OpiniJateng.com – Gunung Slamet menjadi arena pengujian kemampuan atlet trail run Jawa Tengah dalam menatap Pekan Olahraga Nasional (PON) 2028. Melalui Kejuaraan Daerah (Kejurda) Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) Jawa Tengah 2026, para pelari harus menunjukkan ketahanan fisik, kecepatan, konsentrasi, hingga kemampuan membaca jalur di medan pegunungan.
Ajang yang berlangsung di kawasan Gunung Slamet, Guci, Kabupaten Tegal, pada Minggu, 25 Oktober 2026, itu mempertemukan 123 atlet Kejurda dari berbagai daerah di Jawa Tengah. Kompetisi tersebut terintegrasi dengan Slamet Trail Run 2026 yang diikuti 908 peserta kategori umum. Total peserta mencapai 1.031 orang.
Gunung Slamet Menjadi Tempat Seleksi Atlet Potensial
ALTI Jawa Tengah memanfaatkan Kejurda sebagai kesempatan untuk mengevaluasi hasil latihan sekaligus menjaring atlet yang berpotensi memperkuat kontingen Jawa Tengah pada PON 2028.
Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah sekaligus Ketua ALTI Jateng, Sumarno, menegaskan bahwa kompetisi ini menjadi bagian dari proses pembinaan atlet. Melalui persaingan di medan yang menantang, pengurus dapat melihat kemampuan pelari secara langsung.
Seleksi tersebut penting karena nomor trail run tidak hanya menuntut kecepatan. Atlet juga harus mengatur tenaga, menjaga keseimbangan, serta mengambil keputusan dengan tepat ketika menghadapi perubahan karakter jalur.
Bukan Sekadar Berlari Cepat
Medan pegunungan menghadirkan tantangan yang berbeda dibandingkan lintasan lari biasa. Pelari perlu menjaga konsentrasi ketika melewati jalur menanjak, turunan, dan permukaan yang menuntut kehati-hatian.
Kesalahan membaca arah juga dapat menghabiskan waktu dan tenaga. Karena itu, atlet membutuhkan kombinasi daya tahan, strategi, serta kemampuan navigasi agar mampu menyelesaikan perlombaan secara optimal.
Pengalaman bertanding di Gunung Slamet dapat menjadi bahan evaluasi bagi para atlet untuk memperbaiki kelemahan sebelum menghadapi persaingan tingkat nasional.
Hasil Kejurda Jadi Bahan Evaluasi Menuju PON 2028
Salah satu peserta, Ari Krisniawan dari Boyolali, menunjukkan bahwa persaingan trail run membutuhkan lebih dari sekadar kondisi fisik. Ia finis di posisi keempat kategori 15 kilometer atau 15K dengan catatan waktu sekitar satu jam 30 menit.
Ari menjadikan hasil tersebut sebagai bahan evaluasi, terutama untuk meningkatkan kecepatan dan kemampuan membaca jalur. Pengalamannya menggambarkan pentingnya evaluasi setelah bertanding agar atlet dapat memperbaiki performa pada kompetisi berikutnya.
Bagi Jawa Tengah, proses pembinaan dan penjaringan atlet perlu berjalan secara berkelanjutan. Kejurda memberikan gambaran kemampuan para pelari, sedangkan hasil evaluasi dapat membantu mereka menyusun program latihan yang lebih terarah.
Peluang Kejuaraan Nasional Digelar di Jawa Tengah
Selain mempersiapkan atlet menuju PON 2028, Sumarno juga menyampaikan kemungkinan Jawa Tengah menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) pada 2027.
Jika rencana tersebut terealisasi, kompetisi tingkat nasional dapat membuka kesempatan bagi atlet lokal untuk menguji kemampuan menghadapi pesaing dari berbagai daerah.
Pada akhirnya, tantangan Gunung Slamet bukan hanya tentang siapa yang paling cepat mencapai garis finis. Arena ini juga menjadi tempat mengukur kesiapan, kedisiplinan, dan daya juang atlet trail run Jawa Tengah sebelum menghadapi target yang lebih besar pada PON 2028.


