By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Bukan Sekadar Coretan, Doodle Art Bisa Jadi Cara Anak Muda Menjaga Budaya Lokal
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
JatengRuang Ekspresi

Bukan Sekadar Coretan, Doodle Art Bisa Jadi Cara Anak Muda Menjaga Budaya Lokal

Paskah Hariyani
Last updated: 11 Oktober 2026 19:56 19:56
By Paskah Hariyani
7 Min Read
Share
Tiga seniman sedang membuat mural bergambar potret wajah berwarna merah dan grafiti pada dinding beton perkotaan.
Ilustrasi seniman jalanan menciptakan mural potret wajah dan grafiti sebagai bentuk ekspresi seni di ruang publik.
SHARE

OPINIJATENG.COM – Di tengah derasnya tren digital dan budaya populer, anak muda memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan siapa diri mereka. Salah satunya melalui doodle art, seni menggambar yang tampak sederhana, tetapi bisa menjadi medium untuk menyampaikan gagasan, identitas, hingga kecintaan terhadap budaya lokal.

Contents
Ketika Budaya Lokal Bertemu Gaya Visual Anak MudaPenelitian di Bekasi Menunjukkan Potensi Doodle ArtKomunitas Kreatif Bisa Menjadi Ruang Belajar BudayaMedia Sosial Bisa Memperluas Jangkauan KaryaPelestarian Budaya Tidak Harus Terjebak dalam Cara Lama

Bagi sebagian orang, doodle mungkin hanya berupa kumpulan garis, karakter unik, simbol, dan gambar spontan. Namun, ketika kreativitas itu bertemu dengan unsur budaya daerah, coretan tersebut bisa berkembang menjadi sesuatu yang lebih bermakna.

Doodle tidak lagi sekadar aktivitas mengisi waktu luang. Seni ini berpotensi menjadi jembatan antara tradisi yang diwariskan dari generasi sebelumnya dengan selera visual generasi muda yang terus berubah.

Ketika Budaya Lokal Bertemu Gaya Visual Anak Muda

Salah satu tantangan dalam pelestarian budaya adalah bagaimana membuatnya tetap relevan bagi generasi baru. Budaya tidak cukup hanya diperkenalkan sebagai peninggalan masa lalu. Nilai-nilainya juga perlu hadir dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui bentuk ekspresi yang dekat dengan dunia anak muda.

Di sinilah doodle art menawarkan kemungkinan baru.

Motif tradisional, simbol daerah, karakter khas, hingga cerita yang berkembang di lingkungan masyarakat dapat menjadi sumber inspirasi karya visual. Unsur tersebut kemudian diolah dengan gaya yang lebih bebas, ekspresif, dan sesuai dengan karakter pembuatnya.

Pendekatan ini tidak harus membuat budaya kehilangan keasliannya. Sebaliknya, kreativitas dapat menjadi cara untuk memperkenalkan kembali nilai-nilai lokal melalui bahasa yang lebih mudah diterima generasi masa kini.

Anak muda tidak selalu harus melestarikan budaya dengan cara yang sama seperti generasi sebelumnya. Mereka juga dapat berperan sebagai pencipta, penafsir, dan pengembang karya yang berangkat dari akar tradisi.

Penelitian di Bekasi Menunjukkan Potensi Doodle Art

Potensi tersebut turut dibahas dalam penelitian berjudul Ekspresi Identitas Remaja Urban dalam Membangun Keberlanjutan Seni Budaya Komunitas Pelukis Muda yang ditulis Rd. Dancu Lokita Pramesti Dewi, Heni Pridia, dan Saktisyahputra.

Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Pustaka Komunikasi Volume 9 Nomor 1 Tahun 2026 itu mengkaji doodle art sebagai bentuk ekspresi kreatif anak muda di Bekasi. Kajian tersebut menyoroti pertemuan antara elemen budaya lokal dan gaya visual kontemporer dalam karya para pelukis muda.

