OPINIJATENG.COM – Anak yang menangis ketika HP diambil, terlalu asyik bermain gim, atau lebih memilih menonton video daripada mengobrol bersama keluarga menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua di era digital.
Di tengah perkembangan teknologi, menjauhkan anak sepenuhnya dari internet bukan perkara mudah. Perangkat digital kini bisa menjadi sarana belajar, mencari informasi, mengembangkan kreativitas, hingga berkomunikasi dengan teman sebaya.
Namun, penggunaan teknologi tanpa pendampingan juga dapat membuat anak terpapar konten yang tidak sesuai usia, perundungan siber, hingga risiko penyalahgunaan data pribadi.
Karena itu, orang tua perlu mengenal konsep digital parenting, yakni pola pengasuhan yang membantu anak menggunakan teknologi secara aman, bertanggung jawab, dan sesuai kebutuhan perkembangannya.
Alih-alih hanya melarang anak bermain HP, ada sejumlah kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan keluarga agar teknologi tidak mengambil alih waktu belajar, bermain, dan kebersamaan.
1. Jangan Hanya Melarang, Ajak Anak Memahami Alasannya
Salah satu kesalahan yang kerap terjadi saat menghadapi anak yang sulit berhenti bermain HP adalah memberikan larangan tanpa penjelasan.
Padahal, anak perlu memahami mengapa penggunaan perangkat digital harus dibatasi. Orang tua bisa menjelaskan bahwa bermain terlalu lama dapat mengurangi waktu untuk belajar, beristirahat, bergerak, dan berinteraksi dengan orang lain.
Gunakan bahasa yang sesuai dengan usia anak. Hindari memarahi atau memberikan ancaman setiap kali anak melewati batas waktu yang disepakati.
Sebagai gantinya, ajak anak membuat kesepakatan bersama mengenai kapan HP boleh digunakan dan kapan perangkat tersebut harus disimpan.
Dengan cara ini, anak tidak sekadar mengikuti perintah, tetapi juga belajar memahami tanggung jawab atas kebiasaannya sendiri.
2. Orang Tua Perlu Memberikan Contoh, Bukan Sekadar Nasihat
Anak belajar bukan hanya dari perkataan orang tua, melainkan juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.
Ketika orang tua meminta anak berhenti bermain HP, tetapi tetap sibuk menggulir media sosial saat makan bersama, anak bisa kesulitan memahami alasan di balik aturan tersebut.
Karena itu, penerapan digital parenting sebaiknya dimulai dari kebiasaan orang tua sendiri.
Cobalah menetapkan waktu bebas gawai bagi seluruh anggota keluarga, misalnya ketika makan malam, mengobrol sebelum tidur, atau melakukan kegiatan bersama pada akhir pekan.
Kebiasaan ini tidak harus langsung diterapkan secara sempurna. Konsistensi dalam menjalankannya jauh lebih penting daripada membuat banyak aturan yang akhirnya diabaikan.
3. Kenalkan Bahaya Internet Tanpa Membuat Anak Ketakutan
Internet menawarkan banyak hal menarik bagi anak, tetapi tidak semua informasi dan interaksi di dalamnya aman.
Orang tua perlu mengenalkan risiko seperti konten yang tidak sesuai usia, penipuan daring, perundungan siber, dan orang asing yang mencoba meminta informasi pribadi.
Ajarkan anak agar tidak sembarangan membagikan alamat rumah, nomor telepon, nama sekolah, kata sandi, atau foto pribadi kepada orang yang tidak dikenal.
Anak juga perlu memahami bahwa orang yang ditemui di internet belum tentu memiliki identitas dan niat seperti yang mereka tunjukkan.
Menurut UNICEF, pendampingan orang tua dan pemahaman mengenai privasi digital merupakan bagian penting dalam membantu anak menjelajahi internet dengan lebih aman.
Orang tua dapat mempraktikkannya dengan mendampingi anak ketika mencoba aplikasi baru, memeriksa pengaturan privasi, serta menjelaskan cara melaporkan akun atau konten yang mencurigakan.
4. Ubah Waktu Tanpa HP Menjadi Momen yang Menyenangkan
Membatasi penggunaan gawai akan terasa lebih sulit jika anak tidak memiliki kegiatan alternatif yang menarik.
Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada berapa lama anak menggunakan HP, tetapi juga pada kegiatan yang bisa menggantikan waktu di depan layar.
Ajak anak bermain di luar rumah, membaca buku cerita, menggambar, memasak bersama, berolahraga, atau melakukan permainan sederhana bersama anggota keluarga.
Kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kreativitas, belajar berkomunikasi, dan membangun kedekatan emosional dengan orang tua.
Jika anak terbiasa mendapatkan perhatian dan pengalaman menyenangkan di luar dunia digital, proses mengurangi waktu bermain HP berpotensi menjadi lebih mudah.
5. Bangun Komunikasi agar Anak Berani Bercerita
Pengawasan tetap diperlukan, tetapi anak juga membutuhkan ruang untuk bercerita tanpa takut langsung dimarahi.
Ketika anak mengaku melihat konten yang tidak pantas atau menerima pesan yang membuatnya tidak nyaman, dengarkan ceritanya terlebih dahulu.
Hindari langsung menyalahkan anak karena telah membuka suatu tautan atau berinteraksi dengan akun tertentu. Respons yang terlalu keras bisa membuat anak memilih menyembunyikan pengalaman serupa pada kemudian hari.
Sebaliknya, berikan pemahaman mengenai langkah yang perlu dilakukan, seperti menghentikan interaksi, memblokir akun, melaporkan konten, dan meminta bantuan orang dewasa tepercaya.
Seiring bertambahnya usia, libatkan anak dalam pembahasan mengenai aturan penggunaan teknologi. Dengan begitu, pengawasan tidak hanya menjadi bentuk kontrol, tetapi juga sarana membangun kepercayaan.
Digital Parenting Bukan Sekadar Membatasi Waktu Layar
Pada akhirnya, keberhasilan digital parenting tidak hanya ditentukan oleh ketatnya aturan penggunaan HP. Hal yang tidak kalah penting adalah kemampuan orang tua mendampingi anak agar mampu membedakan penggunaan teknologi yang bermanfaat dan aktivitas digital yang berisiko.
Orang tua juga tidak harus menguasai seluruh aplikasi atau tren internet yang digunakan anak. Kemauan untuk belajar, berdiskusi, dan mengikuti perkembangan teknologi sudah menjadi langkah awal yang berarti.
Dengan aturan yang konsisten, keteladanan, serta komunikasi terbuka, anak dapat belajar memanfaatkan internet tanpa mengabaikan kehidupan di sekitarnya.
Tujuannya bukan menjauhkan anak dari kemajuan teknologi, melainkan membekali mereka agar tumbuh menjadi pengguna digital yang bijak, mandiri, dan bertanggung jawab.
Sumber referensi:
- UNICEF Indonesia, Online Privacy Checklist for Parents.
- Kementerian Kesehatan RI, Digital Parenting: Pola Pengasuhan bagi Anak Indonesia.
- Kementerian Komunikasi dan Digital RI, 6 Tips Agar Anak Aman Berinternet.



