Ratusan Lampion Doa Menggantung di Klenteng Sam Poo Kong Semarang
pengelola Klenteng Agung Sam Poo Kong Semarang Chandra Budi Atmaja tengah memberikan penjelasan kepada pengunjung klenteng terkait ratusan lampion yang menggantung di langit-langit bangunan utama untuk peribadatan warga
OPINIJATENG.COM – SEMARANG – Ratusan lampion doa bergelantungan di langit-langit bangunan utama Klenteng Sampo Kong Gedung Batu Semarang. Bangunan klenteng itu tempat persembahyangan yang disediakan pengelola untuk masyarakat.
Untuk masuk ke tempat persembahyangan itu pengunjung atau masyarakat dikenai biaya Rp35.000. “Namun jika pengunjung yang mau sembahyang itu menukar karcis tanda masuk klenteng, maka uangnya kami kembalikan Rp15.000. Sehingga jika pengunjung atau warga masyarakat ingin bersembahyang di klenteng sebenarnya hanya bayar Rp20.000,” kata pengelola Klenteng Agung Sam Poo Kong Semarang Chandra Budi Atmaja (68) kepada opinijateng.com.
Chandra mengaku pernah diprotes warga yang beribadat sembahyang di Klenteng Sam Poo Kong. Pasalnya, sendal milik umat sedang beribadat sembahyang di klenteng itu hilang.
“Ini bagaimana? Masak sendalku hilang saat sedang sembahyang?” protes seorang warga kepada Chandra.

Chandra waktu itu minta maaf karena sebagai pengelola belum optimal menjaga properti warga yang sedang khusyuk beribdat sembahyang di Klenteng Sam Poo Kong.
BACA JUGA:Rugi, ke Semarang jika Belum Mampir ke Gedung Lawang Sewu, Berani Masuk ke Ruang Bawah Tanahnya?
“Akhirnya sejak saat itu kami, pihak sebagai pengelola kemudian mencari tenaga kerja warga setempat yang mau menjadi penjaga keamanan Klenteng Sam Poo Kong. Tentu saja untuk penerimaan penjaga keamanan butuh biaya. Maka, kami kemudian memungut warga yang mau bersembahyang dengan karcis Rp35.000/orang.”
Banyak yang kemudian setelah sembahyang berdoa agar doa-doanya dikabulkan oleh Tuhan, maka warga membeli lampion dan menuliskan keinginan atau doa-doanya di kertas yang digantungkan di lampion tersebut.
“Lampion-lampion itu kemudian kami gantungkan di langit-langit di bangunan tempat sembahyangan atau tempat berdoa. Harapannya, para dewa meneruskan kepada Tuhan YME untuk mengabulkan doa-doa umat yang bersangkutan,” jelasnya.
Harga tiap lampion bervariasi, bergantung dari besar kecilnya.
“Yang kecil harganya Rp300.000 ada yang agak besar Rp500.000. Kemudian lampion doa itu kami gantung selama 6 bulan. Kami catat itu lampion dari siapa saja tanggal digantungkan ke langit-langit klenteng dan kapan nanti kami turunkan lagi. Ada petugas yang mencatatnya. Semua tercatat rapi,’ jelas Chandra.
Ya, setidaknya 200 wisatawan setiap hari mengunjungi Klenteng Agung Sam Poo Kong Jl Simongan 129, Bongsari, Kecamatan Semarang Barat, Semarang, Jateng. pada hari-hari libur nasional, jumlah pengunjung bisa melonjak tiga hingga lima kali lipat. Sehari bisa mencapai 500 pengunjung, pernah 1.000 orang pengunjung dalam sehatri, yakni pada libur Lebaran Idul Adha 1444H lalu.
Berkunjung ke Klenteng Sam Poo Kong Semarang bisa dikatakan sebagai wisata ziarah penginggalan bersejarah yang mengandung unsur religi. Meski demikian, Klenteng Sam Poo Kong terbuka luas untuk seluruh lapisan dan golongan masyarakat di seluruh Indonesia bahkan dunia.
