By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Remaja Tak Selalu Butuh Nasihat, Kadang Mereka Hanya Ingin Didengar
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • World
  • Economy
  • Business
  • Industry
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
HealthJateng

Remaja Tak Selalu Butuh Nasihat, Kadang Mereka Hanya Ingin Didengar

Paskah Hariyani
Last updated: 12 Oktober 2026 07:50 07:50
By Paskah Hariyani
8 Min Read
Share
Perempuan duduk di sofa merah sambil menatap ponsel dengan ekspresi sedih
Ilustrasi perempuan yang terlihat murung saat menggunakan ponsel di rumah.
SHARE

Opinijateng.com – Di tengah tuntutan sekolah, tekanan pertemanan, dan kehidupan di media sosial, masa remaja tidak selalu berjalan semudah yang terlihat. Seorang anak mungkin masih tertawa bersama teman-temannya, aktif di sekolah, dan terlihat baik-baik saja di rumah. Namun, belum tentu ia benar-benar merasa bahagia.

Contents
Di Balik Sikap Diam Remaja, Ada Perasaan yang Belum Tentu TerungkapKetika Rumah Belum Menjadi Tempat Paling Nyaman untuk BerceritaMedia Sosial dan Tekanan untuk Selalu Terlihat Baik-Baik SajaSekolah dan Teman Sebaya Punya Peran yang Sama PentingnyaLangkah Sederhana untuk Membuat Remaja Merasa DidengarMenjadi Orang yang Bisa Dipercaya, Bukan Sekadar Orang yang Selalu Memberi Nasihat

Ada kalanya remaja memilih diam karena takut dianggap lemah. Sebagian lainnya enggan bercerita karena khawatir masalah yang mereka hadapi justru dianggap sepele oleh orang dewasa.

Situasi ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mental remaja bukan sekadar mengajarkan mereka berpikir positif atau meminta mereka lebih kuat menghadapi masalah. Ada kebutuhan yang lebih mendasar, yakni memiliki ruang aman untuk menyampaikan perasaan tanpa takut disalahkan.

Di Balik Sikap Diam Remaja, Ada Perasaan yang Belum Tentu Terungkap

Masa remaja merupakan periode ketika seseorang mengalami banyak perubahan, mulai dari perkembangan emosi, pencarian jati diri, hingga kebutuhan untuk diterima oleh lingkungan sosialnya.

Pada fase ini, pendapat teman sebaya bisa terasa sangat penting. Komentar tentang penampilan, nilai akademik, kondisi keluarga, hingga popularitas di media sosial dapat memengaruhi cara remaja memandang dirinya sendiri.

Ketika tuntutan tersebut bertemu dengan ekspektasi keluarga dan tekanan untuk meraih prestasi, sebagian remaja dapat merasa kewalahan.

Persoalannya, tidak semua remaja mampu menjelaskan apa yang sedang mereka rasakan. Ada yang menjadi lebih mudah marah, menarik diri dari pergaulan, kehilangan minat terhadap aktivitas yang sebelumnya disukai, atau mengalami perubahan pola tidur.

Perubahan tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya gangguan mental. Namun, apabila berlangsung terus-menerus atau mulai mengganggu kegiatan sehari-hari, kondisi itu patut mendapat perhatian.

Karena itu, orang tua dan lingkungan sekitar perlu melihat perubahan perilaku secara lebih menyeluruh, bukan langsung memberikan label sebagai anak pemalas, pembangkang, atau terlalu sensitif.

Ketika Rumah Belum Menjadi Tempat Paling Nyaman untuk Bercerita

Rumah idealnya menjadi tempat bagi anak untuk beristirahat sekaligus mendapatkan dukungan emosional. Namun, komunikasi antara orang tua dan remaja terkadang menghadapi tantangan.

Pertanyaan sederhana seperti “Bagaimana sekolah hari ini?” belum tentu berujung pada percakapan yang terbuka apabila anak merasa setiap jawabannya akan diikuti kritik atau perbandingan dengan orang lain.

Kalimat seperti “Kamu kurang bersyukur”, “Temanmu saja bisa”, atau “Masalah begitu saja dipikirkan” mungkin dimaksudkan untuk menyemangati. Akan tetapi, bagi remaja yang sedang tertekan, respons tersebut dapat membuat mereka merasa tidak dipahami.

