Anak Sering Dimarahi Saat Berbuat Salah? 5 Cara Positive Parenting yang Bisa Dicoba Orang Tua di Rumah

Paskah Hariyani
Disclosure: This website may contain affiliate links, which means I may earn a commission if you click on the link and make a purchase. I only recommend products or services that I personally use and believe will add value to my readers. Your support is appreciated!
Ilustrasi ibu mendampingi anak belajar sambil bermain untuk mengembangkan kreativitas dan kemampuan motorik.

OPINIJATENG.COM – Menghadapi anak yang sulit diatur, menumpahkan makanan, menangis saat keinginannya tidak terpenuhi, atau menolak belajar bisa menguras kesabaran orang tua. Dalam situasi seperti ini, membentak atau memberikan hukuman sering kali menjadi reaksi spontan.

Namun, pernahkah orang tua berpikir bahwa cara merespons kesalahan anak bisa menjadi pelajaran yang lebih berharga daripada kesalahan itu sendiri?

Mendidik anak bukan hanya tentang membuat mereka patuh terhadap aturan. Lebih dari itu, orang tua juga perlu membantu anak memahami alasan di balik aturan, mengenali emosinya, serta belajar bertanggung jawab atas tindakannya.

Salah satu pendekatan yang bisa diterapkan adalah positive parenting atau pola asuh positif. Pendekatan ini menekankan komunikasi yang baik, keteladanan, penghargaan terhadap perilaku positif, serta disiplin tanpa kekerasan.

Melalui pola asuh ini, orang tua tidak harus selalu menuruti keinginan anak. Sebaliknya, mereka diajak memberikan batasan dengan cara yang tegas, tetapi tetap menghargai perasaan dan kebutuhan anak.

Lantas, bagaimana menerapkan pola asuh positif di tengah kesibukan sehari-hari?

1. Jangan Langsung Memarahi Anak Saat Melakukan Kesalahan

Ketika anak melakukan sesuatu yang tidak sesuai harapan, orang tua sebaiknya tidak terburu-buru meluapkan kemarahan.

Misalnya, anak tidak sengaja menumpahkan minuman di lantai. Alih-alih langsung membentak, orang tua bisa mengajak anak memahami apa yang terjadi dan bagaimana cara memperbaikinya.

Kalimat seperti, “Minumannya tumpah, ya. Yuk, kita bersihkan bersama,” bisa menjadi alternatif yang lebih mendidik.

Cara ini membantu anak memahami bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi. Anak juga belajar bahwa kesalahan bukan akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk memperbaiki diri.

Meski begitu, orang tua tetap perlu memberikan batasan yang jelas apabila perilaku anak membahayakan dirinya atau orang lain.

2. Ganti Larangan dengan Penjelasan yang Mudah Dipahami

Kata “jangan” sering kali muncul secara spontan ketika orang tua melihat anak melakukan sesuatu yang dianggap berbahaya atau mengganggu.

Padahal, anak juga membutuhkan penjelasan agar memahami alasan sebuah larangan.

Contohnya, ketika anak berlari di lantai yang licin, orang tua bisa mengatakan, “Jalan pelan-pelan, ya. Lantainya licin, nanti kamu bisa terpeleset.”

Penjelasan sederhana tersebut membuat anak lebih mudah memahami hubungan antara tindakan dan akibatnya.

Orang tua juga dapat memberikan pilihan yang aman. Misalnya, jika anak ingin berlari, arahkan ia ke tempat yang lebih luas dan tidak licin.

Dengan begitu, anak tidak hanya belajar mematuhi perintah, tetapi juga mulai memahami cara menjaga keselamatan dirinya.

3. Berikan Apresiasi pada Usaha, Bukan Hanya Hasil

Tidak sedikit orang tua yang baru memberikan pujian ketika anak memperoleh nilai bagus, memenangkan perlombaan, atau berhasil melakukan sesuatu dengan sempurna.

Padahal, usaha kecil dalam keseharian juga layak mendapatkan perhatian.

Ketika anak mencoba merapikan mainan, membantu mengambil barang, atau berusaha menyelesaikan tugasnya sendiri, orang tua dapat memberikan apresiasi yang spesifik.

Misalnya, “Terima kasih sudah merapikan mainanmu. Sekarang kamar kita jadi lebih rapi.”

Pujian semacam ini membantu anak memahami perilaku apa yang patut dipertahankan.

Namun, apresiasi tidak harus selalu berupa hadiah. Senyuman, pelukan, ucapan terima kasih, atau perhatian penuh sudah bisa menjadi bentuk penghargaan.

Hal terpenting adalah memberikan apresiasi secara tulus dan tidak menjadikan setiap perilaku baik sebagai sesuatu yang harus selalu dibayar dengan hadiah.

