juga akan menggelar pengajian akbar pada Jumat 21 Oktober 2022, dengan menghadirkan pembicara Wakil Ketua PBNU, Kiai Zulfa Musthofa.

Sedangkan acara puncak HSN akan digelar upacara HSN di halaman depan MAJT pada 22 Oktober 2022 nanti dengan irup Ketua PP MAJT Prof Dr KH Noor Ahmad MA.

“Pada puncak HSN 2022 ini akan digelar upacara dengan melibatkan peserta sekitar 700 orang, terdiri atas kalangan santri, para ulama, pejabat Forkompimda Jateng, dan seluruh karyawan MAJT Semarang,” tutur Isdiyanto.

Demikian informasi tentang Peringatan HSN 2022 dan Hari Pahlawan 10 November,  MAJT Semarang doakan Kiai Abbas Buntet Cirebon atas jasa perjuangannya.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version