Hanya Sepenggal Kisah

Ilustrasi Hanya Sepenggal Kisah/S_Marzy
OPINIJATENG.COM-Tiara menatap rumah bercat putih di hadapannya. Sepuluh tahun ia tinggal di sana. Pada akhirnya, ia harus meninggalkan rumah itu. Buah hatinya menatap sedih, seolah berkata jangan pergi. Tiara tak dapat lagi menahan air matanya. Bergegas, ia menyeret kopernya menuju taksi yang sudah menunggu. Sabar, Nak. Ibu pasti segera menjemputmu, batinnya.
Taksi yang ditumpangi Tiara berhenti di depan gang kecil. Wanita itu turun menuju rumah kontrakan mungil di ujung gang. Tak banyak perabotan dalam kontrakannya, hanya ada sebuah lemari plastik, kasur, meja kecil, dan kompor. Tiara memasang foto Dewa, putra semata wayangnya.
Butiran bening mengalir tanpa bisa ditahan. Pengadilan memutuskan hak asuh Dewa pada Dimas, mantan suaminya. Tiara yang tidak mempunyai pekerjaan kalah dalam persidangan karena dianggap tidak mampu mengasuh anak. Memang, ia belum pernah bekerja. Setamat kuliah, ia menikah dan menjadi ibu rumah tangga.
Drrtt … drrtt …. Ponsel Tiara bergetar. Sebuah pesan dari Rani sahabatnya.
Jangan lupa, jam 4 ke kafe, bunyi pesannya.
Masih ada waktu, batin Tiara. Ia pun mandi dan bergegas menuju kafe Rani. Dia bekerja part time di sana. Setelah bercerai, Tiara harus bekerja keras untuk menghidupi dirinya. Suatu saat, ia juga berharap bisa membawa Dewa tinggal bersamanya.
Sore ini, kafe lumayan ramai. Tiara sibuk melayani pelanggan. Sementara Rani berada di meja kasir. Seorang lelaki, tampak memasuki kafe.
“Selamat sore, mau pesan apa?” tanya Tiara sopan.
“Americano,” ucap lelaki itu, dengan aksen Inggris yang fasih. Tiara tersenyum, dan mempersilakan menunggu. Beberapa wanita pengunjung kafe mengagumi ketampanan lelaki itu. Tinggi, tampan, dan berwajah bule. Tiara menaksir mungkin tingginya sekitar 190 cm. Sangat kontras dengannya yang tingginya hanya 157 cm.
“Silakan, ini pesanan Anda.”
Lelaki itu tampak sibuk menelepon seseorang, sehingga membuatnya tidak fokus. Tanpa sengaja, kopinya tumpah dan mengenai tangan Tiara. Wanita itu meringis, mengibaskan tangannya. Pria itu menarik Tiara menuju ke wastafel. Ia menyiram tangan Tiara untuk mengurangi rasa panas.
“Masih panas?” tanyanya. Tiara yang sedang menatapnya gelagapan.
“Aku baik-baik saja,” jawab Tiara, berusaha menarik tangannya. Namun, lelaki itu justru meniup tangannya. Ia merasa risih, saat bibir pria tampan itu begitu dekat dengan tangannya. Dadanya berdesir aneh.
“Sungguh, aku baik-baik saja,” kata Tiara lagi.
“Tenang, Sir. Aku akan mengobatinya,” timpal Rani. Mata bulatnya tampak berbinar. Tiara tahu sahabatnya pasti terpesona dengan pria bule itu.
“Baiklah,” kata lelaki itu akhirnya. Ia membayar kopinya dan keluar dari kafe. Rani tak berhenti menatapnya hingga punggungnya tak terlihat lagi.
“Bukankah dia seperti malaikat,” kata Rani menyikut Tiara.
“Mana kutahu. Aku belum pernah ketemu malaikat,” jawab Tiarasekenanya.
“Dibandingkan Dimas, dia lebih tampan, juga pasti lebih kaya,” kata Rani sambil terus mengikuti Tiara.
“Udah, deh. Kerja saja sana,” kata Tiara melempar celemek ke arah Rani.
“Baik. Lo, aku kan bosnya. Kok, jadi kamu yang perintah, sih,” protes Rani.
Mereka bersahabat dari SMA. Ranilah yang selalu setia menemani dan mendukungnya selama ini. Setelah ibuTiara tiada, Rani yang menjadi keluarganya.
Pukul 10 malam, kafe tutup. Tiara kembali ke kontrakannya. Setelah membersihkan badannya, ia pun beristirahat. Sebelum tidur ia menatap foto Dewa, putra kesayangannya. Sesekali ia menelepon anaknya, walaupun sebentar. Terkadang ia menemui Dewa di sekolah. Dimas memang tidak melarangnya bertemu anaknya. Namun, mantan mertuanya seolah ingin menjauhkan Tiara dengan anaknya.
