OpiniJateng.com – Ratusan warga Desa Kledung, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, merawat tradisi leluhur melalui ritual Nyadran Desa. Selain menjadi ungkapan syukur atas limpahan rezeki, kegiatan ini mempererat kebersamaan masyarakat sekaligus menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.
Tradisi yang berlangsung pada Oktober 2026 ini menghadirkan rangkaian prosesi adat, mulai dari membawa tumpeng dan hasil bumi ke sumber mata air, doa bersama, hingga kirab budaya dan pertunjukan kesenian tradisional. Seluruh rangkaian tersebut mencerminkan hubungan masyarakat dengan Tuhan, alam, dan sesama.
Nyadran Desa Kledung Jadi Wujud Syukur Warga
Kepala Desa Kledung, Samali, menjelaskan bahwa masyarakat menjalankan Nyadran sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang mereka terima. Tradisi ini juga menjadi sarana untuk menjaga kebersamaan dan meneruskan budaya lokal kepada generasi berikutnya.
Warga membawa sejumlah perlengkapan adat, seperti bucu atau nasi tumpeng, ingkung ayam, jajanan pasar, serta gunungan berisi sayuran dan buah-buahan. Mereka membawa aneka hasil bumi tersebut menuju sumber mata air sebagai bagian dari prosesi sedekah bumi.
Doa Bersama di Sumber Mata Air
Masyarakat memulai prosesi dengan berkumpul di sumber mata air untuk memanjatkan doa. Mereka mengungkapkan rasa syukur atas air sebagai sumber kehidupan sekaligus rezeki yang menopang aktivitas sehari-hari.
Setelah menyelesaikan doa, warga melanjutkan perjalanan melalui kirab budaya menuju kediaman kepala desa. Mereka kemudian mengikuti mujahadah atau doa bersama untuk memanjatkan puji syukur atas karunia yang diterima masyarakat.
Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa Nyadran tidak hanya mengandalkan kemeriahan acara. Masyarakat juga menjaga nilai spiritual dan semangat gotong royong yang menjadi bagian penting dari kehidupan desa.
Gunungan Hasil Bumi Jadi Simbol Harapan dan Ikhtiar
Perebutan gunungan hasil bumi menjadi salah satu bagian yang paling dinantikan warga. Gunungan tersebut memuat aneka sayuran dan buah-buahan yang disusun menjadi bentuk menyerupai gunung.
Masyarakat memaknai tradisi ini sebagai simbol semangat untuk terus berikhtiar mencari rezeki. Melalui hasil bumi yang mereka kumpulkan, warga juga menegaskan pentingnya rasa syukur atas karunia yang mendukung kehidupan sehari-hari.
Selain mengandung nilai spiritual, kegiatan ini mempertemukan warga dalam suasana kebersamaan. Mereka dapat berinteraksi, menjaga hubungan sosial, dan memperkuat rasa memiliki terhadap tradisi desa.
Kesenian Bangilun dan Wayang Kulit Meriahkan Nyadran
Nyadran Desa Kledung juga menghadirkan pertunjukan seni tradisional yang memperkaya rangkaian acara. Kelompok penari menampilkan kesenian Bangilun di sejumlah punden, termasuk kawasan sumber mata air Kali Serbut dan Kali Jurang.
Menjaga Kesenian Tradisional agar Tetap Hidup
Pementasan Bangilun menjadi salah satu cara masyarakat mempertahankan kesenian yang melekat pada identitas budaya setempat. Kehadiran pertunjukan ini sekaligus memberi ruang bagi masyarakat untuk mengenal dan menghargai warisan seni daerah.
Selain Bangilun, warga juga menikmati pertunjukan wayang kulit selama dua hari dua malam. Pertunjukan tersebut menambah kekayaan acara sekaligus memperlihatkan bahwa tradisi Nyadran tidak hanya berisi ritual, tetapi juga menjadi ruang bagi seni dan kebudayaan lokal.
Keterlibatan masyarakat dalam rangkaian acara turut menentukan keberlangsungan tradisi tersebut. Ketika warga terus memberi ruang bagi kesenian lokal, generasi muda memiliki kesempatan untuk mengenal nilai budaya yang tumbuh di lingkungan mereka.
Nyadran Menjadi Warisan Budaya yang Perlu Dijaga
Tradisi Nyadran Desa Kledung menunjukkan bagaimana masyarakat mempertahankan identitas lokal melalui kegiatan yang menggabungkan rasa syukur, kebersamaan, dan kesenian tradisional.
Di tengah perubahan zaman, pelestarian tradisi membutuhkan keterlibatan berbagai generasi. Masyarakat dapat meneruskan nilai-nilai Nyadran melalui partisipasi dalam kegiatan adat, pengenalan kesenian daerah, serta penghargaan terhadap kearifan lokal.
Nyadran bukan sekadar agenda tahunan bagi warga Desa Kledung. Tradisi ini juga menjadi pengingat tentang pentingnya menjaga hubungan sosial, menghormati alam, dan mensyukuri rezeki yang menopang kehidupan masyarakat.
Dengan terus merawat tradisi tersebut, warga Desa Kledung turut menjaga warisan budaya Temanggung agar tetap dikenal dan memiliki makna bagi generasi mendatang.


