By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Remaja Tak Cukup Hanya Dinasehati, Mereka Juga Butuh Didengarkan
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • World
  • Economy
  • Business
  • Industry
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
HealthJateng

Remaja Tak Cukup Hanya Dinasehati, Mereka Juga Butuh Didengarkan

Paskah Hariyani
Last updated: 12 Oktober 2026 08:59 08:59
By Paskah Hariyani
6 Min Read
Share
Empat siswa SMA berseragam putih bekerja sama mengerjakan tugas kelompok di meja kelas.
Ilustrasi siswa SMA yang berdiskusi dan bekerja sama menyelesaikan tugas kelompok di kelas
SHARE

OPINIJATENG.COM – Menjadi remaja bukan sekadar tentang bertambahnya usia, mengejar nilai bagus, atau menentukan cita-cita. Pada fase ini, anak juga sedang berusaha memahami dirinya sendiri, menghadapi perubahan emosi, membangun pertemanan, dan mencari tempat yang membuatnya merasa diterima.

Contents
Memahami Remaja Tidak Bisa Hanya dengan Memberikan NasihatKesehatan Mental Remaja Dimulai dari Lingkungan yang MendukungJangan Menunggu Anak Bermasalah untuk Mulai MendekatMengajarkan Kekuatan Bukan Berarti Meminta Anak Selalu Baik-Baik SajaMemberi Ruang Tumbuh untuk Generasi Muda

Sayangnya, ketika remaja mulai menunjukkan perubahan sikap, tidak sedikit orang dewasa yang langsung menganggapnya sebagai bentuk pembangkangan. Anak yang lebih banyak diam dinilai tertutup, sementara mereka yang mudah tersinggung kerap dicap sulit diatur.

Padahal, di balik perubahan tersebut, ada proses pendewasaan yang membutuhkan pendampingan. Remaja tidak selalu membutuhkan ceramah panjang untuk memperbaiki perilakunya. Terkadang, mereka hanya membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi.

Memahami Remaja Tidak Bisa Hanya dengan Memberikan Nasihat

Orang tua dan guru tentu memiliki peran penting dalam membimbing remaja. Namun, nasihat yang baik belum tentu mudah diterima apabila disampaikan tanpa memahami situasi yang sedang mereka hadapi.

Misalnya, ketika seorang anak merasa tertekan karena persoalan pertemanan atau tuntutan akademik, respons seperti menyuruhnya berhenti mengeluh justru bisa membuatnya semakin enggan bercerita.

Remaja perlu belajar menghadapi masalah, tetapi mereka juga membutuhkan ruang untuk mengenali perasaan, mengungkapkan pendapat, dan memahami konsekuensi dari setiap keputusan.

Mendengarkan bukan berarti membenarkan semua perilaku anak. Sebaliknya, komunikasi yang terbuka dapat menjadi pintu masuk untuk memberikan arahan secara lebih tepat.

Orang tua bisa memulai dengan pertanyaan sederhana, seperti, “Apa yang paling membuatmu kepikiran akhir-akhir ini?” Pertanyaan tersebut memberi kesempatan bagi anak untuk bercerita tanpa merasa sedang diinterogasi.

Kesehatan Mental Remaja Dimulai dari Lingkungan yang Mendukung

Persoalan kesehatan mental remaja tidak bisa dibebankan sepenuhnya kepada individu. Lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat turut menentukan apakah mereka merasa aman untuk mengekspresikan diri dan meminta pertolongan.

UNICEF Indonesia bersama Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menghadirkan modul Membantu Remaja Berkembang pada Maret 2026. Panduan bagi fasilitator ini ditujukan untuk mendukung remaja berusia 15–19 tahun dalam mengembangkan keterampilan sosial-emosional, mengelola stres, serta membangun kepercayaan diri.

Panduan tersebut juga menekankan pentingnya lingkungan yang mendukung agar remaja merasa lebih berdaya untuk mengekspresikan diri dan mencari bantuan ketika diperlukan.

Pesan ini relevan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Rumah seharusnya menjadi tempat anak merasa aman untuk bercerita, sedangkan sekolah perlu menjadi ruang belajar yang tidak hanya mengejar prestasi akademik, tetapi juga memperhatikan perkembangan sosial dan emosional peserta didik.

Ketika remaja merasa dihargai, mereka memiliki kesempatan lebih baik untuk belajar menghadapi tekanan dan membangun hubungan yang sehat dengan orang lain.

Jangan Menunggu Anak Bermasalah untuk Mulai Mendekat

Salah satu kekeliruan dalam mendampingi remaja adalah baru memberikan perhatian ketika nilai sekolah menurun, perilaku berubah drastis, atau konflik mulai muncul.

Padahal, membangun kedekatan membutuhkan proses yang konsisten. Percakapan ringan saat makan bersama, kesediaan mendengarkan cerita tentang teman sebaya, hingga menghargai pendapat anak bisa menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Orang tua juga perlu memberi ruang bagi remaja untuk mengambil keputusan sesuai usia dan tingkat kematangannya. Kesempatan memilih, menyampaikan pendapat, serta belajar dari kesalahan dapat membantu mereka mengembangkan rasa tanggung jawab.

Di sekolah, guru dapat menciptakan suasana kelas yang mendorong siswa bertanya, berdiskusi, dan mengungkapkan kesulitan tanpa takut dipermalukan. Sementara itu, teman sebaya dapat berperan dengan membangun pertemanan yang saling menghormati dan tidak menormalisasi perundungan.

