OPINIJATENG.COM – Perhatian media olahraga Italia terhadap perjalanan Timnas Indonesia ke final FIFA ASEAN Cup 2026 menjadi kabar membanggakan. Namun, di balik sorotan tersebut, ada pekerjaan besar yang tidak boleh dilupakan: membuktikan bahwa kebangkitan sepak bola Indonesia bukan sekadar cerita sesaat.
Timnas Indonesia memastikan tiket ke final setelah menaklukkan Bangladesh dengan skor telak 9-2 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta, pada 1 Oktober 2026. Hasil tersebut sekaligus mengantarkan skuad Garuda melewati persaingan ketat di Grup A.
Perjalanan itu kemudian mendapat perhatian media olahraga Italia, Corriere dello Sport. Sorotan tersebut terasa istimewa karena keberhasilan Indonesia menuju partai puncak bertepatan dengan empat tahun tragedi Kanjuruhan, salah satu peristiwa paling kelam dalam sejarah sepak bola nasional.
Namun, pertanyaannya bukan hanya mengapa media asing mulai memperhatikan Indonesia. Lebih penting lagi, apakah momentum ini mampu mendorong perubahan sepak bola nasional secara berkelanjutan?
Sorotan Media Asing Bukan Tujuan Akhir
Perhatian media internasional sering kali menjadi tolok ukur meningkatnya eksposur sebuah negara dalam dunia olahraga. Bagi Indonesia, pemberitaan dari Italia menunjukkan bahwa perjalanan skuad Garuda memiliki cerita yang menarik untuk diperhatikan di luar kawasan Asia Tenggara.
Meski demikian, sorotan media asing tidak seharusnya menjadi ukuran tunggal keberhasilan sepak bola Indonesia.
Popularitas bisa meningkat dalam waktu singkat, terutama ketika tim nasional meraih kemenangan besar atau tampil dalam pertandingan yang menentukan. Akan tetapi, membangun reputasi sepak bola membutuhkan proses lebih panjang.
Konsistensi permainan, kualitas kompetisi domestik, pembinaan pemain muda, profesionalisme pengelolaan klub, hingga keamanan stadion merupakan bagian penting dari perjalanan tersebut.
Dengan kata lain, kemenangan 9-2 atas Bangladesh merupakan pencapaian yang patut diapresiasi. Namun, hasil pertandingan itu perlu ditempatkan sebagai salah satu bagian dari proses panjang, bukan bukti bahwa seluruh persoalan sepak bola Indonesia telah selesai.
Tragedi Kanjuruhan Harus Menjadi Pengingat, Bukan Sekadar Simbol
Ada sisi emosional yang membuat keberhasilan Indonesia melangkah ke final terasa berbeda. Momen tersebut bertepatan dengan peringatan empat tahun tragedi Kanjuruhan pada 1 Oktober 2022, yang merenggut 135 korban jiwa.
Sebelum pertandingan melawan Bangladesh, para pemain dan seluruh elemen yang hadir di stadion mengheningkan cipta untuk mengenang para korban.
Momen tersebut mengingatkan publik bahwa sepak bola tidak hanya berkaitan dengan kemenangan, trofi, atau kebanggaan nasional. Di dalamnya terdapat tanggung jawab besar untuk melindungi manusia yang datang ke stadion demi mendukung tim kesayangannya.
Karena itu, mengenang tragedi Kanjuruhan seharusnya tidak berhenti pada seremoni tahunan. Peringatan tersebut perlu diwujudkan melalui evaluasi tata kelola pertandingan, peningkatan standar keselamatan stadion, pengelolaan kerumunan yang lebih baik, serta koordinasi yang jelas antara penyelenggara dan petugas keamanan.
Keberhasilan tim nasional akan terasa lebih bermakna apabila berjalan beriringan dengan upaya menciptakan lingkungan sepak bola yang aman dan nyaman bagi semua orang.
Sebab, prestasi di lapangan dan keselamatan penonton bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Keduanya merupakan bagian dari sepak bola yang profesional.
