22 April 2026 00:24
86126979-c1c9-41b6-b1b7-2b6a5113fd97

Prof Imam Yahya, Guru Besar Ilmu Fiqh Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

OPINI JATENG  – Ramadhan adalah bulan seluruh umat Islam menjalankan ibadah puasa. Bulan yang penuh dengan maghfiroh ini sangat istimewa.

Dengan ibadah puasa karakter manusia dilatih menjadi lebih peka. Selain itu pahala yang dilipatgadakan membuat umat Islam harus melakukan ibadah puasa dengan sebaik – baiknya

Bulan Ramadhan bulan untuk memperbanyak amal ibadah.  Khususnya ibadah mahdoh yaitu ibadah yang waktu dan bentuknya sudah ditetapkan oleh Allah SWT. Berlipatgandanya pahala menjadi pemacu untuk mengamalkan semua ibadah. Termasuk yang sunah.

BACA JUGAProf Ahmad Rofiq: Perbanyak Lafadz Allahumma Innaka ‘Afuwwun di Bulan Ramadhan Dosa Berguguran

Sholat tarawih yang menjadi ciri khas bulan Ramadhan seakan menjadi ibadah yang wajib. Sholat sunnah tarawih seakan menjadi sebuah ibadah yang wajib dikerjakan oleh setiap orang yang melaksanakan ibadah puasa. Bahkan sering juga diperdebatkan tentang kualitas dan kuantitas sholat tarawih yang dilakukan selama bulan ramdhon

Puasa Ramadhan mempunyai maksudul adhom (maksud utama) yang telah diajarkan oleh Allah SWT. Tujuan utama berpuasa adanya peningkatan ketaqwaan manusia kepada Allah SWT. Kualitas iman harus meningkat, dengan cara melakukan ibadah dengan sebaik-baiknya secara kuantitatif maupun kualitatif.

Menurut Imam Ghozali kualitas manusia dapat dibagi menjadi empat kelompok:

Pertama, rojulun yadri wayadri annahu yadri (seseorang yang berilmu, dan dia tahu kalau dirinya berilmu).

Kedua, rojulun yadri wala yadri annahu yadri  (seseorang yang tahu berilmu, tapi dia tidak tahu kalau dirinya berilmu).

Ketiga, rojulun la yadri wa yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan mengetahui bahwa ia tidak tahu).

Keempat, rojulun la yadri wa;a yadri annahu la yadri (orang yang tidak tahu dan tidak mengetahui bahwa ia tidak tahu).

Untuk itu dengan menggunakan perspektif imam ghozali tentang pembagian kualitas manusia, maka amadlaon ini dijadikan momentum untuk menilai diri kita.

Di manakah posisi kita dalam kriteria Imam Ghozali, apakah nomor satu, dua atau tiga. Tiga kriteria tersebut, menunjukkan bahwa manusia adalah mahluk yang dikarunia pegetahuan, ada yang sadar dan ada yang tidak sadar bahwa manusia adalah mahluk yang istimewa di sisi Allah.

Bulan Ramadhan dijadikan sebagai bulan untuk introspeksi sekaligus meningkatkan syukur kita atas berbagai nikmat yang diberikan Allah SWT kepada kita semua.

BACA JUGAProf Ahmad Rofiq: Ramadhan Momentum Bersihkan Dosa dan Residu yang Sudah Berkarat selama 11 Bulan

Semoga kita tidak masuk ke dalam kelompok ke empat yakni maanusia yang tidak berilmu dan tidak tahu kalau dirinya tidak berilmu. Posisi ini menjadi sesorang tidak bisa bersyukur atas nikmat Alloh SWT.

Bulan puasa sebagai bulan yang penuh berkah patut dijadikan untuk meningkatkan kemampuan kita memahami akan posisinya sebagai hamba Alloh SWT.

Pada akhirnya dengan kriteria terbaik tersebut kita bisa mensyukuri nikmat yang telah dirasakan di dunia ini. Wallohu alam bis showab.***

 

Oleh  Prof Imam Yahya, Guru Besar Ilmu Fiqh Pascasarjana UIN Walisongo Semarang

 

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version