Setiap weekend pengelola Klenteng Sam Po Kong menampilkan beragam seni dan budaya di masyarakat Jawa dan Tionghoa. Ada atraksi barongsai, kesenian angklung, seni jatilan, hingga live music.
“Kami sajikan secara bergiliran. Dalam seminggu itu mereka tampil bergiliran yakni di hari Kamis, Jumat, Sabtu, dan Minggu. Tujuan atraksi seni dan budaya itu agar wisatawan lokal dan luar negeri yang datang bisa semakin terhibur.”
BACA JUGA:Yuk ke Semarang! Seru Eksplorasi Klenteng Sam Poo Kong, Kota Lama, dan Lawang Sewu
Menurut Chandra, wisatawan yang datang tidak hanya menikmati bangunan megah Klenteng Sam Poo Kong, namun juga menikmati atraksi seni dan budaya.
Kelenteng Gedung Batu, atau Klenteng Agung Sam Poo Kong atau Klenteng Sam Poo Kong adalah bukti bahwa Laksamana Tiongkok beragama Islam yang bernama Cheng Ho atau Zheng He, yang juga dikenal dengan nama Sam Poo, pernah menginjakkan kaki di Kota Semarang.
Hingga saat ini, Klenteng Agung Sam Poo Kong Semarang menjadi salah satu destinasi wisata religi dan sejarah unggulan di Kota Loenpia, Semarang.
Masyarakat yang ingin berwisata di Kota Semarang biasanya ke Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) di Jalan Gajah Raya, Kawasan Kota Lama yang ada Gereja Blenduk-nya, Museum Kereta Api yang berada di Gedung Lawang Sewu Kawasan Tugu Muda.
Ada juga yang mengunjungi beberapa klenteng seperti Klenteng Sampoo Kong di Gedung Batu, Klenteng Agung Tay Kak Sie di Gang Lombok, Goa Kreo di Gunungpati, dan sebagainya.
Sejarah Klenteng Sam Poo Kong
Berikut ini sejarah Klenteng Sam Poo Kong Semarang sekaligus jejak perjalanan Laksamana Cheng Ho.
Mungkin masih belum banyak umat Islam Indonesia yang mengenal sosok Laksamana Cheng Ho.
Prof Kong Yuanzhi berupaya memperkenalkan sosok Cheng Ho, Sang Laksamana, di dalam buku berjudul “Cheng Ho: Muslim Tionghoa, Misteri Perjalanan Muhibah di Nusantara”.
Catatan perjalanan muhibah Cheng Ho ini diangkat kembali sebagai bahan kajian ataupun renungan bagi generasi yang akan datang.
BACA JUGA:Bus Trans Koetaradja Berkomitmen Beri Pelayanan Prima meskipun Gratis
Pada abad ke-14 ada seorang bahariwan asal Tiongkok yang bernama Laksamana Cheng Ho yang berlayar dari negerinya, China ke Benua Asia dan Afrika.
Laksamana Cheng Ho memimpin 208 kapal yang kuat dan tidak tertandingi para pelaut mana pun hingga saat ini.
Lasmana Cheng Ho memimpin perjalanan muhibah ingin menyebarkan dan memperkenalkan agama Islam kepada penduduk di mana armadanya itu menginjakkan kaki.
Laksamana Cheng Ho ingin menyampaikan ke penduduk di luar China bahwa Islam adalah agama yang rasional dan universal.
Laksamana Cheng Ho adalah seorang muslim yang saleh (solih) telah banyak mengadakan kegiatan agama Islam, baik di negerinya sendiri maupun di negeri lain.
Dalam setiap pelayarannya, Cheng Ho pun menerapkan manajemen strategi Nabi Muhammad SAW, manajemen Tao Zhugong, manajemen Confuciusme, dan manajemen Lautze yang telah diterapkan 600 tahun yang lalu.
Dengan menerapkan empat manajemen tersebut, Laksamana Cheng Ho dapat mengatur dengan bagus sistem kerja dari awak kapalnya sesuai dengan tugas masing-masing.
Peran Cheng Ho sangat besar bagi perkembangan dan penyebaran agama Islam, termasuk di Indonesia yang daerah-daerahnya banyak dikujungi selama 7 kali pelayarannya.