Potensi Besar Indonesia Membutuhkan Fondasi yang Kuat
Ketua Umum PSSI Erick Thohir pernah menggambarkan Indonesia sebagai “raksasa yang sedang tidur”. Ungkapan tersebut mencerminkan besarnya potensi sepak bola nasional yang perlu didukung pengelolaan profesional, transparan, serta pembinaan yang berkesinambungan.
Potensi itu memang tidak sulit ditemukan. Indonesia memiliki basis suporter yang besar, minat masyarakat yang tinggi terhadap sepak bola, serta banyak pemain muda yang membutuhkan kesempatan untuk berkembang.
Namun, potensi saja tidak cukup.
Pembinaan pemain usia dini harus berjalan secara terstruktur. Kompetisi kelompok umur perlu memberikan ruang bagi pemain untuk mendapatkan pengalaman bertanding yang berkualitas. Selain itu, klub harus memiliki sistem pengembangan pemain yang tidak semata-mata berorientasi pada hasil jangka pendek.
Pemanfaatan pemain diaspora juga dapat memperkuat tim nasional. Akan tetapi, langkah tersebut idealnya berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pemain yang tumbuh melalui akademi dan kompetisi di dalam negeri.
Dengan fondasi yang kuat, Indonesia tidak hanya memiliki peluang tampil baik dalam satu turnamen, tetapi juga berkesempatan menjaga daya saing dalam berbagai kompetisi internasional.
Kemenangan Dramatis Mengajarkan Pentingnya Konsistensi
Kemenangan atas Bangladesh memang berakhir dengan skor mencolok. Meski begitu, perjalanan menuju final tidak sepenuhnya berlangsung mulus.
Indonesia harus melewati persaingan ketat di Grup A. Kepastian lolos bahkan baru didapat menjelang akhir pertandingan, ketika produktivitas gol menjadi faktor penting dalam persaingan klasemen.
Situasi tersebut menunjukkan bahwa sepak bola tidak hanya ditentukan oleh kemampuan mencetak gol sebanyak-banyaknya. Konsistensi sepanjang turnamen, kedisiplinan, pengambilan keputusan, dan kemampuan menghadapi tekanan juga memainkan peran penting.
Bagi tim nasional, pengalaman dalam pertandingan penuh tekanan dapat menjadi modal berharga untuk menghadapi kompetisi berikutnya.
Sementara itu, bagi publik, perjalanan tersebut menjadi pengingat bahwa perkembangan sepak bola tidak selalu berlangsung dalam garis lurus. Ada keberhasilan, evaluasi, dan tantangan yang harus diselesaikan secara bertahap.
Oleh sebab itu, dukungan kepada Timnas Indonesia sebaiknya tidak hanya menguat ketika tim menang. Kritik yang objektif dan evaluasi yang konstruktif juga diperlukan agar tim terus berkembang.
Dari Kebanggaan Sesaat Menuju Prestasi Berkelanjutan
Perhatian media Italia terhadap Timnas Indonesia merupakan kesempatan untuk memperkenalkan sepak bola nasional kepada audiens yang lebih luas. Namun, kesempatan tersebut baru akan memiliki arti besar apabila diikuti perkembangan nyata di dalam negeri.
Indonesia membutuhkan kompetisi yang sehat, pembinaan pemain muda yang konsisten, tata kelola yang transparan, serta perlindungan yang lebih baik bagi suporter.
Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting. Dukungan terhadap tim nasional perlu disertai budaya menonton yang tertib, penghormatan terhadap lawan, dan penolakan terhadap kekerasan di lingkungan sepak bola.
Keberhasilan di turnamen memang layak dirayakan. Akan tetapi, ukuran kebangkitan sesungguhnya bukan sekadar seberapa sering nama Indonesia muncul di media asing, melainkan seberapa jauh sepak bola nasional mampu berkembang dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Pada akhirnya, sorotan media Italia seharusnya menjadi awal dari pertanyaan yang lebih besar: mampukah Indonesia mengubah momentum ini menjadi fondasi prestasi jangka panjang?
Jika pembenahan dilakukan secara konsisten, sepak bola Indonesia tidak hanya akan dikenang karena kemenangan dramatis atau perjalanan menuju final. Lebih dari itu, Indonesia berpeluang dikenal sebagai negara yang mampu membangun sepak bola kompetitif, profesional, dan aman bagi semua pihak.