Tok tok tok. Terdengar sebuah ketukan. Tiara melirik jam di ponselnya. Pukul 23.00. Siapa yang mengetuk? batinnya.
“Mbak Tiara!” Sebuah suara terdengar disertai ketukan. Bergegas, Tiara membukakan pintu.
“Ada apa, Mira?” tanya Tiara kepada gadis berumur 10 tahunan.
“Ibu jatuh, Mbak. Tolongin, Mbak,” kata Mira gugup.
Tiara segera menuju rumah di sebelahnya. Benar saja, Bu Rahma tergelatak di lantai dapur.
“Bu Rahma.” Tiara menepuk pipinya pelan. Sepertinya Bu Rahma, kehilangan kesadaran.
“Mira, ayo kita bawa Ibu ke rumah sakit,”
Sesampai di rumah sakit, Bu Rahma segera mendapat perawatan. Menurut dokter, ia mengalami gejala stroke. Mira tampak sedih. Tiara menepuk pundak gadis kecil itu.
“Kamu istirahat saja, Mbak akan menunggu kakakmu datang,” kata Tiara pada Mira.
“Makasih, Nak. Sudah menolong Ibu,” kata Bu Rahma.
“Sama-sama, Bu,” balas Tiara tulus.
“Nak, Ibu bisa minta tolong lagi?”
“Ya, Bu. Silakan,”
“Tolong, gantikan pekerjaan Ibu,”
Bu Mira ternyata cleaning service di sebuah apartemen mewah. Tiara hanya perlu membersihkan apartemen di siang hari, saat pemiliknya bekerja. Ia pikir tak ada salahnya, mengambil pekerjaan ini. Ia masih tetap bisa bekerja di kafe Rani.
***
Setiap pagi, Tiara membersihkan apartemen. Sudah hampir sebulan, ia bekerja di sana. Namun, belum sekali pun bertemu dengan pemiliknya. Menurut Bu Rahma, pemiliknya seorang pengusaha yang tinggal sendirian. Ia seorang pekerja keras, berangkat pagi, pulang malam. Apartemen hanyalah tempat untuk tidur saja. Benar saja, apartemen ini sangat rapi dan bersih. Tiara tak perlu bekerja keras untuk membersihkannya. Ia hanya perlu membersihkan peralatan makan, mengepel lantai, dan menyemprot tanaman di balkon. Sesekali mengantar baju kotor ke laundry.
Sebelum pulang, Tiara merapikan walk in closet. Ada puluhan jam tangan mewah tertata rapi dalam lemari. Puluhan sepatu mahal juga tertata rapi di rak. Tiara memastikan tidak ada debu yang menempel di sana. Ia pun memasukkan kemeja ke dalam lemari sesuai dengan warnanya. Setelah memastikan semua beres, Tiara mengambil upahnya dari atas kulkas. Si pemilik ternyata memberinya uang lebih. Sore harinya, Tiara kembali bekerja di kafe.
“Besok tukeran shift sama karyawan pagi, ya,” kata Rani kepada Tiara yang tengah sibuk mencuci cangkir.
“Aku kan kerja pagi.”
“Jam 4 bos kamu belum pulang kantor. Selesai dari sini langsung ke sana. Masalahnya Roni lagi nengokin orang tuanya ke Bogor.Besok siang baru balik,” ujar Rani, sedikit memaksa.
“Oke, deh,” jawab Tiara, akhirnya.
Menjelang sore, kafe ternyata justru ramai. Tiara baru bisa pulang setelah jam 5 sore. Bergegas, Tiara menuju apartemen tempat ia bekerja. Wanita itu berharap bosnya belum pulang. Menurut Bu Rahma, bosnya tak suka orang lain berada di apartemennya. Oleh karenanya, Tiara bekerja saat ia tak di rumah.
Tiara masuk apartemen.Pertama ia membersihkan peralatan makan dan dapur. Hari ini apartemen terlihat lebih berantakan.
Tiara butuh waktu lebih lama untuk membereskannya. Banyak gulungan sampah kertas di ruang kerja. Sepertinya, bos semalam bekerja lembur. Ada bekas americano di atas meja kerja.
Tiba-tiba, Tiara teringat dengan lelaki yang menumpahkan kopi ke tangannya. Sampai sekarang, lelaki itu belum berkunjung ke kafe lagi. Tiara merasa pipinya menghangat, teringat saat pria itu meniup tangannya.
Terdengar suara kunci pintu dibuka. Suara langkah kaki memasuki apartemen. Tiara mengintip dari balik pintu. Seorang lelaki muda menenteng tas kerja masuk ke kamar. Tiara tak dapat melihat mukanya karena lelaki itu memunggunginya. Tak lama kemudian terdengar gemericik air. Sepertinya bosnya sedang mandi.
