18 April 2026 01:31

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 82

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Menggandeng tangan Lita.

Berdua pelan-pelan melangkah ke atas panggung.

Di atas panggung, Theo menyalami Gubernur.

Begitu juga Lita.

“Hadirin yang berbahagia, inilah pasangan serasi yang membuat kita semua iri melihatnya. Bapak Theo, Wakil Ketua DPR RI bersama Ibu Lita. Malam ini, Bapak Theo dan Ibu Lita membuat kejutan untuk kita semua.”

Lalu Pembawa Acara mendekati Lita, “Tadi Ibu Lita menulis pesan seratus keping CD di secarik kertas. Boleh tahu, Bu. Mengapa ibu menuliskan pesanan ibu di kertas, tidak langsung mengangkat tangan saja?”

Lita tersenyum, dan menjawab, ”Ah, saya memang sengaja menuliskan pesanan di kertas saja. Saya tidak ingin Bapak tahu. Hehehe…” Lita sengaja mencubit lengan Theo.

BACA JUGA:Kapal Pesiar: Manjakan Penumpang bagaikan Surga Dunia

BACA JUGA: Kapal Pesiar : Manjakan Penumpang bagaikan Surga Dunia (2)

“Kalau boleh tahu, seratus keping CD itu, nanti untuk siapa saja, Bu?” tanya Pembawa Acara lagi.

“Nanti akan saya bagikan kepada seluruh karyawan perusahaan kami. Tentu saya sendiri juga akan ambil satu keping. Untuk didengarkan sendiri kala santai di rumah.” jawab Lita santai.

Kembali tepuk tangan gemuruh penuhi ruangan.

Sebelum turun panggung, Theo menyalami dan berangkulan dengan Gubernur.

Lita bersalaman dengan Gubernur.

Dan terakhir dengan Pembawa Acara.

Malam ini menjadi malam Minggu yang penuh makna untuk Theo dan Lita.

Malam titik balik yang akan membawa perubahan besar dalam diri Lita, Theo, dan juga anak-anak Theo.

Bagian 12

YANG LEPAS DARI SUMBAT

Sehari sesudah acara jamuan makan dengan Gubernur, media massa lokal Semarang dan Jawa Tengah penuh dengan berita tentang Lita.

Lita menjadi pusat perhatian media.

Wawancara dan foto-fotonya menghiasi halaman suratkabar.

Bahkan ada suratkabar yang khusus menuliskannya dalam bentuk profil.

Judulnya pun cukup eye-catching, Mantan Pedangdut jadi Pengusaha Kayu.

Berita tentang Theo malah tertindih dengan berita tentang Lita.

Theo senyum-senyum saja membaca berita-berita itu.

Theo bahkan menyebut Lita sebagai sosialita baru di kota Semarang.

Satu langkah ke depan untuk Lita.

Theo mulai melihat potensi dirinya.

BACA JUGA:Jadikan Harta sebagai Budakmu

Dan langsung memberi kepercayaan untuk mengurus perusahaan kayunya yang sudah sementara waktu terabaikan.

Tentu, ini adalah tantangan untuk Lita.

Apakah dia akan mampu terus berada selangkah di depan untuk seterusnya.

Waktu seminggu berjalan sangat cepat.

Theo sudah harus kembali ke Jakarta Senin pagi.

Lita ikut mengantar ke bandara, bersama Pak Anwar.

Theo selalu kembali ke Jakarta dengan penerbangan Garuda terpagi. Take off pukul enam.

Pukul sembilan dia sudah harus berada di Senayan.

Usai mengantar Theo, Lita langsung menuju arah pelabuhan.

Perusahaan kayunya berada di seberang jalan utama di depan pelabuhan.

Pukul delapan lebih empat puluh lima menit, Lita sudah berada di Ruang Direktur.

Duduk di kursi berukuran cukup besar.

Di depannya meja kerja terbuat dari kayu jati yang terlihat kokoh.

Ada tumpukan map-map berisi berbagai dokumen di atas meja kerjanya.

Sejak acara jamuan makan malam dan promosi CD Gubernur itu, dua hari kemudian Theo mengajak Lita ke perusahaan kayu miliknya.
Perusahaan yang terletak di Jalan Arteri, dekat Pelabuhan Tanjung Emas, Semarang Utara.

Perusahaan kayu yang dulu membesarkan nama Theo sebagai pengusaha, sebelum terjun ke dunia politik.

Kini, perusahaan masih berjalan dengan baik.

Masih memberikan keuntungan usaha lumayan.

Namun, bila dibandingkan dengan perusahaan pesaing sejenis yang makin banyak jumlahnya, perusahaan Theo sudah ketinggalan beberapa langkah di belakang.

BACA JUGA:Bimbingan Pranikah Diwajibkan, Usul BP4 Jawa Tengah

Sejak ditinggal Theo, perusahaan seperti kehilangan spirit atau jiwa untuk bersaing berebut pasar.

Perusahaan berjalan hanya karena masih cukup banyak pelanggan loyal, pelanggan yang masih melihat Theo sebagai partner bisnis.
Selebihnya, stagnan tanpa gairah untuk membuka peluang pasar baru.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version