4. Ajarkan Anak Mengenali Emosi Sebelum Menuntutnya Bersikap Tenang

Anak yang menangis, berteriak, atau marah belum tentu sengaja ingin membuat orang tua kesal. Mereka mungkin belum memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami dan mengungkapkan perasaannya dengan tepat.

Dalam kondisi tersebut, orang tua bisa membantu anak mengenali emosinya terlebih dahulu.

Misalnya, ketika anak menangis karena tidak diizinkan membeli mainan, orang tua dapat mengatakan, “Kamu kecewa karena ingin mainan itu, ya? Ibu mengerti. Tapi hari ini kita tidak membelinya.”

Kalimat tersebut menunjukkan bahwa perasaan anak didengar, tetapi aturan tetap berlaku.

Penting untuk membedakan antara menerima emosi dan membenarkan semua perilaku. Anak boleh merasa marah atau kecewa, tetapi tetap perlu belajar bahwa memukul, melempar barang, atau menyakiti orang lain bukan cara yang tepat untuk mengekspresikan perasaan.

Melalui pendampingan yang konsisten, anak dapat belajar mengungkapkan emosi dengan cara yang lebih sehat.

5. Jadilah Contoh, Bukan Sekadar Pemberi Nasihat

Anak belajar bukan hanya dari apa yang dikatakan orang tua, melainkan juga dari apa yang mereka lihat setiap hari.

Jika orang tua menginginkan anak berbicara dengan sopan, menghargai orang lain, dan mampu mengendalikan amarah, perilaku tersebut perlu dicontohkan di rumah.

Sebagai contoh, ketika orang tua melakukan kesalahan, tidak ada salahnya mengakui dan meminta maaf kepada anak.

Kalimat sederhana seperti, “Maaf tadi Ayah berbicara terlalu keras. Ayah sedang kesal, tetapi seharusnya Ayah menyampaikannya dengan lebih baik,” dapat menjadi contoh nyata tentang tanggung jawab dan pengendalian emosi.

Meminta maaf bukan berarti kehilangan wibawa sebagai orang tua. Sebaliknya, tindakan tersebut menunjukkan bahwa setiap orang perlu bertanggung jawab atas perilakunya, termasuk orang dewasa.

Keteladanan juga perlu disertai konsistensi. Aturan yang diterapkan hari ini sebaiknya tetap dijelaskan dan dijalankan secara wajar pada kesempatan berikutnya.

Positive Parenting Bukan Berarti Membebaskan Anak Tanpa Aturan

Salah satu kesalahpahaman mengenai pola asuh positif adalah anggapan bahwa orang tua harus selalu bersikap lembut dan tidak boleh melarang anak.

Padahal, pola asuh positif tetap membutuhkan disiplin, batasan, dan konsekuensi yang sesuai dengan usia serta kemampuan anak.

Perbedaannya terletak pada cara orang tua memberikan arahan. Anak tidak perlu dipermalukan atau ditakut-takuti untuk belajar memahami aturan.

Sebagai contoh, ketika anak menolak merapikan mainan, orang tua bisa menjelaskan bahwa mainan perlu disimpan sebelum berpindah ke kegiatan berikutnya. Jika anak masih kesulitan, orang tua dapat membantu dan mengajaknya melakukannya bersama.

Pendekatan tersebut memberikan kesempatan kepada anak untuk belajar bertanggung jawab secara bertahap.

Orang tua juga perlu memahami bahwa perubahan perilaku tidak selalu terjadi dalam waktu singkat. Anak membutuhkan pengulangan, pendampingan, dan contoh yang konsisten untuk memahami kebiasaan baru.

Mulai dari Kebiasaan Kecil di Rumah

Menerapkan positive parenting tidak harus dimulai dengan perubahan besar. Orang tua bisa memulainya melalui kebiasaan sederhana, seperti mendengarkan cerita anak tanpa langsung menghakimi, memberikan penjelasan saat menetapkan aturan, serta menyediakan waktu untuk bermain bersama.

Penting pula bagi orang tua untuk mengenali batas kesabarannya sendiri. Ketika emosi mulai meningkat, mengambil jeda sejenak selama anak berada dalam kondisi aman dapat membantu orang tua merespons situasi dengan lebih tenang.

Jika terlanjur membentak, orang tua dapat memperbaiki situasi dengan meminta maaf, menjelaskan apa yang seharusnya dilakukan, dan mencoba pendekatan yang lebih baik pada kesempatan berikutnya.

Pada akhirnya, keberhasilan pengasuhan bukan semata-mata diukur dari seberapa cepat anak menuruti perintah. Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana anak belajar memahami aturan, menghargai orang lain, mengelola emosi, dan bertanggung jawab atas tindakannya.

Dengan komunikasi yang sehat, keteladanan, serta disiplin yang konsisten, rumah dapat menjadi tempat bagi anak untuk belajar dan berkembang tanpa harus merasa takut ketika melakukan kesalahan.

Share This Article
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *