23 April 2026 15:57
Hitam Biru Ilustrasi Sampul Buku Mengurai Benang Merah Cinta

Ilustrasi Cinta Ini Milikmu/ S_Marzy

OPINIJATENG.COM-Aku hamil, ketikku di pesan singkat yang kukirim padanya. Semenit … dua menit, hingga 10 menit … drettt … dreett … sebuah pesan masuk ke ponselku.

Ke ruanganku sekarang. Ia membalas pesanku. Aku beranjak menuju lantai 15 ke ruangan Direktur. Lisa sang sekretaris menilikku dari ujung rambut sampai ujung kaki. Dengan ragu wanita itu menekan nomor bosnya. Setelah berbicara sebentar, Lisa segera mengantarku ke ruangan Direktur.

Aku duduk di sofa, menunggu dia yang masih sibuk menelepon. Ini kedua kalinya aku ke ruangannya. Dahulu saat ia melamarku dan sekarang saat aku mengandung anaknya.

Aku meraba perutku yang masih rata. Akan ada sebuah nyawa yang akan bertumbuh di sana. Haruskah aku bahagia atau menangis? Lelaki itu menyudahi teleponnya dan mendekatiku.

“Jadi, kau hamil?” tanyanya. Ia berjongkok di depanku, memeriksa perutku yang masih rata. Aku mengangguk.

“Berapa usianya?” tanya dia lagi.

“Mungkin sekitar 4 minggu, aku baru mengeceknya dengan test pack. Aku belum ke dokter,” jelasku. Suaraku bergetar, aku berusaha membaca ekspresinya. Apa dia senang ataukah sebaliknya?

“Ayo, ke dokter sekarang,” ujarnya menarik tanganku.

***

Sepulang dari dokter, ia tak banyak bicara. Dia mengajakku makan malam, kemudian mengantarku ke apartemen.

“Kamu istirahat, ya, besok jangan pakai hells lagi. Aku akan membelikan sepatu flat,” katanya sebelum ia pulang ke rumahnya.

“Apa kau senang?” tanyaku sambil menahan tangannya. Ia mengacak rambutku dan mengecup keningku.

“Kita bicara lagi besok. Oke? Kamu tidur, ya,” ucapnya memelukku. Aku ingin berkata jangan pergi, tetaplah di sini. Namun, bibirku terasa kelu. Aku membalas pelukannya, mengeratkan tanganku di pinggangnya.

“Besok aku akan ke sini,” katanya, seolah tahu apa yang ada dalam hatiku. Aku melepas pelukanku.

“WA aku, jika ada yang ingin kau makan,” ucapnya lagi mengecup bibirku sekilas, kemudian ia benar-benar pergi.

Setelah ia pergi, aku tak bisa tidur. Pikiranku terus berkelana. Seandainya aku tidak menerima lamarannya, mungkin aku takkan mengalami hal ini. Perasaanku bercampur aduk. Rindu dan lara menjadi satu. Hati ini menyinta, mendamba dalam gelisah. Malam-malam kulalui dengan merindunya.

Ia hadir mereguk manis cintaku. Ribuan kupu-kupu beterbangan di sekitarku. Dunia seisinya seolah hanya milikku. Tatapannya yang tajam seolah berkata kaulah pemilik hatiku. Tak pernah ada kata cinta terucap dari bibirnya. Namun, sentuhan dan mata itu cukup untuk membuatku percaya ada cinta di sana.

***

Aku memoleskan lipstik tipis di bibirku. Aku memeriksa ponselku. Sebuah pesan darinya.

Aku sudah mengirimkan sopir. Bawa mantel dan gunakan sepatu flat. Oke?

Aku turun, benarlah, seorang sopir sudah menunggu dan membukakan pintu untukku. Mobil ini mengantarku menuju hotel tempat perayaan ulang tahun perusahaan. Sesampainya di hotel, aku turun setelah memastikan takada orang yang kukenal melihatku. Inilah aku, wanita kedua dari sang pemilik perusahaan. Aku selalu berada di tempat tersembunyi. Bahkan, aku pun takbisa menyapa suamiku di kantor. Aku hanya menunduk hormat ketika tanpa sengaja berpapasan di kantor.

Aku duduk dengan beberapa teman sambil menunggu acara inti dimulai. Seorang waitress mengantarkan camilan untuk kami.

“Gaunmu cantik. Kau beli di mana?” tanya Lusi kepadaku. Aku tergagap. Lelaki itu yang membelikan untukku.

“Aku pinjam punya sepupuku,” bisikku berbohong.

“Pasti dia kaya, gaunnya terlihat mahal,” kata Lusi lagi. Aku mengangguk sambil tersenyum.

“Marilah kita sambut, Mr. dan Mrs. Mike Franco!”

Terdengar suara MC memanggil namanya. Semua orang yang hadir berdiri dan bertepuk tangan. Ia keluar dengan menggandeng istrinya dengan wajah semringah. Istrinya tampak cantik, wajah mulus dan licin seperti porselen. Gaunnya indah dengan kaki yang jenjang. Kabarnya, ia dahulu seorang model.

***

Aku mengelus perutku. Jantungku terasa berdetak lebih cepat. Aku cemburu. Benar! Aku merasa tidak nyaman melihat kemesraan mereka. Tiba-tiba aku merasa mual. Aku pun keluar menuju toilet dan memuntahkan isi perutku. Aku menatap wajahku dan merasa kasihan dengan diriku sendiri.

Setelah merasa lebih baik, aku duduk di taman hotel, menikmati keindahan bulan. Udara terasa lebih dingin dari biasanya. Aku teringat mantelku yang tertinggal di dalam.

“Kenapa tak kaugunakan mantelmu. Udara malam tak baik untukmu.” Sebuah suara yang sangat familiar di belakangku.

“Kau merasa mual? Pusing?” tanyanya mengecek keningku. Aku menggeleng. Ia mengajakku masuk ke hotel melalui pintu belakang. Ia sudah memesan kamar agar aku bisa berisirahat.

Langkah kami terhenti, saat melihat sepasang manusia yang sedang asyik bercumbu di lorong. Mereka tidak menyadari kehadiran kami. Gaun sang wanita sudah nyaris terbuka. Aku merasa familiar dengan gaun itu. Wanita itu adalah istrinya. Aku menatap wajahnya, ia tampak terkejut. Aku meremas tangannya seolah menguatkannya. Kedua insan yang dimabuk cinta itu tak terlihat lagi, sang pria sudah menggendong wanitanya menuju kamar hotel.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku lirih.

“Aku baik-baik saja. Hal seperti itu sudah terjadi selama bertahun-tahun sebelum aku mengenalmu. Sekarang, aku sudah memilikimu dan anak kita. Kami akan segera berpisah,” ujarnya.***

“Ketulusan cinta adalah takdir yang terindah dan kita takkan pernah tahu ke mana cinta itu akan berlabuh.” -S_Marzy

Disclaimer: Cerita pendek ini merupakan karya asli penulis yang sudah diterbitkan dalam buku yang berjudul “Sanubari yang Mencinta”

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version