Rabu Wekasan Punya Makna Dalam? Apa kata KH. Sya’roni …

Ilustrasi sholat Rabu Wekasan
OPINI JATENG.COM – Tradisi Rabu Wekasan sudah melekat pada masyarakat umum. Namun sebagian masyarakat juga tidak paham apa itu Rabu Wekasan? Hal ini karena tradisi tersebut tidak semua wilayah melaksanakannya.
Rabu Wekasan dapat diartikan Rabu terakhir bulan Shafar pada bulan Hijriyah. Pada Rabu Wekasan itu umat Islam perlu melaksanakan amal kebaikan seperti berdoa, bersedekah, sholat atau amalan lain meminta keselamatan kepada Allah SWT. Di sinilah umat pasrah akan keselelamatan dirinya sehingga bala yang datang tidak menimbulkan musibah.
Tahun ini Rebo Wekasan jatuh pada Rabu, 27 Safar 1445 H dan bertepatan tanggal 13 September 2023. Umumnya ada beberapa ritual yang dilakukan masyarakat untuk menolak bala atau musibah saat Rebo Wekasan.
BACA JUGA: Rektor UIN Walisongo Semarang Bantah Lakukan Plagiasi, Prof Nur Khoirin: Ada Karya Lain
Sementara itu, yang disampaikan Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Kiai Sya’roni mengutip penjelasan dalam kitab al-Jawahir al-Khams bahwa Allah akan menurunkan 320.000 musibah setiap tahun dalam hari Rebo Wekasan. Karenanya, para ulama selalu mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah dengan meminta keselamatan kepada-Nya.
“Yang mendatangkan balak (musibah) itu yang mendatangkan Allah, maka kita harus mendekat meminta kawelasan (kasih sayang) dari Allah,” terangnya.
Jangan Ngawur
Dalam praktiknya, amalan Rebo Wekasan, ulama kharismatik ini mengingatkan supaya tidak melenceng jauh dari ajaran agama Islam. Di antara yang lazim dilakukan, kata Kiai Sya’roni, adalah membaca doa Rebo Wekasan, melaksanakan shalat sunnah dan banyak sedekah.
“Jangan sampai amalannya ngawur, harus berdasarkan tuntunan agama. Semua amalan ini bertujuan untuk tolak balak,” ujar Kiai Sya’roni.
Demikian, Pada Rebo Wekasan, umat Islam disunnahkan mandi tolak balak dan shalat empat rakaat dengan dua salam. Dalilnya shalat, terang Kiai Sya’roni, ayat Al-Qur’an yang artinya wahai orang Islam minta pertolongan kepada Allah dengan sabar dan shalat.
“Tetapi harus ingat, istilah shalat Rebo Wekasan itu tidak ada. Jadi kita semua bisa shalat sunnah seperti shalat hajat, tahajud, maupun lainnya,”tandas Kiai Sya’roni.
Dalam melaksanakan doa, jelas Kiai Sya’roni, terdapat etika atau cara lain yakni menulis kalimat berbahasa Arab yang berisi beberapa ayat al-Qur’an mengandung doa dengan awalan kata “salamun”. Seperti, ayat salamun qaulan min rabbir rahim, salamun ala nuuhin fil alamin, salamun ala ibrahim, salaamun ala musa waharuun, dan seterusnya.
BACA JUGA: Kenakalan Remaja Tanda Hubungan Keluarga yang Tidak Sehat, ini Saran Dokter Anak
“Kalimat itu ditulis di atas kertas dengan niat berdoa meminta keselamatan dan kawelasan Allah. Lalu dicampur air dan dibacakan doa Rebo Wekasan sehingga airnya disebut ‘air salamun’. Amalan semacam ini diperbolehkan,” imbuh Kiai Sya’roni di hadapan ribuan jamaah yang memenuhi Masjid al-Aqsha Menara Kudus.
Demikian informasi tentang Rabu Wekasan punya makna dalam? Apa kata KH. Sya’roni …***
