By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Anak Sulit Lepas dari HP? 5 Cara Digital Parenting yang Bisa Dimulai Orang Tua dari Rumah
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
JatengPendidikan

Anak Sulit Lepas dari HP? 5 Cara Digital Parenting yang Bisa Dimulai Orang Tua dari Rumah

Paskah Hariyani
Last updated: 11 Oktober 2026 12:33 12:33
By Paskah Hariyani
6 Min Read
Share
Ibu berhijab mendampingi anak laki-laki belajar menggunakan tablet di rumah dengan ilustrasi keamanan digital.
Ilustrasi ibu mendampingi anak menggunakan tablet untuk belajar sekaligus mengenalkan pentingnya keamanan digital bagi ana
SHARE

OPINIJATENG.COM – Anak yang menangis ketika HP diambil, terlalu asyik bermain gim, atau lebih memilih menonton video daripada mengobrol bersama keluarga menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua di era digital.

Contents
1. Jangan Hanya Melarang, Ajak Anak Memahami Alasannya2. Orang Tua Perlu Memberikan Contoh, Bukan Sekadar Nasihat3. Kenalkan Bahaya Internet Tanpa Membuat Anak Ketakutan4. Ubah Waktu Tanpa HP Menjadi Momen yang Menyenangkan5. Bangun Komunikasi agar Anak Berani BerceritaDigital Parenting Bukan Sekadar Membatasi Waktu Layar

Di tengah perkembangan teknologi, menjauhkan anak sepenuhnya dari internet bukan perkara mudah. Perangkat digital kini bisa menjadi sarana belajar, mencari informasi, mengembangkan kreativitas, hingga berkomunikasi dengan teman sebaya.

Namun, penggunaan teknologi tanpa pendampingan juga dapat membuat anak terpapar konten yang tidak sesuai usia, perundungan siber, hingga risiko penyalahgunaan data pribadi.

Karena itu, orang tua perlu mengenal konsep digital parenting, yakni pola pengasuhan yang membantu anak menggunakan teknologi secara aman, bertanggung jawab, dan sesuai kebutuhan perkembangannya.

Alih-alih hanya melarang anak bermain HP, ada sejumlah kebiasaan sederhana yang bisa diterapkan keluarga agar teknologi tidak mengambil alih waktu belajar, bermain, dan kebersamaan.

1. Jangan Hanya Melarang, Ajak Anak Memahami Alasannya

Salah satu kesalahan yang kerap terjadi saat menghadapi anak yang sulit berhenti bermain HP adalah memberikan larangan tanpa penjelasan.

Padahal, anak perlu memahami mengapa penggunaan perangkat digital harus dibatasi. Orang tua bisa menjelaskan bahwa bermain terlalu lama dapat mengurangi waktu untuk belajar, beristirahat, bergerak, dan berinteraksi dengan orang lain.

Gunakan bahasa yang sesuai dengan usia anak. Hindari memarahi atau memberikan ancaman setiap kali anak melewati batas waktu yang disepakati.

Sebagai gantinya, ajak anak membuat kesepakatan bersama mengenai kapan HP boleh digunakan dan kapan perangkat tersebut harus disimpan.

Dengan cara ini, anak tidak sekadar mengikuti perintah, tetapi juga belajar memahami tanggung jawab atas kebiasaannya sendiri.

2. Orang Tua Perlu Memberikan Contoh, Bukan Sekadar Nasihat

Anak belajar bukan hanya dari perkataan orang tua, melainkan juga dari perilaku yang mereka lihat setiap hari.

Ketika orang tua meminta anak berhenti bermain HP, tetapi tetap sibuk menggulir media sosial saat makan bersama, anak bisa kesulitan memahami alasan di balik aturan tersebut.

Karena itu, penerapan digital parenting sebaiknya dimulai dari kebiasaan orang tua sendiri.

Cobalah menetapkan waktu bebas gawai bagi seluruh anggota keluarga, misalnya ketika makan malam, mengobrol sebelum tidur, atau melakukan kegiatan bersama pada akhir pekan.

Kebiasaan ini tidak harus langsung diterapkan secara sempurna. Konsistensi dalam menjalankannya jauh lebih penting daripada membuat banyak aturan yang akhirnya diabaikan.

3. Kenalkan Bahaya Internet Tanpa Membuat Anak Ketakutan

Internet menawarkan banyak hal menarik bagi anak, tetapi tidak semua informasi dan interaksi di dalamnya aman.

Orang tua perlu mengenalkan risiko seperti konten yang tidak sesuai usia, penipuan daring, perundungan siber, dan orang asing yang mencoba meminta informasi pribadi.

Ajarkan anak agar tidak sembarangan membagikan alamat rumah, nomor telepon, nama sekolah, kata sandi, atau foto pribadi kepada orang yang tidak dikenal.

Anak juga perlu memahami bahwa orang yang ditemui di internet belum tentu memiliki identitas dan niat seperti yang mereka tunjukkan.

Menurut UNICEF, pendampingan orang tua dan pemahaman mengenai privasi digital merupakan bagian penting dalam membantu anak menjelajahi internet dengan lebih aman.

Orang tua dapat mempraktikkannya dengan mendampingi anak ketika mencoba aplikasi baru, memeriksa pengaturan privasi, serta menjelaskan cara melaporkan akun atau konten yang mencurigakan.

4. Ubah Waktu Tanpa HP Menjadi Momen yang Menyenangkan

Membatasi penggunaan gawai akan terasa lebih sulit jika anak tidak memiliki kegiatan alternatif yang menarik.

