Ulama Sudan Berbagi Ilmu Ponpes Mumtaza Prapas
Syaikh Dr. Fadhollah Hamzah memberikan materi di hadapan santri/Foto Dr. Tuswadi
OPINIJATENG.COM-Atmosfer keilmuan Timur Tengah terasa kental di Pondok Pesantren Mumtaza, Prapas, Banjarnegara yang sudah biasa mendatangkan Syaikh/Akademisi Bahasa Arab untuk mengisi acara Kuliah umum dan workshop Bahasa Arab intensif dengan menghadirkan narasumber internasional, Syaikh Dr. Fadhollah Hamzah dari Sudan, pakar ilmu qira’at dan muhafidz di Masjid Nabawi Madinah.
Acara yang digelar dari Kamis 14 /11/ 2025 ini diikuti oleh 200 lebih peserta dari Santri yang antusias mendalami kaidah-kaidah Bahasa Arab.
Kedatangan Syaikh Dr. Fadhollah Hamzah, yang dikenal sebagai pakar dan akademisi Bahasa Arab dari Khartoum, menjadi momen berharga bagi komunitas pesantren di Banjarnegara.
Dalam sesi pembuka, Syaikh Fadhollah menekankan urgensi penguasaan Bahasa Arab sebagai kunci untuk memahami sumber utama ajaran Islam, yaitu Al-Qur’an dan As-Sunnah.
”Bahasa Arab bukan hanya alat komunikasi, melainkan jembatan untuk menyelami kedalaman makna syariat. Mempelajari nahwu (tata bahasa) dan sharaf (morfologi) adalah langkah awal yang fundamental bagi setiap penuntut ilmu agama,”ujar Syaikh Fadhollah.
Materi yang disampaikan dalam daurah meliputi tinjauan mendalam terhadap kaidah Nahwu dan Sharaf tingkat menengah, hingga latihan praktik Muhadatsah (percakapan) Bahasa Arab yang aplikatif. Metode pengajaran yang interaktif dan penuh humor khas ulama Sudan membuat peserta merasa nyaman dan mudah menyerap ilmu yang disampaikan.
Pimpinan Ponpes Al Mumtazah, Al Ustadz Afit Nurcholis, M.A, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan ini.
”Kehadiran Syaikh dari Sudan merupakan bukti komitmen Ponpes Al Mumtazah dalam meningkatkan kualitas pengajaran Bahasa Arab bagi santri-santri kami. Kami berharap ilmu yang didapat dari Syaikh Dr. Fadhollah ini dapat membuka wawasan internasional dan memotivasi santri untuk lebih giat dalam mempelajari Bahasa Arab,” tuturnya.
Daurah ini diharapkan tidak hanya memberikan bekal ilmu linguistik, tetapi juga mempererat jalinan ukhuwah Islamiyah antara ulama dan akademisi dari Sudan dengan komunitas pesantren di Indonesia, terkhususnya Banjarnegara.***