Bukan berarti orang tua harus selalu menyetujui semua keputusan anak. Bimbingan, aturan, dan tanggung jawab tetap diperlukan. Hal yang perlu diperhatikan adalah bagaimana menyampaikan arahan tanpa mengabaikan perasaan anak.

Orang tua dapat memulai dengan mendengarkan sampai selesai, mengajukan pertanyaan secara tenang, dan menghindari kesimpulan terburu-buru.

Terkadang, remaja tidak langsung membutuhkan solusi. Mereka mungkin hanya ingin didengarkan terlebih dahulu sebelum siap membicarakan jalan keluar.

Pendekatan ini sejalan dengan edukasi Kementerian Kesehatan mengenai pentingnya kasih sayang, perhatian, penghargaan terhadap pendapat anak, dan komunikasi terbuka untuk mendukung kesehatan mental remaja.

Media Sosial dan Tekanan untuk Selalu Terlihat Baik-Baik Saja

Selain lingkungan keluarga dan sekolah, media sosial turut menjadi bagian dari kehidupan remaja masa kini.

Melalui layar ponsel, mereka dapat melihat pencapaian teman, gaya hidup orang lain, tren penampilan, hingga gambaran kehidupan yang terlihat sempurna. Jika tidak disikapi secara bijak, kebiasaan membandingkan diri dapat memunculkan perasaan tertinggal atau tidak cukup baik.

Jumlah pengikut, tanda suka, dan komentar juga bisa terasa seperti ukuran penerimaan sosial. Padahal, apa yang ditampilkan di internet tidak selalu menggambarkan keseluruhan kehidupan seseorang.

Remaja perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi, memahami bahwa setiap orang memiliki perjalanan berbeda, serta mengenali kapan penggunaan media sosial mulai memengaruhi suasana hati.

Orang tua dapat membantu dengan mengajak anak berdiskusi tentang pengalaman mereka di dunia digital, bukan semata-mata melarang penggunaan ponsel.

Membangun keseimbangan antara aktivitas daring, tidur cukup, olahraga, kegiatan yang disukai, dan interaksi langsung dengan orang lain juga dapat mendukung kesejahteraan emosional.

Sekolah dan Teman Sebaya Punya Peran yang Sama Pentingnya

Kesehatan mental remaja bukan hanya urusan keluarga. Sekolah dan lingkungan pertemanan juga memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana yang aman.

Perundungan, ejekan berulang, pengucilan, dan penyebaran informasi pribadi dapat membuat remaja kehilangan rasa aman. Dampaknya tidak selalu terlihat secara langsung, tetapi dapat memengaruhi kepercayaan diri, hubungan sosial, dan semangat belajar.

Karena itu, sekolah perlu membangun budaya yang tidak menormalisasi perundungan dengan alasan bercanda atau sekadar bagian dari masa remaja.

Guru dapat menjadi salah satu orang dewasa tepercaya yang membantu siswa menyampaikan masalah. Sementara itu, teman sebaya bisa berperan dengan tidak ikut menyebarkan ejekan, berani mencari bantuan ketika melihat perundungan, dan menemani teman yang sedang mengalami kesulitan.

Meski demikian, teman tidak harus menjadi penyelesai semua masalah. Apabila persoalan yang dihadapi cukup berat, bantuan orang dewasa tepercaya dan tenaga profesional tetap diperlukan.

Langkah Sederhana untuk Membuat Remaja Merasa Didengar

Membangun komunikasi yang sehat tidak selalu membutuhkan percakapan panjang. Kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat membantu menciptakan hubungan yang lebih terbuka.

Ada beberapa hal yang bisa mulai diterapkan oleh keluarga maupun lingkungan terdekat.

Pertama, sediakan waktu tanpa gangguan. Orang tua dapat mengajak anak makan bersama, berjalan santai, atau berbincang sebelum tidur. Momen tersebut bisa menjadi kesempatan untuk mengenal kehidupan anak lebih dekat.

Kedua, dengarkan tanpa langsung menghakimi. Ketika anak bercerita, hindari buru-buru menyela atau membandingkan masalahnya dengan pengalaman orang lain. Berikan kesempatan untuk menjelaskan apa yang dirasakan.

Ketiga, hargai perasaan anak. Mengakui bahwa seseorang sedang sedih atau kecewa bukan berarti membenarkan semua tindakannya. Perasaan dapat diterima, sementara perilaku tetap perlu diarahkan dengan cara yang sehat.

