Kenalkan Pembelajaran Berdiferensiasi, 3 Guru Besar Unnes Lakukan Pengabdian di SD Bojongsalaman 02 Semarang
Korsatpen Kecamatan Semarang Barat, Sutikno SPd MP mmembuka acara
OPINIJATENG.COM – SEMARANG – Mengenalkan Pembelajaran Berdiferensiasi, tiga Guru Besar Unnes dan seorang doktor, yakni Prof Dr Sri Wardani MSi (ketua), Prof Dr Sri Haryani MSi, dan Prof Dr Sarwi MSi, serta Dr Agung Tri Prasetya MSi, melakukan pengabdian kepada masyarakat di SDN Bojongsalaman 02 Semarang Barat, Kamis 6 Juli 2023.
Dalam tim pengabdian itu juga ada anggota dari mahasiswa Unnes yakni Primus Devra Raihan dan Renny Nur Afida. Adapun anggota alumni adalah Aqidatul Munfariqoh, Margaretha Novita Rupa Lobemato, Dwi Septiaseh, Primus Devra Raihan, Renny Nur Afida, Saidatul Ulfa, Erman Suwardi, dan Septyana Candra Puspita.

Prof Dr Sri Wardani MSi, pemateri bertema Pengenalan Kecerdasan Majemuk dalam Pembelajaran Berdiferensi (Kecerdasan majemuk dalam pembelajaran di SD), menyatakan bahwa pembelajaran berdiferensiasi merupakan usaha menyesuaikan proses pembelajaran dengan memberikan beragam cara melalui diferensiasi konten, proses, produk serta lingkungan belajar dan asesmen awal untuk memenuhi kebutuhan belajar individu setiap murid.
BACA JUGA:Sertifikasi Tanah Pertanian, antara Untung dan Rugi
“Seorang anak bisa memiliki kecerdasan yang berbeda dari anak lain,” katanya.
Prof Sri Wardani menjelaskan bahwa terdapat 8 kecerdasan majemuk, kecerdasan bahasa (Linguistik), kecerdasan musikal, kecerdasan interpersonal, kecerdasan visual dan spasial, kecerdasan logis matematis, kecerdasan intrapersonal, kecerdasan naturalistik, dan kecerdasan kinestetik.
“Contoh kecerdasan bahasa (linguistik). Antara lain senang membaca dan menulis, ekspresif saat bercerita, mampu menjelaskan sesuatu dengan baik serta menggunakan bahasa dengan baik dan benar.”
Contoh kecerdasan musikal antara lain suka mendengarkan musik, mampu memahami melodi dan irama, serta suka menyanyi.
BACA JUGA:Purwaceng, Viagra dari Jawa Peningkat Gairah Pasutri dari Dieng
Contoh kecerdasan interpersonal antara lain memiliki jiwa sosial yang tinggi, punya banyak teman, melihat sesuatu dari persepektif yang berbeda, suka bekerja sebagai tim, senang berinteraksi, dan mampu bekerja sama.
Contoh kecerdasan visual dan spasial antara lain lebih mudah menghafalkan wajah dari pada nama, menyampaikan ide atau pendapat dengan sketsa, senang bermain warna, suka menggambar atau melukis, dan mudah membaca peta.
Contoh kecerdasan logis matematis antara lain menyukai puzzle dan teka teki silang, tertarik dengan pola-pola, mampu mengolah angka, dan senang dengan permainan yang melibatkan strategi.
Contoh kecerdasan intrapersonal antara lain mampu mengenali kekuatan dan kelemahan orang lain dengan baik, mampu membuat rencana dan keputusannya dengan sendiri, memiliki kesadaran diri yang sangat baik, senang memikirkan masa depan dan cita-citanya, dan bisa mengendalikan keinginan serta perilakunya.
Contoh kecerdasan naturalistik antara lain tertarik pada mata pelajaran seperti botani, biologi, dan zoologi.
“Contoh lain antara lain senang berwisata alam, senang memelihara binatang, menikmati kegiatan berkemah serta hiking, senang berkebun, suka melihat film flora dan fauna serta tertarik mempelajari spesies mahluk hidup.”
Contoh kecerdasan kinestetik antara lain senang menciptakan sesuatu dengan tangannya, senang melakukan berbagai aktivitas fisik, memiliki koordinasi fisik yang sangat baik, terampil dalam menari dan olahraga, serta sulit duduk diam dalam wektu lama.
