Teh Herbal Serbuk Nanopartikel, Prof Sudarmin: Bisnis Menjanjikan Bisa Jadi Pematik Ekonomi Masyarakat
Prof Dr Sudarmin MSi (berdiri paling ujung kiri) saat kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Unnes di Perum Grafika Citra Sentosa Blok B 1 nomor 2 Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Minggu 21 Agustus 2022
OPINIJATENG.COM – Memproduksi teh herbal dalam bentuk nanopartikel sangat menjanjikan sebuah usaha rumahan sekelas industri rumahan atau industri rumah tangga (IRT).
“IRT adalah industri skala kecil dengan tenaga kerja terbatas serta modal tidak terlalu besar. Tenaga kerja atau karyawan biasanya satu hingga empat orang dan merupakan anggota keluarga sendiri atau orang terdekat.”
Hal itu disampaikan Koordinator Program Studi S2 Pendidikan Kimia Pascasarjana Unnes, Prof Dr Sudarmin MSi saat kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Unnes di Perum Grafika Citra Sentosa Blok B 1 nomor 2 Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang, Minggu 21 Agustus 2022.
BACA JUGA:Ratusan Anggota Polisi dan Keluarga, Ramaikan Olah Raga Bersama di Halaman Mapolres Salatiga
Pengabdian kepada masyarakat Unnes itu bertema “Peningkatan keterampilan pada kader PPK di RW 05 Gedawang Banyumanik Semarang mengenai tata kelola tanaman obat keluarga (Toga) produksi jamu dan teh herbal nanopartikel sebagai pematik ekonomi masyarakat.”
“Peserta pelatihan para ibu kader PKK di RT 05 dan RT 07 RW 05 Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang,” jelas Prof Sudarmin.
Tim pengabdian kepada masyarakat di Perum Grafika Citra Sentosa Blok B 1 nomor 2 Kelurahan Gedawang, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang yang diketuai Prof Sudarmin itu beranggotakan Dr Rr SE Pujiastuti SKM MNs (Politeknik Kesehatan Kemenkes Semarang), Dr Sri Mursiti MSi (FMIPA-Pendidikan Kimia Unnes), Dr Nuni Widiarti SPd MSi (FMIPA-Pendidikan Kimia Unnes), Willy Tirza Eden SFarm, Apt MSc (Ketua Program Studi D3/S1, FMIPA-Kimia Unnes), dan dibantu beberapa mahasiswa Pendidikan Kimia Unnes.
Prof Sudarmin menjelaskan, bahwa usaha ekonomi berbasis pada tanaman obat untuk jamu dan teh herbal dengan ukuran serbuk nanopartikel sangat menjanjikan untuk meningkatkan pendapatan dan pematik ekonomi bagi masyarakat.
BACA JUGA:Sat Resnarkoba Polresta Banyumas Amankan Pemuda Pemakai Tembakau Sintesis
“Hampir semua RT atau setidaknya RW di Kota Semarang memiliki lahan untuk tanaman obat keluarga (Toga). Jika seluruh ibu-ibu kader PKK di tiap RT / RW di Kota Semarang menanam beragam jenis Toga, kemudian dijadikan teh herbal nanopartikel, selain dikonsumsi sendiri untuk kesehatan seluruh anggota keluarganya bisa juga dijadikan IRT. Usaha tambahan dengan modal minimalis (IRT) namun mendapatkan hasil yang lumayan itu bisa membantu para suami dalam hal memenuhi kebutuhan dapur sehari-hari,” ujarnya.

Menurut Prof Sudarmin, ke depan pengobatan herbal dengan teknologi nanopartikel akan menjadi tren di Indonesia bahkan dunia. Karena proses produksinya gampang, alat (blender nano partikel) harganya tidak mahal (di bawah Rp1 juta), namun khasiat teh herbal nanopartikel sangat luar biasa.
“Saat ini dan ke depan, produk teh celup dan jamu tradisional nanopartikel menjadi tren dalam bisnis digital.”
Ketua RT 05 dan RT 07/RW 5 Kelurahan Gedawang, Banyumanik, Semarang Rafianto dan Husni dalam sambutannya menyatakan terimakasih kepada Prof Sudarmin dan seluruh anggota tim pengabibdian kepada masyarakat Unnes yang telah mau memberi informasi tentang IRT yang bahan-bahan dasarnya ada di sekeliling rumah, mudah dibudidayakan, dan hasilnya sangat luar biasa.