Kunjungan armada Muhibah Cheng Ho ke Indonesia terjadi pada enam abad yang lalu, kata Prof Kong Yuanzhi dalam bukunya itu.
BACA JUGA:Sertifikasi Tanah Pertanian, antara Untung dan Rugi
Pada 1405-1433 M, Laksamana Cheng Ho telah tujuh kali berkunjung ke Nusantara dalam misi persahabatan.
Di wilayah Nusantara, Laksamana Cheng Ho tercatat pernah singgah di Kerajaan Samudra Pasai dengan memimpin sekitar 208 kapal.
Peninggalan Cheng Ho di daerah ini berupa lonceng raksasa bernama Cakradonya.
Sekarang ini lonceng tersebut digantung dan diletakkan pada bagian paling depan dari Museum Banda Aceh.
Laksamana Cheng Ho melanjutkan perjalannya ke sebelah barat Kerajaan Samudera Pasai hingga sampailah rombongan armadanya di Kerajaan Nakur yang menghadap Laut Lambri.
Setelah itu, ia berlayar melalui bagian Barat, hingga sampailah di Pelabuhan Palembang.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan Prof Kong Yuanzhi, Laksamana Cheng Ho juga pernah berlabuh di Tanjung Ketapang, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung.
Laksamana Cheng Ho Berlabuh di Ancol
Perjalanan Laksamana Cheng Ho kemudian dilanjutkan ke Sunda Kelapa dan berlabuh di Tanjung Masa (Ancol).
Saat itu, Laksamana Cheng Ho bersama para awak kapalnya sempat menonton tarian ronggeng di Tanjung Mas, yang saat itu masih berupa hutan berawa.
Pada 1415 M, rombongan armada Cheng Ho kemudian berlabuh di Muara Jati dalam salah satu ekspedisinya yang legendaris untuk bersilaturahmi dengan penguasa setempat dan memberikan cendera mata dari Tiongkok, seperti porselen, guci, kain sutra, keramik, dan lain-lain.
Masih banyak daerah lainnya di Indonesia yang pernah disinggahi Laksamana Cheng Ho, seperti Cirebon, Semarang, Tuban, Gresik, Surabaya, dan Mojokerto.
BACA JUGA:Kawasan MAJT Ditata Ulang untuk Kenyamanan Publik
Jejak perjalanan Laksamana Cheng Ho ke daerah-daerah tersebut dijelaskan secara gamblang di dalam buku karya Prof Kong Yuanzhi.
Cheng Ho dikenal sebagai seorang tokoh yang berjasa besar dalam penyebaran agama Islam, melakukan pembaharuan, dan meningkatkan sumber daya manusia dalam bidang perdagangan dan pertanian bagi daerah yang pernah dikunjunginya.
Sebagai tokoh agama, Laksamana Cheng Ho juga merupakan seorang yang sangat memahami ajaran Islam.
Karena ia pandai dan mampu membaca, menulis, serta fasih berbahasa Arab.
Ia pun mengamalkan ajaran Islam yang ramah, sehingga dakwahnya dapat diterima dengan mudah di tengah-tengah masyarakat.
Prof Kong Yuanzhi memang sangat tertarik pada sejarah persahabatan bangsa Tionghoa dengan bangsa Indonesia, termasuk peristiwa kunjungan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia.
Karena itu, dia pun sudah sejak lama mengumpulkan data-data mengenai kunjungan Laksamana Cheng Ho ke Indonesia.
Prof Kong Yuanzhi menempuh pendidikannya di jurusan Bahasa dan Kebudayaan Indonesia Universitas Peking.
Selain itu, dia juga pernah mengambil studi di Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada 1964-1965.
Demikian artikel tentang perjalanan muhibah 200-an kapal yang dikomandani Laksamana Cheng Ho atau Zgeng He Admiral dari Tiongkok ke negara-negara di Asia, Afrika, termasuk di Indonesia. Napak tilas atau petilasan Laksamana Cheng Ho di Semarang adalah Klenteng Sam Poo Kong, Gedung Batu.***