17 April 2026 19:46
KUDA LUMPING TEJO

Ilustrasi Kuda Lumping Tejo/Sumarsi

OPINIJATENG.COM-Udara dingin Pengunungan Dieng sama sekali tak menyurutkan keinginan Tejo untuk segera menuju rumah Pak RT. Suasana malam yang gelap, disertai hujan gerimis membuat jalan yang dilalui Tejo menjadi licin. Berkali-kali anak lelaki itu terpeleset. Namun, ia kembali bangkit dan melangkah.

“Kalau besok tak ikut latihan, enggak boleh ikut pertunjukan. Ingat itu!” pesan Pak RT kepada Tejo kemarin malam.

Beberapa kali Tejo tidak berangkat latihan karena tidak diizinkan ayahnya. Bukan tanpa alasan, ayahnya tidak mengizinkan karena setelah latihan kuda lumping, Tejo kelelahan dan bolos sekolah. Namun, karena kecintaannya pada kesenian tradisional tersebut, Tejo diam-diam pergi latihan tanpa sepengetahuan ayahnya.

“Semoga Ayah tidak pulang malam ini,” batin Tejo. Ayahnya seorang pedagang sayur yang harus keluar kota untuk menjual sayurannya. Oleh karenanya, ayah Tejo sering tidak berada di rumah.

Suara gamelan terdengar riuh. Beberapa teman Tejo sudah menari di bawah arahan Pak RT. Tejo mengambil kuda lumpingnya dan bergabung bersama mereka.

Kuda lumping atau ebeg merupakan kesenian tradisional Banyumasan. Hampir di seluruh wilayah Banyumas dan sekitarnya memiliki kesenian khas tersebut, termasuk di Banjarnegara. Tarian ini menggunakan kuda dari anyaman bambu, yang menggambarkan prajurit perang yang sedang menunggang kuda.

“Hokya…hokya….kanan kiri,” suara Pak RT memberikan instruksi.

Tejo menari dengan luwes, mengikuti irama gamelan. Tiba-tiba seorang senior Tejo bernama Kang Parto kesurupan. Tangannya kaku, matanya merah, dari mulutnya terdengar suara mendesis. Kang Parto berlari mengelilingi lapangan dan menari tanpa terkontrol. Pemandangan seperti itu sudah tidak asing lagi bagi Tejo. Pak RT biasanya akan menyiapkan berbagai sesaji untuk mengundang “indang” yang akan masuk ke tubuh para penari.

Tejo berlatih hingga tengah malam. Selesai latihan, Pak RT mengumpulkan para penari dan diberi arahan mengenai pertunjukan besok malam Minggu di balai desa.

“Bapak harap semuanya menjaga kesehatan, supaya besok semua bisa ikut pertunjukan. Ini adalah ikhtiar kita untuk nguri-uri kebudayaan tradisional supaya tidak punah,” ujar Pak RT.

Tejo kembali ke rumah. Ia mengendap-endap memasuki dapur.

“Dari mana kamu, Jo?”

Tejo terkejut, itu suara bapaknya. Ia terdiam tak menjawab sepatah katapun. Bapak meneliti baju Tejo yang telah kotor terkena lumpur saat latihan tadi.

“Kamu pasti habis kuda lumpingan lagi ya?” tanya Bapak lagi.

“Iya, Pak,” jawab Tejo lirih. Ia sudah siap jika ayahnya memarahi.

“Besok tidak libur kan? Bapak sudah berkali-kali melarang kamu latihan saat sekolah. Kamu sering terlambat bangun,” kata Bapak.

“Maafkan Tejo, Pak. Saya berjanji tak kan bangun terlambat besok,” kata Tejo.

“Kalau sampai terlambat, Bapak akan membuang kuda lumping kamu, karena kamu sudah berulang kali berjanji tapi tak kau tepati. Ingat itu!” kata Bapak mengancam.

“Sudah, Pak. Tak baik berteriak malam-malam. Malu didengar tetangga. Biarkan Tejo tidur,” kata Ibu menengahi.

Tejo segera membersihkan diri dan tidur. Tak lupa ia menyetel alarm agar tak terlambat bangun.

Keesokan harinya, sinar matahari masuk ke kamar Tejo melalui celah dinding kayu. Tejo terlihat masih meringkuk di bawah selimutnya.

“Tejo….bangun!” terikan Bapak membangunkan Tejo. Dengan gugup, ia melihat jam di meja samping tempat tidur. Celaka, jam 7, batinnya.

Bapak masuk ke kamar dengan wajah merah menahan marah. Tejo sadar, jika ia terlambat bangun. Ia menangis saat Bapak mengambil kuda lumpingnya.

“Bapak, jangan, Pak!” kata Tejo memohon. Namun, Bapak tak peduli. Ia membawa kuda lumping Tejo ke dapur dan memasukkannya ke dalam tungku kayu bakar. Tejo menangis meraung-raung melihat kuda lumping kesayangannya menjadi abu.

Ia tak menyangka, Bapak tega melakukannya. Tejo masuk ke kamar dan mengunci pintu. Seharian ia mengurung diri di kamar. Bahkan ia pun tak mau makan dan membolos sekolah.

***

Tejo kembali masuk ke sekolah, setelah kemarin membolos. Ia masih sedih dan marah terhadap Bapak.

“Tejo kamu dipanggil Bu Kinan ke kantor,” kata Raihan si ketua kelas.

“Ada apa?” tanya Tejo.

“Mana kutahu, mungkin karena kamu bolos kemarin,” jawab Raihan.

Tejo menuju ke kantor dengan hati berdebar-debar. Jangan-jangan aku dihukum, batinnya.

“Tejo, mengapa kamu tak masuk sekolah kemarin,” tanya Bu Kinan sesampainya Tejo di kantor. Tejo pun menceritakan dengan jujur mengapa ia tak masuk kemarin.

“Tejo, terima kasih kamu sudah jujur dengan Ibu. Menurutmu, yang kamu lakukan sudah benar apa belum?” tanya Ibu Kinan lagi.

“Salah, Bu,” ucap Tejo tertunduk.

“Lantas bagaimana cara kamu supaya hal itu tidak terjadi lagi?” tanya Bu Kinan.

“Seharusnya saya bisa mengatur waktu dan disiplin lagi,” ujar Tejo.

“Bagus. Kamu sudah paham kesalahanmu. Nah, Tejo sebentar lagi akan ada lomba FLS2N, kamu akan mewakili lomba tersebut untuk cabang seni tari. Apa kamu bersedia?” kata Bu Kinan.

“Mau Bu, aku mau,” jawab Tejo dengan mata berbinar.

***

Selama dua minggu, Tejo dan keempat temannya giat berlatih setiap hari. Ia tidak menyesal karena gagal mengikuti pertunjukan di balai desa. Namun, ia mempunyai kesempatan mengikuti lomba mewakili sekolah.

Tibalah saat lomba dilaksanakan. Tejo dan teman-temannya berusaha memberikan penampilan yang terbaik. Bapaknya ikut hadir memberi semangat. Sebelum naik ke atas panggung, Tejo mencium tangan Bapak, memohon doa restu.

Saat pengumuman pemenang lomba, tak disangka Tejo meraih juara 1 dan berhak mewakili lomba di tingkat Kabupaten Banjarnegara. Tejo merasa terharu dan bangga. Sekarang ia menyadari bahwa kedisipilinan adalah kunci kesuksesan. Ia bahagia bisa membanggakan orang tuanya. Tejo berjanji akan lebih disiplin dalam mengatur waktu supaya tidak merugikan diri sendiri.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version