BACA JUGA:Luar Biasa! Dalam Sehari 28 Orang Pejudi Ditangkap Jajaran Polda Jateng
“Terima kasih Prof, semoga pengabdian masyarakat dari Unnes benar-benar menjadi pematik ekonomi warga kami,” kata Rafianto dan Husni.
Lebih jauh Prof Sudarmin menjelaskan mengapa teh produk Perkebunan Teh Tambi Kejajar Wonosobo tidak dijual bebas di supermarket atau swalayan seperti produk teh lain di Indonesia.
“Karena teh hasil Perkebunan Teh Tambi itu istimewa. Sudah ada pembelinya, yakni PT Unilever. Dengan teknologi nanopartikel, teh itu bisa untuk beragam produk. Antara lain produk kecantikan. itu lho yang bisa membuat wajah ibu-ibu menjadi glowing. Dan, itu harganya mahal. Karena penelitian yang membutuhkan biaya mahal serta alat-alat produksinya yang juga teknologi tinggi terkini, semuanya dimasukkan ke dalam biaya produksi,” jelasnya.
Padahal, lanjut Prof Sudarmin, seluruh ibu-ibu PKK bisa membuat teh nanopartikel dan hasilnya bisa untuk kesehatan dan kecantikan kulit wajah.
BACA JUGA:Haid Tidak Teratur, Jerawat Sering Muncul, Hati-hati Ancaman Polycystic Ovary Syndrome
“Dan, itu itu tidak perlu biaya mahal. Cukup dibuat di rumah masing-masing, atau diproduksi untuk dijual di kalangan sendiri.”
Ini tujuan dan manfaat kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilakukan Prof Sudarmin dkk bagi para kader Ibu-Ibu PKK di RW 05 Kelurahan Gedawang, Banyumanik, Semarang.
Tujuan:
1. Tata ulang, merawat dan pembudidayaan Toga, sehingga taman Toga menjadi baik dan menarik.
2. Pemberian keterampilan tentang pembuatan jamu dan teh herbal nanopartikel
3. Keterampilan pengenalan pemasaran produk jamu dan teh herbal nanopartikel untuk pematik ekonomi masyarakat
4. Pengenalan berbagai hasil riset mengenai metabolit sekunder dan bioaktivitas metabolit bagi imunitas dan kesehatan.
BACA JUGA:Senator RI Asal Jateng Abdu Kholik Sayangkan Kinerja DPD Luput dalam Sidang Nota RAPBN
Manfaat:
1. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader PKK RW 5 Gedawang dalam manajemen pemeliharaan dan pemanfaatan berbagai Toga untuk jamu dan teh herbal nanopartikel
2. Peningkatan ekonomi bagi para pengelola taman Toga bagi masyarakat
3. Peningkatan pengetahuan dan keterampilan dalam memproduksi teh herbal celup dan jamu tradisional nanopartikel
4. Peningkatan keahlian kader PKK dalam teknik marketing untuk produk jamu dan the herbal nanopartikel
Teknik dan cara pembuatan teh herbal:
1. Cuci bahan untuk teh herbal, dilayukan, dan dipotong-potong
2. Bahan teh herbal dimasukkan ke dalam oven untuk mematikan bakteri dan dikeringkan pada kadar air tertentu
3. Diekstrak dengan cara dipanaskan, serta disaring dengan kepekatan tertentu
4. Difermentasikan pada suhu tertentu
5. Dicampur dengan bahan-bahan aditif lain agar teh awet dan dengan aroma tertentu
6. Packing dengan kemasan yang baik
7. Dipasarkan dengan cara marketing digital
BACA JUGA:Dunia Internasional Akui Tiga Tahun Indonesia Swasembada Beras
Target luaran adalah publikasikan dalam jurnal nasional S3/S4/S5/S6 (accepted) dan media massa online.
Pada kegiatan ini akan dilakukan pembuatan teh herbal dari berbagai produk teh Perkebunan Tambi Wonosobo dan dari Tanaman Hutan Tropis.
Hasil praktek pembuatan teh herbal nanopartikel dari Tambi, Bajakah, Akar Kuning, Sarang Semut, dan Taxus.
“Hasil uji Fitokimia untuk teh Tambi Wonosobo yang mana setiap teh memiliki kesamaan dan perbedaan untuk kandungan kimianya. Rasa pahit pada teh karena adanya kandungan Tanin dan Saponin.”***