Keempat, bangun kebiasaan hidup sehat. Tidur yang cukup, aktivitas fisik teratur, makanan bergizi, dan waktu istirahat yang memadai dapat membantu menjaga kesejahteraan fisik maupun emosional.

Kelima, jangan ragu mencari bantuan. Jika perubahan emosi atau perilaku berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu aktivitas sehari-hari, orang tua dapat berkonsultasi dengan psikolog, psikiater, atau tenaga kesehatan yang kompeten.

Jika remaja mengungkapkan keinginan menyakiti diri atau mengakhiri hidup, tanggapi dengan serius, dampingi agar tetap aman, dan segera cari pertolongan profesional atau layanan kegawatdaruratan.

Menjadi Orang yang Bisa Dipercaya, Bukan Sekadar Orang yang Selalu Memberi Nasihat

Menjaga kesehatan mental remaja membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Keluarga, sekolah, teman sebaya, dan masyarakat perlu membangun lingkungan yang membuat anak merasa aman untuk mengungkapkan kesulitan.

Remaja juga perlu memahami bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Mengakui bahwa diri sendiri sedang tidak baik-baik saja justru dapat menjadi langkah awal untuk menemukan dukungan yang tepat.

Pada akhirnya, keberhasilan mendampingi remaja tidak selalu diukur dari seberapa cepat mereka mampu menyelesaikan masalah. Ada kalanya hal paling berarti adalah memastikan mereka tidak merasa harus menghadapi semuanya sendirian.

Sebab, di balik nasihat tentang menjadi kuat dan mandiri, remaja tetap membutuhkan seseorang yang bersedia mendengarkan tanpa terburu-buru menghakimi. Dari percakapan sederhana itulah, kepercayaan dapat tumbuh dan langkah mencari pertolongan menjadi lebih mudah.

Sumber referensi: Kementerian Kesehatan RI, Menjaga Kesehatan Mental Remaja dan Pentingnya Kesehatan Mental bagi Remaja dan Cara Menghadapinya.

You Might Also Like

Keliling Kota Bareng Komunitas Vespa, Ganjar: Satu Vespa Banyak Cerita Sejuta Saudara
Purwaceng, Viagra dari Jawa Peningkat Gairah Pasutri dari Dieng
Penggalangan Dana GNOTA Demak dan Karanganyar Capai Rp 1 M
Sarung Batik Produksi Santri Solo yang Dikenakan Ganjar Pranowo Diminati oleh Ustaz Das’ad Latif, Begini Katanya
HPN 2023, Adakan UKW Joglosemar dan Cetak Wartawan yang Berintelektual
TAGGED:Keluargakesehatan mentalkesehatan mental remajakesehatan remajaMedia SosialParentingpendidikan anakperundungan
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Penari tradisional mengenakan busana batik merah saat menampilkan tarian di tengah hutan pinus. Budaya Lokal Kalah Viral? Saatnya Anak Muda Jawa Tengah Menguasai Algoritma dengan Cerita Sendiri
Next Article Sekelompok mahasiswa berkumpul di halaman kampus untuk berbincang dan berinteraksi sosial. Anak Muda Tak Harus Selalu Kuat: Mengapa Ruang Aman untuk Bercerita Penting bagi Kesehatan Mental?
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Orang tua dan anak perempuan tertawa bersama di sofa saat menghabiskan waktu bersama keluarga.
Rumah Seharusnya Jadi Tempat Paling Aman bagi Kesehatan Mental Anak, Sudahkah Kita Mendengarkan Mereka?
Health Jateng
Sekelompok mahasiswa berkumpul di halaman kampus untuk berbincang dan berinteraksi sosial.
Anak Muda Tak Harus Selalu Kuat: Mengapa Ruang Aman untuk Bercerita Penting bagi Kesehatan Mental?
Health Jateng
Penari tradisional mengenakan busana batik merah saat menampilkan tarian di tengah hutan pinus.
Budaya Lokal Kalah Viral? Saatnya Anak Muda Jawa Tengah Menguasai Algoritma dengan Cerita Sendiri
Gagasan Jateng
Foto ilustrasi seniman muda melukis mural berwarna-warni pada festival seni di ruang terbuka.
Anak Muda Tidak Kekurangan Ide, tetapi Apakah Kota Sudah Memberi Mereka Ruang?
Gagasan Jateng
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?