Pendekatan ini bukan berarti membiarkan remaja menghadapi semua persoalan sendirian. Justru, pendampingan yang baik membantu mereka belajar mandiri sembari mengetahui bahwa pertolongan tetap tersedia ketika dibutuhkan.

Mengajarkan Kekuatan Bukan Berarti Meminta Anak Selalu Baik-Baik Saja

Ada anggapan bahwa remaja yang tangguh adalah mereka yang tidak mudah menangis, tidak mengeluh, dan mampu menyelesaikan semua persoalan sendiri. Pandangan semacam ini perlu ditinjau kembali.

Ketangguhan tidak harus berarti menekan kesedihan atau menyembunyikan kecemasan. Remaja juga perlu belajar mengenali emosi, mengelola stres, menetapkan batasan yang sehat, dan mencari bantuan ketika menghadapi situasi yang sulit.

Dalam proses tersebut, orang dewasa dapat menjadi contoh melalui cara mereka menghadapi konflik, mengakui kesalahan, dan menyelesaikan masalah tanpa kekerasan.

Jika seorang remaja menunjukkan tekanan emosional yang berat, mengalami kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari, atau memperlihatkan tanda-tanda membahayakan dirinya sendiri, pendampingan keluarga saja mungkin tidak cukup. Bantuan dari psikolog, tenaga kesehatan, atau layanan profesional yang sesuai perlu dipertimbangkan.

Modul UNICEF juga menegaskan bahwa panduan fasilitator bukan pengganti layanan konseling maupun perawatan kesehatan mental profesional.

Memberi Ruang Tumbuh untuk Generasi Muda

Remaja sedang berada dalam perjalanan panjang untuk mengenali potensi dan menentukan arah hidupnya. Mereka membutuhkan batasan yang jelas, tetapi juga perlu mendapatkan kepercayaan. Mereka membutuhkan arahan, tetapi tetap berhak didengarkan.

Karena itu, mendampingi remaja seharusnya tidak hanya berorientasi pada bagaimana membuat mereka patuh atau meraih prestasi. Pendampingan juga perlu membantu mereka memahami diri sendiri, membangun hubungan yang sehat, serta berani meminta pertolongan ketika menghadapi kesulitan.

Keluarga, sekolah, dan masyarakat dapat memulai perubahan melalui langkah sederhana: menyediakan waktu untuk mendengarkan, mengurangi kebiasaan menghakimi, serta menciptakan lingkungan yang aman bagi anak untuk bertumbuh.

Sebab, generasi muda yang berkembang dengan baik bukan hanya mereka yang mampu memenuhi harapan orang dewasa. Mereka juga adalah anak-anak yang merasa dihargai, memiliki kepercayaan diri, dan mengetahui bahwa mereka tidak harus menghadapi setiap persoalan sendirian.

You Might Also Like

Momen Saat Tangis Siswa MTS Miftahul Huda Banyumas Pecah Mendapat Peci Dari Taj Yasin
Kabupaten Banyumas Peraih Kinerja Terbaik Pertama Pelaksanaan Kegiatan Statistik Produksi 2022
Gibran dan Bobby Kompak Temui Ganjar, Ada Apa?
Pembukaan Kongres Nasional Syarikat Islam ke-41 Gelar di Surakarta
Pers Efektif Perkuat Moderasi Beragama di Indonesia
TAGGED:kesehatan emosionalkesehatan mentalkomunikasi orang tua dan anakpendidikan keluargaperkembangan remajapola asuh anakRemajaUNICEF Indonesia
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Tiga perempuan berjalan di jalur taman yang dikelilingi pepohonan dan tanaman hijau. Remaja Zaman Sekarang Tak Cukup Hanya Sehat Fisik, Tekanan Sosial Juga Perlu Diperhatikan
Next Article Ilustrasi Ratu Biku Gandasari mengenakan busana tradisional dan mahkota emas di tengah alam berlatar candi dan pegunungan. Cerita Rakyat Terancam Dilupakan? Begini Cara Membuat Warisan Leluhur Kembali Dekat dengan Anak Muda
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Ilustrasi seseorang menggunakan ponsel dan laptop dengan simbol gembok digital untuk menggambarkan keamanan data.
Laptop dan HP Bisa Jadi Pintu Kebocoran Data, 7 Kebiasaan Digital Ini Perlu Diwaspadai
Electronics Jateng
Permukiman desa tradisional dengan rumah beratap rumbia, pepohonan tropis, sawah hijau, dan aliran air.
Budaya Desa Bukan Sekadar Warisan, tetapi Bisa Menjadi Kekuatan Masa Depan
Jateng Khazanah
Ilustrasi seekor kancil, kerbau, dan buaya dalam cerita anak berlatar hutan hijau dan sungai.
Bukan Sekadar Dongeng, Kisah Si Kancil Bisa Jadi Pintu Masuk Anak Mengenal Budaya Nusantara
Jateng Khazanah
Naskah kuno terbuka dengan tulisan tangan tradisional dan ornamen berwarna emas, merah, serta biru.
Naskah Kuno Bukan Sekadar Peninggalan Masa Lalu, Ada Pengetahuan Nusantara yang Bisa Kita Gali Kembali
Jateng Khazanah
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?