OPINIJATENG.COM – Menjadi remaja bukan sekadar tentang bertambahnya usia, mengejar nilai bagus, atau menentukan cita-cita. Pada fase ini, anak juga sedang berusaha memahami dirinya sendiri, menghadapi perubahan emosi, membangun pertemanan, dan mencari tempat yang membuatnya merasa diterima.
Sayangnya, ketika remaja mulai menunjukkan perubahan sikap, tidak sedikit orang dewasa yang langsung menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan. Anak yang lebih banyak diam dinilai tertutup, sementara mereka yang mudah tersinggung kerap dicap sulit diatur.
Padahal, di balik perubahan tersebut, ada proses pendewasaan yang membutuhkan pendampingan. Remaja tidak selalu membutuhkan ceramah panjang untuk memperbaiki perilakunya. Terkadang, mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi.
Memahami Remaja Tidak Bisa Hanya dengan Memberikan Nasihat
Orang tua dan guru tentu memiliki peran penting dalam membimbing remaja. Namun, nasihat yang baik belum tentu mudah diterima apabila disampaikan tanpa memahami situasi yang sedang mereka hadapi.
Misalnya, ketika seorang anak merasa tertekan karena persoalan pertemanan atau tuntutan akademik, respons seperti menyuruhnya berhenti mengeluh justru bisa membuatnya semakin enggan bercerita.
Remaja perlu belajar menghadapi masalah, tetapi mereka juga membutuhkan ruang untuk mengenali perasaan, mengungkapkan pendapat, dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan.
Mendengarkan bukan berarti membenarkan semua perilaku anak. Sebaliknya, komunikasi yang terbuka dapat menjadi pintu masuk untuk memberikan arahan secara lebih tepat.
Orang tua bisa memulai dengan pertanyaan sederhana, seperti, “Apa yang paling membuatmu kepikiran akhir-akhir ini?” Pertanyaan tersebut memberi kesempatan bagi anak untuk bercerita tanpa merasa sedang diinterogasi.
Kesehatan Mental Remaja Dimulai dari Lingkungan yang Mendukung
Persoalan kesehatan mental remaja tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada individu. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat turut menentukan apakah mereka merasa aman untuk mengekspresikan diri dan meminta pertolongan.
UNICEF Indonesia bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menghadirkan modul Membantu Remaja Berkembang pada Maret 2026. Panduan bagi fasilitator ini ditujukan untuk mendukung remaja berusia 15–19 tahun dalam mengembangkan keterampilan sosial-emosional, mengelola stres, serta membangun kepercayaan diri.
Panduan tersebut juga menekankan pentingnya lingkungan yang mendukung agar remaja merasa lebih berdaya untuk mengekspresikan diri dan mencari bantuan ketika diperlukan.
Pesan ini relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rumah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman untuk bercerita, sedangkan sekolah perlu menjadi ruang belajar yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan sosial dan emosional peserta didik.
Ketika remaja merasa dihargai, mereka memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar menghadapi tekanan dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.
Jangan Menunggu Anak Bermasalah untuk Mulai Mendekat
Salah satu kekeliruan dalam mendampingi remaja adalah baru memberikan perhatian ketika nilai sekolah menurun, perilaku berubah drastis, atau konflik mulai muncul.
Padahal, membangun kedekatan membutuhkan proses yang konsisten. Percakapan ringan saat makan bersama, kesediaan mendengarkan cerita tentang teman sebaya, hingga menghargai pendapat anak bisa menjadi bagian penting dari proses tersebut.
Orang tua juga perlu memberi ruang bagi remaja untuk mengambil keputusan sesuai usia dan tingkat kematangannya. Kesempatan memilih, menyampaikan pendapat, serta belajar dari kesalahan dapat membantu mereka mengembangkan rasa tanggung jawab.
Di sekolah, guru dapat menciptakan suasana kelas yang mendorong siswa bertanya, berdiskusi, dan mengungkapkan kesulitan tanpa takut dipermalukan. Sementara itu, teman sebaya dapat berperan dengan membangun pertemanan yang saling menghormati dan tidak menormalisasi perundungan.
Pendekatan ini bukan berarti membiarkan remaja menghadapi semua persoalan sendirian. Justru, pendampingan yang baik membantu mereka belajar mandiri sembari mengetahui bahwa pertolongan tetap tersedia ketika dibutuhkan.
Mengajarkan Kekuatan Bukan Berarti Meminta Anak Selalu Baik-Baik Saja
Ada anggapan bahwa remaja yang tangguh adalah mereka yang tidak mudah menangis, tidak mengeluh, dan mampu menyelesaikan semua persoalan sendiri. Pandangan semacam ini perlu ditinjau kembali.
Ketangguhan tidak harus berarti menekan kesedihan atau menyembunyikan kecemasan. Remaja juga perlu belajar mengenali emosi, mengelola stres, menetapkan batasan yang sehat, dan mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang sulit.
Dalam proses tersebut, orang dewasa dapat menjadi contoh melalui cara mereka menghadapi konflik, mengakui kesalahan, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.
Jika seorang remaja menunjukkan tekanan emosional yang berat, mengalami kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, atau memperlihatkan tanda-tanda membahayakan dirinya sendiri, pendampingan keluarga saja mungkin tidak cukup. Bantuan dari psikolog, tenaga kesehatan, atau layanan profesional yang sesuai perlu dipertimbangkan.
Modul UNICEF juga menegaskan bahwa panduan fasilitator bukan pengganti layanan konseling maupun perawatan kesehatan mental profesional.
Memberi Ruang Tumbuh untuk Generasi Muda
Remaja sedang berada dalam perjalanan panjang untuk mengenali potensi dan menentukan arah hidupnya. Mereka membutuhkan batasan yang jelas, tetapi juga perlu mendapatkan kepercayaan. Mereka membutuhkan arahan, tetapi tetap berhak didengarkan.
Karena itu, mendampingi remaja seharusnya tidak hanya berorientasi pada bagaimana membuat mereka patuh atau meraih prestasi. Pendampingan juga perlu membantu mereka memahami diri sendiri, membangun hubungan yang sehat, serta berani meminta pertolongan ketika menghadapi kesulitan.
Keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat memulai perubahan melalui langkah sederhana: menyediakan waktu untuk mendengarkan, mengurangi kebiasaan menghakimi, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk bertumbuh.
Sebab, generasi muda yang berkembang dengan baik bukan hanya mereka yang mampu memenuhi harapan orang dewasa. Mereka juga adalah anak-anak yang merasa dihargai, memiliki kepercayaan diri, dan mengetahui bahwa mereka tidak harus menghadapi setiap persoalan sendirian.



