By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Bukan Sekadar Bunyi Kentongan, Ronthek Pacitan Jadi Bukti Tradisi Lokal Bisa Naik Kelas
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
CultureJateng

Bukan Sekadar Bunyi Kentongan, Ronthek Pacitan Jadi Bukti Tradisi Lokal Bisa Naik Kelas

Paskah Hariyani
Last updated: 11 Oktober 2026 14:37 14:37
By Paskah Hariyani
7 Min Read
Share
Ilustrasi penampil Festival Rontek Pacitan memainkan alat musik perkusi dengan kostum artistik dan riasan wajah berwarna biru.
Ilustrasi penampilan seni musik perkusi dalam Festival Rontek Pacitan dengan kostum khas dan suasana meriah pada malam hari.
SHARE

OPINIJATENG.COM – Tradisi lokal tidak selalu harus bertahan dalam bentuk aslinya agar tetap relevan. Selama nilai sejarahnya dijaga, sebuah kebiasaan masyarakat bisa berkembang menjadi pertunjukan yang menarik generasi muda sekaligus membuka peluang bagi sektor pariwisata.

Contents
Dari Ronda Sahur Menjadi Pertunjukan BudayaPanggung Berjalan Membuat Ronthek Lebih Dekat dengan MasyarakatGenerasi Muda Punya Peran Penting Menjaga TradisiFestival Budaya Berpotensi Menggerakkan Ekonomi LokalPelestarian Budaya Tidak Cukup dengan Festival Tahunan

Hal itu terlihat dari kesenian ronthek yang menjadi identitas budaya masyarakat Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Berawal dari kebiasaan ronda malam dan membangunkan warga untuk sahur menggunakan kentongan bambu, ronthek kini berkembang menjadi pertunjukan yang memadukan musik, tari, kostum, koreografi, hingga unsur teatrikal.

Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa warisan budaya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Tradisi juga dapat menjadi ruang kreativitas yang terus tumbuh mengikuti perubahan zaman.

Dari Ronda Sahur Menjadi Pertunjukan Budaya

Ronthek memiliki hubungan erat dengan kehidupan masyarakat Pacitan. Pada mulanya, bunyi kentongan bambu menjadi bagian dari aktivitas warga ketika berkeliling kampung saat ronda malam maupun membangunkan masyarakat untuk makan sahur selama Ramadan.

Seiring waktu, kebiasaan itu berkembang menjadi kesenian dengan irama khas. Bunyi kentongan kemudian dipadukan dengan instrumen perkusi lainnya, gamelan, serta gerakan tari yang membuat pertunjukan semakin dinamis.

Kini, ronthek tidak hanya menghadirkan suara musik tradisional, tetapi juga menampilkan kreativitas kelompok seni dalam membangun sebuah pertunjukan yang utuh.

Perubahan tersebut menjadi contoh bahwa pelestarian budaya tidak harus dilakukan dengan membatasi tradisi pada bentuk lamanya. Justru, inovasi bisa membuat kesenian lokal lebih mudah diterima oleh masyarakat lintas generasi.

Panggung Berjalan Membuat Ronthek Lebih Dekat dengan Masyarakat

Festival Ronthek Pacitan 2026 menghadirkan pendekatan baru melalui konsep panggung berjalan yang masuk dalam komponen penilaian peserta.

Mengutip pemberitaan ANTARA, konsep tersebut diperkenalkan untuk mengembalikan karakter ronthek sebagai seni pertunjukan berjalan yang dinamis. Peserta didorong menunjukkan kreativitas sepanjang jalur parade, bukan hanya ketika tampil di panggung utama.

Pada penyelenggaraan 2026, festival ini melibatkan 16 peserta dari kategori umum dan pelajar. Sebanyak 12 peserta berasal dari perwakilan kecamatan, sedangkan empat lainnya merupakan perwakilan tingkat SMA/SMK.

Panggung berjalan membuka kesempatan bagi peserta untuk membangun interaksi yang lebih luas dengan penonton. Pertunjukan tidak lagi hanya berpusat pada satu titik, tetapi dapat dinikmati sepanjang perjalanan parade.

Konsep tersebut juga memberi tantangan tersendiri bagi para peserta. Mereka perlu menjaga kekompakan musik, koreografi, stamina, dan kualitas penampilan selama bergerak mengikuti rute yang telah ditentukan.

Inovasi ini memperlihatkan bahwa tradisi bisa dikemas secara lebih atraktif tanpa harus kehilangan akar budayanya.

Generasi Muda Punya Peran Penting Menjaga Tradisi

Keterlibatan pelajar dalam Festival Ronthek Pacitan menjadi salah satu aspek penting dalam keberlanjutan kesenian tersebut.

Melalui festival, generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal budaya daerah tidak hanya melalui buku pelajaran, tetapi juga lewat pengalaman langsung berlatih, memainkan alat musik, menari, dan bekerja sama dalam kelompok.

Proses tersebut dapat menumbuhkan pemahaman bahwa kesenian tradisional membutuhkan kerja kolektif. Setiap anggota memiliki peran, mulai dari penabuh instrumen hingga penampil yang menghidupkan pertunjukan.

Di sisi lain, pelibatan anak muda juga membuka ruang bagi munculnya gagasan baru. Mereka dapat mengembangkan koreografi, tata busana, dan penyajian pertunjukan dengan tetap menghormati karakter asli ronthek.

Tantangannya adalah memastikan inovasi tidak sekadar mengejar kemeriahan. Pemahaman mengenai sejarah, makna, dan nilai budaya harus tetap menjadi bagian dari proses regenerasi.

Dengan begitu, generasi muda bukan hanya menjadi peserta festival, melainkan juga calon penjaga tradisi pada masa mendatang.