Tiara buru-buru menyelesaikan pekerjaannya. Dengan hati-hati, ia mencuci cangkir dan menaruhnya dalam rak. Tak lupa, ia mengambil upahnya dan memasukkan ke dalam tas. Tiara melirik jam di tangannya, hampir pukul 19.00. Ia melewatkan salat Magrib karena sedang berhalangan.
Saat tangannya hendak menarik handle pintu, tiba-tiba listrik padam. Seketika ruangan menjadi gelap gulita. Prang! Terdengar suara benda jatuh disusul teriakan dari arah kamar bosnya. Tiara mencari ponselnya dan menghidupkan lampu senter. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menuju kamar bosnya.
Sesosok lelaki tergeletak di lantai, di sampingnya pecahan vas bunga berserakan. Tiara mengguncang lembut tubuh pria itu.
“Pak, kau baik-baik saja?” tanya Tiara cemas.
“Siapa, kau?” tanya bosnya. Napasnya tersengal-sengal.
“Aku cleaning service di sini,” jawab Tiara, sambil mencoba memapah lelaki itu ke sofa. Ia baru menyadari jika pria itu hanya menggunakan boxer. Kulit putihnya tampak mengkilat karena keringat dingin.
“Tarik napas, Pak. Hembuskan perlahan,” ujar Tiara. Sepertinya bosnya mengalami serangan panik karena gelap. Dia menunjuk lemari kecil di samping tempat tidur. Tiara membuka laci dan menemukan obat. Dengan cekatan, ia membantu si Bos meminumnya.
“Apa sudah baikan?” tanya Tiara, tangannya mengelap keringat dingin di dahi lelaki itu. Sesaat kemudian, lampu kembali menyala. Tiara dapat melihat muka bosnya dengan jelas. Dia lelaki yang menumpahkan kopi di tangannya.
“Kau?” Tiara dan lelaki itu saling menunjuk berbarengan. Akhirnya, mereka tertawa menyadari kebetulan ini.
Mereka pun saling memperkenalkan diri. Namanya Mike. Usianya 34 tahun. Setelah Mike berganti pakaian mereka terlibat obrolan seru. Ia tak terlihat dingin seperti kata Bu Rahma.
Tak terasa, hari semakin malam. Mike memaksa untuk mengantarkan Tiara pulang. Setelah pertemuan itu, hubungan mereka makin dekat. Tiara masih bekerja di apartemen Mike, bedanya ia datang saat lelaki itu masih di rumah. Saat pulang kerja, Mike sering mampir ke kafe.
Empat bulan kemudian.
Ponsel Tiara bergetar, saat ia tengah menyiapkan sarapan untuk Mike, kekasihnya. Sebuah pesan dari Dimas. Mantan suaminya itu mengajaknya bertemu.
“Dari siapa?” tanya Mike, aroma wangi sabun menguar dari tubuhnya. Rupanya ia baru selesai mandi.
Tiara dengan jujur mengatakan mantan suaminya ingin bertemu. Mike tak keberatan. Dia lelaki yang pengertian dan menerima apa adanya. Terkadang ia juga menyempatkan diri untuk jalan-jalan bertiga bersama Dewa. Tiara sangat bersyukur atas berkah ini. Ia dan Mike sama-sama yatim piatu. Jadi, Tiara tak perlu ambil pusing keluarga Mike akan menolaknya, seperti keluarga Dimas.
***
Tiara duduk berhadapan dengan Dimas. Lelaki itu hanya terdiam dan menatap Tiara yang tengah membalas pesan dari Mike. Berkali-kali Mike mengingatkannya untuk mencoba gaun yang akan ia kenakan di ulang tahun Mike.
“Ada apa?” tanya Tiara, sambil memasukkan ponselnya. Dimas meneguk minumannya.
“Ra, aku ingin rujuk,” ucap Dimas, sukses membuat Tiara terkejut. Susah payah ia melupakan kenangan 10 tahun bersama Dimas hingga pada akhirnya ia nyaman bersama Mike. Tiba-tiba saja, Dimas ingin kembali kepadanya. Tiara tahu, jika Dimas sudah dijodohkan dengan wanita berdarah biru pilihan ibunya.
“Maaf, Dimas, aku sudah punya lelaki lain,”
“Siapa? Apa aku mengenalnya?” desak Dimas.
“Kau akan tahu suatu saat nanti,” jawab Tiara. Ia pamit meninggalkan Dimas. Rupanya, Mike sudah menjemputnya untuk pergi ke butik bersama.
Keesokan harinya, Mike merayakan ulang tahunnya. Ia mengundang teman dan koleganya. Tiara tampak cantik dengan gaun pilihan Mike. Lelaki itu mengenggam tangannya dan memperkenalkan kepada teman-temannya.
“Dear, kenalkan ini karyawan aku yang paling berprestasi,” kata Mike. Seketika raut wajah Tiara berubah. Orang yang dikenalkan Mike adalah Dimas mantan suaminya yang kemarin mengajaknya rujuk.***