BACA JUGA:MAJT Resmikan Agrowisata, Kurma dan Melon Komiditi yang Dikembangkan
Pendidikan Diawali dari Keluarga
“Pendidikan diawali dari keluarga. Baik itu kebutuhan tentang pengetahuannya, emosionalnya, spiritual, dan keterampilannya. Itu perlu diberikan kepada anak-anak kita.”
Hal itu diungkapkan Prof Dr Sarwi MSi saat menjadi pembicara dengan tema kecerdasan majemuk hubungannya dengan pembelajaran berdeferensiasi.
Menurut Prof Sarwi, tugas guru tidak hanya mengajar namun harus juga bisa mengetahui lain dari anak didiknya. Maksudnya melihat dari berbagai macam hal seperti lingkungan tempat tinggalnya, teman-teman bermainnya, dsb.
“Kelebihan pembelajaran berdiferensiasi antara lain adalah memenuhi kebutuhan peserta didik, memaksimalkan kualitas pembelajaran dan meningkatkan prestasi peserta didik, dan pembelajaran sesuai kebiutuhan peserta didik maka memperoleh pengetahuan maksimal,” tegasnya.
BACA JUGA:Pengabdian Masyarakat Unnes di Boyolali, Prof Sudarmin: Revitalisasi Edupark Camp Bell 2 Tawangsari
Ada pula pendekatan student confered, di mana tujuannya agar peserta didik terlibat dalam proses pembelajaran sehingga bisa fokus di kelas.
“Ada strategi pengajaran konstekstual, dimana terjalin relasi antara guru dan murid. Sehingga guru dan murid sebagai peserta didik, dapat mengasah self management skill,” kata Profesor Pendidikan Fisika (S1) Fakultas Matematika dan IPA Unnes tersebut.
Prof Sri Haryani: Bukan Hal yang Baru
Narasumber lain, Prof Dr Sri Haryani MSi yang mengambil tema Pembelajaran berdeferensiasi di SD menyatakan bahwa bagi praktisi pendidikan di Indonesia, konsep kurikulum berdiferensiasi sebenarnya bukan sesuatu yang sama sekali baru.
Sebab, lanjut dia, pada tahun 1983-1984, pemerintah pernah mengembangkan Sekolah Perintisan Anak Berbakat pada beberapa sekolah dari level SD hingga SMP dsan SMAdengan sistem pulled out. Sayangnya, program tersebut hanya berjalan satu satu angkatan, dengan alasan yang tidak diketahui.
Menurut catatan sejarah pembelajaran diferensiasi, pada tahun ajaran 1998-1999, model layanan pendidikan askselerasi pun mulai dirintis oleh beberapa sekolah swasta. Setelah hasilnya dianggap menggembirakan, maka pada tahun 200-2001 pemerintah memutuskan untuk mengangkat dan menerapkan program akselerasi atau percepatan belajar itu pada level nasional.
BACA JUGA:Ada Dua Upaya Penyelamatan 30 Kitab Kuno Koleksi Museum MAJT Semarang yang Kondisinya Nyaris Rusak
“Dengan demikian, diferensiasi pembelajaran di Indonesia dilakukan terhadap isi (content) yang dipelajari siswa, tugas unjuk kerja (performance tasks) yang dipilih, strategi instruksional (instructional strategis) yang digunakan, serta perangkat asesmen (assessment tools) yang digunakan,” jelasnya.
Dalam sambutannya, Korsatpen Kecamatan Semarang Barat, Sutikno SPd MPd mengimbau para peserta kegiatan untuk mengaplikasikan teori-teori yang disampaikan para Guru Besar Unnes dalam proses pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing.
Adapun Susi Susanti MPd, kepala SD Bojongsalaman 02 juga terlihat bersemangat mengikuti acara. “Saya dan teman-teman guru berterima kasih karena banyak teori dari para Guru Besar Unnes yang bisa diaplikasikan dalam proses belajar mengajar sehari-hari,” katanya.
Dwi Agus Retno, guru kelas 2A SD Bojongsalaman 02 menyatakan bersyukur karena di saat libur sekolah anak-anak bisa fokus mengikuti kegiatan dan menyerap ilmu yang disampaikan para Guru Besar Unnes.
BACA JUGA:Nenek Supriyati, Usia 78 Tahun Masih Sehat dan Bugar, Ini Rahasianya
“Saya bisa fokus mengikuti kegiatan ini,” kata Dwi Agus Retno yang mengabdi selama 18 tahun 10 bulan sebelum diangkat sebagai PNS yakni tahun 2014.
“Saya jaga senang dan semangat mengikuti kegiatan sampai akhir, karena menarik materi-materi yang disampaikan dari para Guru Besar Unnes,” kata Sri Padmiati, guru PJOK.***