Dengan pendekatan kualitatif melalui studi kasus, penelitian tersebut memanfaatkan observasi partisipatif, wawancara mendalam, serta dokumentasi karya visual untuk memahami fenomena yang diteliti.

Temuannya menunjukkan bahwa doodle art dapat berfungsi sebagai media komunikasi budaya sekaligus representasi identitas generasi muda. Aktivitas berkarya dalam komunitas juga memiliki potensi untuk mendukung regenerasi dan keberlanjutan seni budaya di era digital.

Temuan ini memperlihatkan bahwa pelestarian budaya tidak selalu harus berlangsung melalui kegiatan formal. Komunitas kreatif juga dapat menjadi ruang bagi anak muda untuk mengenali, mengolah, dan meneruskan nilai budaya melalui karya yang mereka hasilkan.

Komunitas Kreatif Bisa Menjadi Ruang Belajar Budaya

Di balik sebuah karya visual, terdapat proses belajar yang tidak selalu terlihat. Seorang seniman muda perlu mencari inspirasi, memahami objek yang digambar, mengembangkan keterampilan, serta berdiskusi dengan orang lain untuk menyempurnakan karyanya.

Ketika proses tersebut berlangsung dalam komunitas, pengalaman berkesenian menjadi lebih luas.

Anggota komunitas dapat saling bertukar ide, memperkenalkan gaya menggambar, dan membicarakan sumber inspirasi yang mereka temukan. Jika budaya lokal menjadi bagian dari proses itu, komunitas juga berpeluang menjadi tempat bertemunya kreativitas dengan pengetahuan budaya.

Peran komunitas karena itu tidak berhenti pada penyelenggaraan pameran atau produksi karya. Komunitas dapat membantu membangun lingkungan yang membuat anak muda merasa memiliki ruang untuk berekspresi sekaligus belajar menghargai warisan budaya.

Meski demikian, keberlanjutan komunitas membutuhkan dukungan yang konsisten. Ruang berkarya, kesempatan berkolaborasi, akses terhadap kegiatan seni, dan apresiasi terhadap karya anak muda menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.

Tanpa ruang yang memadai, kreativitas berisiko hanya menjadi aktivitas sesaat. Sebaliknya, lingkungan yang mendukung dapat membantu proses berkesenian berkembang menjadi kegiatan yang berkelanjutan.

Media Sosial Bisa Memperluas Jangkauan Karya

Perkembangan media sosial turut membuka peluang bagi seniman muda untuk memperkenalkan karya kepada audiens yang lebih luas. Karya yang sebelumnya hanya dapat dinikmati di lingkungan komunitas kini berpotensi menjangkau masyarakat lintas daerah.

Foto karya, video proses menggambar, hingga cerita tentang inspirasi di balik sebuah ilustrasi dapat menjadi sarana untuk memperkenalkan seni sekaligus membangun percakapan tentang budaya lokal.

Namun, popularitas di ruang digital bukan satu-satunya ukuran keberhasilan.

Karya yang memperoleh banyak perhatian belum tentu secara otomatis meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap budaya yang diangkat. Karena itu, proses kreatif tetap perlu disertai pemahaman mengenai makna simbol, asal-usul motif, dan konteks budaya yang digunakan.

Hal ini penting agar budaya tidak sekadar dijadikan ornamen visual demi mengikuti tren. Kreativitas akan memiliki nilai lebih ketika mampu menghadirkan daya tarik estetis sekaligus memperkenalkan cerita di balik suatu tradisi.

Dengan demikian, media sosial sebaiknya dipandang sebagai sarana distribusi dan dialog, bukan sebagai tujuan akhir dari kegiatan berkesenian.

Pelestarian Budaya Tidak Harus Terjebak dalam Cara Lama

Salah satu pelajaran penting dari perkembangan seni kreatif anak muda adalah bahwa pelestarian budaya dapat dilakukan melalui beragam pendekatan.

