15 Juni 2026 20:34
Prof Ahad Rofiq Desember 2022

Prof Ahmad Rofiq foto dengan latar belakang karya Syofwatillah Mohzaib alias Gus Opat. Gus Opat dikenal sebagai inisiator Baitul Quran Akbar atau Mushaf Quran Akbar, yang beralamat di Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah Gandus Palembang. Karya Gus Opat yang lain adalah kaligrafi pintu dan ornamen Masjid Agung Sultan Mahmud Baddarudin II, Palembang Sumatera Selatan.

Oleh: Ahmad Rofiq
OPINI JATENG – AlhamduliLlah wa syukru liLlah, 10-11 Desember 2022 mendapat kehormatan, diundang oleh Prof Dr KH Ahmad Zahroh MA, pada acara pernikahan Mas Fadhil, putra Bapak Dr Marzuki Alie, mantan ketua DPR-RI.

Pada 10 Desember 2022, setelah dijemput dari Bandara Sultan Badaruddin, dijamu makan siang oleh Gus Opat – yang nama aslinya adalah Syofwatillah Mohzaib – bersama para Kyai sekitar sepuluh orang, termasuk Prof Zahroh.

Seusai makan siang, saya diantar Mas Angga, yang sebenarnya langsung ke Hotel Novotel, namun karena ditawari Gus Opat, silahkan kalau mau ke Baitul Quran Akbar.

Karena waktu yang tersedia di Palembang, tidak lama, maka saya ajak Mas Angga untuk berkunjung ke Baitul Quran Akbar.

BACA JUGA:Kiai Fadlolan Musyaffa: Dukungan dan Doa untuk Mahfud MD Minimal Cawapres

Karena jalan utama macet, maka Mas Angga mencari jalur alternatif, memang ada jalan di depan pasar agak rusak, dan tentu butuh perhatian.

Gus Opat dikenal sebagai inisiator Baitul Quran Akbar atau Mushaf Quran Akbar, yang beralamat di Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah Gandus Palembang, yang sekarang menjadi destinasi wisata religi internasional.

Gus Opat ini memang dikenal sebagai seorang khaththath atau kaligrafer kondang.

Di antara karyanya, adalah kaligrafi pintu dan ornamen Masjid Agung Sultan Mahmud Baddarudin II, Palembang Sumatera Selatan.

Gagasan yang muncul 2002, bermula dari saat Gus Opat memandang kaligrafi karyanya yang terukir di jendela samping imam, di tengah malam Bulan Suci Ramadhan, ia tertidur dan bermimpi membuat mushaf Alquran dari kayu seperti kaligrafi yang ia buat di jendela dan pintu Masjid Agung tersebut.

BACA JUGA:Menko Polhukam Mahfud MD Senang Bertemu Kiai Fadhlolan Musyaffa’: Sekarang Pesantren Mewah-mewah dan Diasuh Kiai Berwawasan Luas

Dari situlah terpikir dan langsung dimulai menulis dan membuat mushaf Alquran dengan ornamen dan ukiran khas Palembang.

Karena dari malam bulan Ramadhan, tergambar dalam pikiran Gus Opat sebuah Alquran Raksasa yang terbuat dari kayu dan menjadi mushaf yang terbesar di dunia.

Mushaf Quran Akbar ini, biasanya lembaran kertas, namun mushaf ini terbuat dari kayu tembesu.

Ukurannya 1 keping Al-Quran Al-Akbar (Surat Al-Fatihah) yang terbuat dari kayu tembesu berukuran 177 cm x 140 cm dengan ketebalan 2,5 cm.

Tulisan dibuat bolak-balik, dan di Baitul Quran ini sudah lengkap 30 juz. Karena itu, membutuhkan tempat yang relatif besar.

Gus Opat tidaklah memikirkannya karena pembuatan Alquran ini adalah niat mulia dan cita-citanya serta “kerja amal” sehingga kendala tersebut niscaya yakin dapat teratasi dengan baik.

“Bagi kami, ini adalah mahakarya dan menjadikan amal jariah dan sebagai lahan pengabdian bagi agama tercinta, bangsa dan negara.”

BACA JUGA:Duduk Bersama, Solusi Relokasi Pasar MAJT Tenangkan Pedagang

Destinasi Wisata Religi

Saya sempat berbicara panjang lebar dengan pemandu peziarah, yang mendampingi saya selama mengunjungi Baitul Quran, para pengunjung hadir dari berbagai negara.

Harapannya, mushaf Quran Akbar dari kepingan kayu tembesu tersebut, akan menjadi media pendidikan yang efektif atas munculnya generasi qurani, yang berakhlaqul karimah dan mendunia.

Penulisan Alquran ini telah rampung pada 2008, yang terdiri atas 630 halaman 315 lembar terdiri atas juz 1 sampai juz ke 30.

Pada hari Kamis 14 Mei 2009 dapat diluncurkan di Masjid Agung Palembang oleh Departemen agama Provinsi Sumatera Selatan.

H Najib Haitami yang dihadiri para hafidz-hafizhah se-Sumatera Selatan.

BACA JUGA:Menuju Indonesia Bebas Narkoba, Ganas Annar MUI Jateng Dipercaya Gelar Rakornas

Harapan agar masyarakat dapat memberikan masukan serta koreksi jika masih terdapat kesalahan-kesalahan.

Baitul Quran Akbar ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Dr H Susilo Bambang Yudhoyono, pada 30 Januari 2012, dihadiri oleh 51 utusan Negara Islam se-Dunia bersamaan dengan acara Konferensi Parlemen Negara Islam Dunia (PUIC) 2012 di Novotel dan halaman Ponpes Modern IGM Al-Ihsaniyah Gandus Palembang.

Banyak kesan dan pesan mendalam dari berkunjung di Baitul Quran Akbar ini.

Selain mengagumi inisiatif Gus Opat, juga pengunjung dapat menikmati keindahan kaligrafi yang sudah barang tentu membutuhkan kecermatan sangat tinggi, agar keindahan kaligrafi khas Palembang, juga pesan pentingnya adalah bagaimana generasi millennial dengan mengunjungi, akan tergugat hati, fikiran, dan perasaannya, untuk mencintai Alquran, dan yang terpenting adalah munculnya kesadaran betapa pentingnya memahami makna dan pesan-pesan Alquran yang rahmatan lil alamin, menjadi petunjuk, obat, dan prinsip-prinsip hidup yang universal.

Dari Baitul Quran Akbar ini, kita dapat merasakan getar-getar hati, bahwa pesan Rasulullah saw: “Khairukum man ta’allama l-Qur’an wa ‘allamahu” artinya “sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Alqur’an dan mengajarkannya kepada orang lain (Riwayat Al-Bukhari)”.

Karena Alquran diturunkan adalah untuk menjadi hudan li n-nas atau petunjuk bagi seluruh umat manusia.

BACA JUGA:SMSI Jateng Ajak Pers Berbadan Hukum, Menguntungkan atau Merugikan Media

Apalagi Gubernur Sumatra Selatan, H Herman Deru SH MM, mencanangkan di seluruh Provinsi Sumatera Selatan, “satu desa satu rumah tahfidh”.

Selamat dan terima kasih Gus Opat, dan semoga program besar “Satu Desa Satu Rumah Tahfidh” segera terwujud secara nyata. Maskin banyak hafidh-hafidhah akan makin berkah negeri ini.

Semoga impian para Ulama negeri ini menjadi baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur dapat segera terwujud. Allah a’lam bi sh-shawab.

*)Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Ketua DPS RSI-Sultan Agung Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT), Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah PP. Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *