Pelajaran dari Cabang Karya Ilmiah Alquran MTQN Korpri Padang, Prof Ahmad Rofiq: Goalnya Ini…

Dalam MTQN ke-6 Korpri di Padang 6-13 November 2022, Prof Ahmad Rofiq (dua dari kanan) mendapat amanat sebagai Ketua Majelis Cabang Menulis Karya Ilmiah Alquran, yang diikuti oleh 37 peserta laki-laki dan 27 peserta perempuan.
Oleh: Ahmad Rofiq
OPINI JATENG – Musabaqah Tilawatil Quran Nasional ke-6 Korpri baru saja usai.
Provinsi Sumatra Barat sebagai tuan rumah berhasil menjadi juara umum Musabaqah Tilawatil Quran Nasional ke-6 Korpri, mengulang sukses pada melaksanaan MTQN ke-28 12-21 November 2020 yang lalu, disusul Provinsi Aceh, dan DKI Jakarta.
Berikutnya yang masuk sepuluh besar adalah Banten, Jawa Timur, Sumatra Utara, Riau, Sulawesi Selatan, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan.
Dalam MTQN ke-6 Korpri di Padang 6-13 November 2022 lalu, saya mendapat amanat sebagai Ketua Majelis Cabang Menulis Karya Ilmiah Alquran, yang diikuti oleh 37 peserta laki-laki dan 27 peserta perempuan.
BACA JUGA:Subari, New Hero dengan Keluasan Hati dan Kesediaan untuk Berkorban demi Sesama
Secara umum, para peserta yang dikirim oleh Dewan Pengurus Korpri masing-masing provinsi memiliki kompetensi untuk menulis karya ilmiah Alquran populer.
Alokasi waktu yang disediakan adalah 8 jam, mereka dapat menyelesaikan karya ilmiah maksimal 8 halaman, termasuk daftar Pustaka. Praktiknya, mereka ada yang menulis hingga sepuluh halaman.
Ini sedikit berbeda dengan pelaksanaan musabaqah karya ilmiah Alquran versi LPTQ-Kemenag, mereka diperbolehkan menulis hingga maksimal 15 halaman, termasuk referensi.
BACA JUGA:Generasi Qurani, Prof Ahmad Rofiq: Mengaji dan Memberkahi
Tiga tema yang disiapkan panitia pusat adalah, pertama, pemberdayaan ekonomi emat di era disrupsi; kedua, moderasi beragama dalam masyarakat multikultural; dan ketiga, literasi pemahaman Alquran.
Penentuan tema, dilaksanakan secara undian, yang dipilih oleh wakil dari peserta. Untuk peserta laki-laki setelah diundi, mendapatkan tema kedua, tentang moderasi beragama dalam masyarakat multikultural, dan peserta perempuan mendapatkan tema pertama, yakni pemberdayaan ekonomi umat di era disrupsi.
Tulisan merupakan pemikirna orisinal dari penulis, dan bukan plagiat atau tulisan orang lain, tetapi dapat mengutip tulisan orang lain sepanjang diberi catatan kaki dengan lengkap. Di sinilah, banyak muncul kelemahan para peserta.
BACA JUGA: Ibu Nyai Se-Indonesia Prihatin, Berkumpul untuk Bahas Dinamika Permasalahan di Pondok Pesantren
Sebelum musabaqah dimulai, mewakili majelis dewan hakim, saya sampaikan kepada seluruh peserta, agar waspada terhadap kemiripan (similarity), dan batas maksimal yang bisa ditoleransi adalah 25 persen.
Banyaknya kemiripan ini, dapat difahami sebagai kekurang-cermatan dari para penulis di dalam mengutip atau bahkan meng-copy-paste pendapat orang lain.
Meskipun para peserta sudah menyebutkan atau mengutip dari sumbernya, namun apabila tidak dilakukan pengolahan kalimat atau redaksional.
Karena musabaqah ini adalah menulis karya ilmiah Alquran, maka peserta paling sedikit mencantumkan satu ayat yang paling relevan dengan topik bahasan yang ditulisnya, dan diminta menuliskannya dengan tulisan tangan langsung.
BACA JUGA: Calon Pengantin dan Pasangan yang Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Sebaiknya Klik Website BP4 Jateng
Ini sekaligus untuk mengetahui secara langsung, bagaimana peserta mengenali dan memahami baca tulis Alquran.
Menarik untuk menjadi pelajaran bersama, dari 37 peserta laki-laki, hasil pengujian kemiripan menggunakan plagiarism checker berbayar Turnitin, tidak ditemukan peserta yang bisa nol persen kemiripan.
Paling kecil 5% dan 19 peserta masih dalam batas toleransi, 25%. Selebihnya, 18 peserta, similarity indexnya di luar batas toleransi, dari 26-71%. Sementara untuk 27 peserta perempuan, yang kemiripannya masih dalam batas toleransi hanya 11 peserta, dan selebihnya 16 peserta kemiripannya di luar batas toleransi, dari 26-78%.
Tentu ini jika dipublikasi adalah dimaksudkan, pertama, panitia pusat, dalam hal ini Dewan Pengurus Korpri Nasional, pada MTQN ke-VII yang akan datang, perlu menyiapkan aplikasi Turnitin berbayar atau aplikasi lainnya yang lebih canggih.
Karena kebetulan pada musabaqah yang lalu, ada salah satu dewan hakim yang siap dengan Turnitin berbayar.
Musabaqah menulis karya ilmiah Alquran ini, diera digital ini, sangat penting dan strategis.
Karena pada hakikatnya, kewajiban menyampaikan dakwah adalah kewajiban personal, bukan kelembagaan atau organisasi. Rasulullah saw menegaskan: “ballighû ‘annî wa lau âyah” artinya “sampaikanlah oleh kalian apa yang kalian dapat dari aku, meskipun hanya satu ayat”.
Nah ini goal atau salah satu tujuannya.
Yakni, gar konten-konten media sosial yang makin hari makin bertambah pilihannya, dapat diisi dengan konten positif, berbasis Alquran, namun disampaikan dengan bahasa popular dan mudah difahami oleh khalayak.
BACA JUGA:Subsidi Angkutan Barang Perlu Ditambah, Djoko Setijowarno: Tingkatkan Kesejahteraan Rakyat
Musabaqah hanyalah instrument untuk mengasah keterampilan menulis karya ilmiah Alquran dalam Bahasa popular, karena itu yang terpenting, adalah bagaimana tindak lanjut, semua peserta atau bahkan setiap orang yang memiliki keterampilan untuk menuliskan gagasannya berbasis nilai-nilai Alquran, di dalam tulisan yang indah dan menarik, serta mudah difahami.
Selamat berkarya para peserta, Anda semua adalah para juara, karena sudah dipilih mewakili Lembaga atau daerah masing-masing. Semoga semua mendapatkan limpahan keberkahan, kesuksesan, dan kebersinaran cahaya Alquran. Allah a’lam bi sh-shawab.
*) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Ketua DPS RSI-Sultan Agung Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah PP. Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang.***