Oleh sebab itu, orang tua sebaiknya tidak hanya berfokus pada berapa lama anak menggunakan HP, tetapi juga pada kegiatan yang bisa menggantikan waktu di depan layar.

Ajak anak bermain di luar rumah, membaca buku cerita, menggambar, memasak bersama, berolahraga, atau melakukan permainan sederhana bersama anggota keluarga.

Kegiatan tersebut dapat menjadi kesempatan bagi anak untuk mengembangkan kreativitas, belajar berkomunikasi, dan membangun kedekatan emosional dengan orang tua.

Jika anak terbiasa mendapatkan perhatian dan pengalaman menyenangkan di luar dunia digital, proses mengurangi waktu bermain HP berpotensi menjadi lebih mudah.

5. Bangun Komunikasi agar Anak Berani Bercerita

Pengawasan tetap diperlukan, tetapi anak juga membutuhkan ruang untuk bercerita tanpa takut langsung dimarahi.

Ketika anak mengaku melihat konten yang tidak pantas atau menerima pesan yang membuatnya tidak nyaman, dengarkan ceritanya terlebih dahulu.

Hindari langsung menyalahkan anak karena telah membuka suatu tautan atau berinteraksi dengan akun tertentu. Respons yang terlalu keras bisa membuat anak memilih menyembunyikan pengalaman serupa pada kemudian hari.

Sebaliknya, berikan pemahaman mengenai langkah yang perlu dilakukan, seperti menghentikan interaksi, memblokir akun, melaporkan konten, dan meminta bantuan orang dewasa tepercaya.

Seiring bertambahnya usia, libatkan anak dalam pembahasan mengenai aturan penggunaan teknologi. Dengan begitu, pengawasan tidak hanya menjadi bentuk kontrol, tetapi juga sarana membangun kepercayaan.

Digital Parenting Bukan Sekadar Membatasi Waktu Layar

Pada akhirnya, keberhasilan digital parenting tidak hanya ditentukan oleh ketatnya aturan penggunaan HP. Hal yang tidak kalah penting adalah kemampuan orang tua mendampingi anak agar mampu membedakan penggunaan teknologi yang bermanfaat dan aktivitas digital yang berisiko.

Orang tua juga tidak harus menguasai seluruh aplikasi atau tren internet yang digunakan anak. Kemauan untuk belajar, berdiskusi, dan mengikuti perkembangan teknologi sudah menjadi langkah awal yang berarti.

Dengan aturan yang konsisten, keteladanan, serta komunikasi terbuka, anak dapat belajar memanfaatkan internet tanpa mengabaikan kehidupan di sekitarnya.

Tujuannya bukan menjauhkan anak dari kemajuan teknologi, melainkan membekali mereka agar tumbuh menjadi pengguna digital yang bijak, mandiri, dan bertanggung jawab.

Sumber referensi:

  • UNICEF Indonesia, Online Privacy Checklist for Parents.
  • Kementerian Kesehatan RI, Digital Parenting: Pola Pengasuhan bagi Anak Indonesia.
  • Kementerian Komunikasi dan Digital RI, 6 Tips Agar Anak Aman Berinternet.

You Might Also Like

Mudik Lebaran: Waspada di Perlintasan Sebidang Kereta Api demi Keselamatan Pemudik
Selamat, Siswa-siswi SDN 4 Krandegan Lanjutkan Tren Juara!
MTQ XXIX Jateng Diikuti 832 Peserta, Taj Yasin Minta Tetap Jaga Prokes
Rofik Hananto Adakan Pelatihan RH Digital Marketing Bootcamp, 60 Milenial Antusias Ikuti Acara
Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 5 Halaman 138, 139, 141, 142, 143 Pembelajaran 1 Sub Tema 3 Tema Pengaruh Kalor Terhadap Kehidupan
TAGGED:disiplin positifKeluargakomunikasi orang tua dan anakmendidik anakperkembangan anakpola asuh anakpositive parentingtips parenting
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Ritual tari Seblang Bakungan dengan penari mengenakan busana adat dan selendang kuning Festival Budaya Jangan Cuma Jadi Tontonan, Saatnya Tradisi Lokal Menghidupi Ekonomi Warga
Next Article Ayah dan ibu berdiskusi tentang pola asuh anak di ruang keluarga sementara anak bermain balok. Ayah Bilang Tidak, Ibu Bilang Boleh! Kebiasaan Orang Tua Ini Bisa Bikin Anak Bingung
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Ilustrasi penampil Festival Rontek Pacitan memainkan alat musik perkusi dengan kostum artistik dan riasan wajah berwarna biru.
Bukan Sekadar Bunyi Kentongan, Ronthek Pacitan Jadi Bukti Tradisi Lokal Bisa Naik Kelas
Culture Jateng
Pemain basket Indonesia berseragam putih menggiring bola saat dijaga pemain Thailand berseragam biru dalam pertandingan di lapangan indoor.
Indonesia Raih Lima Emas Asian Games 2026, tetapi Pekerjaan Rumah Olahraga Belum Selesai
Jateng Olahraga
Ilustrasi atlet Indonesia mengenakan jaket putih sambil menunjukkan medali emas dan memegang maskot di panggung penghargaan.
Olahraga Disebut Investasi Generasi Muda, tetapi Apakah Semua Anak Indonesia Punya Kesempatan yang Sama?
Jateng Olahraga
Ilustrasi tim bulu tangkis Indonesia berpose mengenakan medali dan memegang maskot di podium Badminton Asia Team Championships 2026.
Bukan Sekadar Juara Umum, Mahasiswa Indonesia Buktikan Olahraga Bisa Menyatukan Bangsa di Pakistan
Jateng Olahraga
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?