Budaya bisa hadir dalam pertunjukan, musik, kerajinan, desain, ilustrasi, maupun karya visual yang berkembang di lingkungan perkotaan. Bentuknya boleh berubah mengikuti perkembangan zaman, selama proses pengembangannya tetap menghargai konteks dan nilai yang mendasarinya.

Doodle art menawarkan salah satu contoh bagaimana kreativitas kontemporer dapat menjadi ruang pertemuan antara identitas personal dan kebudayaan kolektif.

Bagi anak muda, berkarya dapat menjadi cara untuk menyampaikan pandangan mengenai lingkungan tempat mereka tumbuh. Sementara itu, bagi masyarakat, karya tersebut bisa membuka kesempatan untuk melihat budaya lokal melalui perspektif yang berbeda.

Tentu saja, keberlanjutan budaya tidak dapat dibebankan hanya kepada seniman muda. Lembaga pendidikan, komunitas, pemerintah daerah, pelaku industri kreatif, dan masyarakat juga memiliki peran dalam menciptakan ekosistem yang mendukung kreativitas.

Ruang pameran, lokakarya, program kolaborasi, serta dokumentasi karya dapat menjadi langkah untuk mempertemukan generasi muda dengan kekayaan budaya di sekitarnya.

Pada akhirnya, menjaga budaya bukan berarti membekukannya agar tidak berubah. Tantangannya justru bagaimana nilai-nilai yang diwariskan tetap dapat dipahami dan menemukan tempat dalam kehidupan generasi berikutnya.

Doodle mungkin bermula dari sebuah coretan sederhana. Namun, ketika kreativitas bertemu dengan kesadaran budaya dan dukungan komunitas, coretan itu dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal identitas, membangun percakapan, dan menjaga warisan budaya tetap hidup di tengah perubahan zaman.

 

You Might Also Like

PLTMH Diharapkan Bisa Menurunkan Biaya Kubikasi yang Mahal
Konvensi Humas Indonesia, Membangun, Meneguhkan Kepercayaan dan Reputasi terhadap Bisnis serta Kehidupan Sosial
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 21
Aparat Gabungan Pantau Prokes di Obyek Wisata Pantai Widarapayung Indah
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 85
TAGGED:Anak MudaBekasibudaya lokaldoodle artidentitas remajakomunitas kreatifkreativitas digitalpelestarian budayaseni kontemporer
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Dua seniman sedang melukis mural grafiti bermotif geometris berwarna hitam, putih, abu-abu, dan cokelat pada dinding bangunan. Bukan Sekadar Tembok Bergambar, Mural Bisa Mengubah Wajah Kota dan Menghidupkan Ekonomi Kreatif
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Dua seniman sedang melukis mural grafiti bermotif geometris berwarna hitam, putih, abu-abu, dan cokelat pada dinding bangunan.
Bukan Sekadar Tembok Bergambar, Mural Bisa Mengubah Wajah Kota dan Menghidupkan Ekonomi Kreatif
Jateng Ruang Ekspresi
Ilustrasi pertunjukan tari dan musik di atas panggung dengan penampil berpakaian hijau serta penonton memadati area festival.
Bukan Sekadar Joget dan Musik, Komunitas Anak Muda Indonesia Timur Punya Pesan Penting untuk Jakarta
Jateng Ruang Ekspresi
Bukan Sekadar Ekstrakurikuler, PMR SMA Negeri 1 Purwanegara Ajarkan Kepedulian dan Kemanusiaan
Banjarnegara News Pendidikan
Ilustrasi pemuda dan tokoh acara memegang bola sepak di atas panggung dengan pertunjukan seni tradisional dan lampu warna-warni.
Bukan Sekadar Panggung Hiburan, Anak Muda Butuh Ruang untuk Mengubah Ide Menjadi Peluang
Jateng Ruang Ekspresi
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?