Festival Budaya Berpotensi Menggerakkan Ekonomi Lokal

Daya tarik festival tidak berhenti pada pertunjukan di sepanjang jalan. Kehadiran pengunjung juga berpotensi memberi manfaat bagi pelaku usaha di sekitar lokasi acara.

Pedagang makanan, penjual suvenir, pelaku usaha mikro, hingga penyedia jasa lokal dapat memperoleh kesempatan memperkenalkan produk mereka kepada wisatawan.

Potensi tersebut semakin relevan ketika festival budaya dikembangkan bersama promosi destinasi dan produk ekonomi kreatif. Pengunjung yang datang untuk menyaksikan pertunjukan bisa terdorong menjelajahi tempat wisata, mencicipi kuliner khas, atau membeli produk lokal.

Namun, manfaat ekonomi itu tidak muncul secara otomatis. Pengelolaan area perdagangan, akses transportasi, kebersihan, informasi wisata, serta promosi produk lokal perlu dipersiapkan dengan baik.

Festival juga perlu memberikan ruang yang memadai bagi pelaku UMKM setempat agar manfaat kegiatan tidak hanya dirasakan penyelenggara dan peserta pertunjukan.

Jika dikelola secara berkelanjutan, ronthek berpotensi menjadi salah satu pintu masuk untuk memperkenalkan identitas Pacitan kepada wisatawan yang lebih luas.

Pelestarian Budaya Tidak Cukup dengan Festival Tahunan

Festival memang penting untuk memperkenalkan kesenian kepada masyarakat. Meski demikian, keberlanjutan ronthek membutuhkan upaya yang lebih panjang daripada penyelenggaraan acara tahunan.

Latihan rutin, regenerasi pemain, dokumentasi sejarah, pengenalan budaya kepada pelajar, serta dukungan bagi kelompok seni menjadi bagian penting dari pelestarian.

Pemerintah daerah dan komunitas budaya juga perlu memastikan bahwa perkembangan pertunjukan tetap berpijak pada pengetahuan mengenai asal-usulnya.

Pada Juli 2026, Pemerintah Kabupaten Pacitan turut mengajukan kesenian ronthek sebagai Warisan Budaya Tak Benda kepada Kementerian Kebudayaan. Pengajuan tersebut masih dalam proses kurasi, sebagaimana diberitakan ANTARA pada 13 Juli 2026.

Langkah ini menunjukkan adanya upaya memperkuat pengakuan terhadap ronthek sebagai bagian dari identitas budaya Pacitan.

Pada akhirnya, keberhasilan pelestarian tidak hanya ditentukan oleh ramainya penonton atau besarnya festival. Ukuran yang tidak kalah penting adalah apakah masyarakat masih memainkan, memahami, dan mewariskan kesenian tersebut kepada generasi berikutnya.

Ronthek mengajarkan bahwa tradisi lokal memiliki peluang untuk berkembang menjadi kekuatan budaya dan pariwisata. Bunyi kentongan yang dahulu menjadi penanda kehidupan kampung kini dapat menjadi simbol kreativitas masyarakat.

Selama akar sejarahnya tetap dijaga dan manfaatnya dirasakan masyarakat, tradisi bukanlah sesuatu yang tertinggal oleh zaman. Tradisi justru bisa menjadi modal berharga untuk membangun masa depan daerah.

You Might Also Like

Keliling Kota Bareng Komunitas Vespa, Ganjar: Satu Vespa Banyak Cerita Sejuta Saudara
Tantangan MUI Bersikap Proporsional
Gerbang Masuk MAJT Sudah Dibuka, Sempat Ditutup dengan Alasan ini…
Penyaluran Dana BLT Kemiskinan Ekstrem Ditinjau Langsung Plh Bupati Banjarnegara
Asyura, PIMAJT & BAZNAS Santuni 378 Anak Yatim
TAGGED:budaya Jawa Timurbudaya lokalekonomi kreatifFestival Ronthek Pacitankesenian tradisionalPacitanpelestarian budayawisata budaya
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Pemain basket Indonesia berseragam putih menggiring bola saat dijaga pemain Thailand berseragam biru dalam pertandingan di lapangan indoor. Indonesia Raih Lima Emas Asian Games 2026, tetapi Pekerjaan Rumah Olahraga Belum Selesai
Next Article Ilustrasi pertunjukan Reog Ponorogo dengan topeng singa berhias bulu merak dan penari berkostum merah kuning. Bukan Cuma Reog, 10 Event Ponorogo 2026 Ini Punya Cerita Budaya hingga Peluang Ekonomi Warga
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Ilustrasi pemuda dan tokoh acara memegang bola sepak di atas panggung dengan pertunjukan seni tradisional dan lampu warna-warni.
Bukan Sekadar Panggung Hiburan, Anak Muda Butuh Ruang untuk Mengubah Ide Menjadi Peluang
Jateng Ruang Ekspresi
Ilustrasi penari jaran kepang mengenakan kostum tradisional merah dan emas sambil menari dengan properti kuda kepang di panggung festival.
Festival Budaya Jangan Cuma Ramai Pengunjung, Seniman dan UMKM Juga Harus Diuntungkan
Jateng Ruang Ekspresi
Ilustrasi penari tradisional mengenakan hiasan kepala berwarna emas dan membawa selendang kuning dalam pertunjukan budaya.
Budaya Lokal Bukan Sekadar Tradisi, Ini Peluang Besar bagi Ekonomi Kreatif dan Generasi Muda
Culture Jateng
Ilustrasi parade Cap Go Meh dengan peserta berbaju merah mengarak hiasan ritual di bawah deretan lampion merah.
Cap Go Meh Bukan Sekadar Festival Lampion, Ada Jejak Akulturasi Budaya yang Hidup di Indonesia
Culture Jateng
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?