Ketua Dewan Pembina PGRI Banjarnegara Kunjungi Guru Honorer Pejuang Keluarga

Ketua Dewan Pembina PGRI Kabupaten Banjarnegara, Gus Khayat (Pria berpeci) mengunjungi Ibu Siti Nuryati (nomor dua dari kiri) seorang guru Wiyata Bakti SD Negeri 2 Gelang yang sudah berusia 58 tahun/ S_Marzy
OPINIJATENG.COM – Ketua Dewan Pembina PGRI Kabupaten Banjarnegara, KH. Khayatul Makki, SH., atau yang akrab disapa Gus Khayat, mengunjungi rumah Ibu Siti Nuryati, seorang guru honorer di SD Negeri 2 Gelang, Kecamatan Rakit. Perempuan berusia 58 tahun ini telah puluhan tahun mengabdi sebagai tenaga pendidik, namun hingga kini belum juga diangkat menjadi PNS maupun PPPK. Selain itu, ia juga menghadapi tantangan berat dalam hidupnya, yakni merawat anaknya yang difabel.
Kunjungan ini berawal dari laporan mengenai perjuangan Siti Nuryati, yang tetap bertahan sebagai guru honorer meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Dalam kunjungannya, Gus Khayat mendengarkan langsung kisah perjalanan panjang Siti Nuryati sebagai pendidik sekaligus ibu pejuang bagi anaknya.
“Saya maklum dengan kondisi beliau saat itu. Menghadapi pilihan sulit antara tugas mengajar dan merawat anaknya yang membutuhkan perhatian khusus,” ujar Gus Khayat.
Tahun 2003, Siti Nuryati pernah ditugaskan sebagai guru bantu di SD Negeri 4 Jatilawang, yang lokasinya terpencil dan membutuhkan perjalanan hingga lima jam. Namun, tak bisa ia jalankan karena kondisi keluarganya. Dengan keterbatasan yang ada, ia tetap menjalankan tugasnya sebagai guru honorer di Kecamatan Rakit sambil berjuang merawat anaknya, sementara suaminya bekerja di Jakarta.
Kisah perjuangan Siti Nuryati mengundang rasa haru dan empati. Gus Khayat pun mengajak guru-guru di Banjarnegara untuk peduli terhadap sesama rekan pendidik yang menghadapi kesulitan.
“Misalnya, jika satu guru di Banjarnegara menyisihkan uang Rp 5.000 saja, bisa terkumpul Rp 25 juta untuk mengapresiasi pengabdian dan perjuangan Bu Siti,” ungkapnya.
Sebagai Ketua Dewan Pembina PGRI Kabupaten Banjarnegara, Gus Khayat menegaskan dukungan dan dedikasinya terhadap para pendidik yang masih berstatus honorer.
“Ibu Siti adalah contoh nyata seorang pendidik sejati, yang tetap mengabdikan diri untuk dunia pendidikan meski menghadapi banyak rintangan,” pungkasnya.***
