Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 83
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Theo berpikir, tak ada salahnya Lita diberi kepercayaan untuk mengelola perusahaan, sambil menunggu waktu Ikang selesai kuliah.
Daripada hanya di rumah tanpa kerjaan, Lita lebih baik diberi kegiataan.
Siapa tahu Lita bisa mengembangkan perusahaan?
Dengan kesibukan mengelola perusahaan, Theo berharap, Lita tidak banyak mengganggu dengan telepon dan SMS.
Dan, yang lebih penting, Lita punya lebih banyak waktu di luar rumah.
Lita punya banyak waktu menghindar untuk berantem, cekcok mulut dengan Iben.
Bagi Theo, semakin jauh Lita dari Iben, tentu semakin baik untuk dirinya.
Juga untuk Lita.
Semua karyawan menyambut baik keputusan Theo.
Termasuk Agung, orang kepercayaan Theo yang selama ini diberi kepercayaan menjalankan perusahaan.
Theo tetap memberikan posisi sebagai Wakil Direktur kepada Agung.
Tugasnya masih seperti biasa.
Tapi sekarang ada Lita yang jadi bosnya.
BACA JUGA:Waduh! Agya Tabrak Pembatas Jalan di Sigaluh Banjarnegara, Pengemudi Selamat Tanpa Luka
Agung sepenuhnya harus membantu Lita.
Seperti pagi ini, begitu tahu Lita sudah ada di ruang kantornya, Agung segera mendatangi Lita.
“Selamat pagi, Bu Lita.” sapanya, begitu masuk ke dalam ruangan.
“Selamat pagi, Mas Agung.” sambut Lita.
Lita menyebut Agung dengan panggilan Mas.
Dalam budaya Jawa, panggilan Mas adalah penghormatan untuk orang yang dianggap lebih tua.
Umur Agung sekitar empat puluhan tahun.
Sudah berkeluarga.
Sudah punya anak dua orang.
Bekerja di perusahaan ini sudah hampir lima belas tahun.
Sejak dia baru saja selesai kuliah, umur dua puluh lima tahun.
Dan selama bekerja di sini, Theo melihat dedikasi Agung yang baik.
Sehingga ketika Theo harus ke Jakarta, Agunglah yang diserahi tugas dan tanggung jawab mengelola perusahaan.
“Ada beberapa order cukup besar, minggu ini, Bu.” Kata Agung, mengawali pembicaraan.
“Ya, Mas. Aku lihat Developer di Gunungpati itu order cukup besar. Sepertinya pelanggan baru ini ya, Mas.” Lita menimpali.
“Iya, Bu. Sekarang banyak Developer yang membuka Real Estate baru di kawasan pinggiran kota. Mereka perlu kayu cukup banyak. Yang penting kita harus tetap memberikan harga bersaing, Bu.” Agung memberikan penjelasan panjang lebar.
Lita manggut-manggut.
“Saya kira ini peluang bagus. Kalau kita bisa menarik para Developer itu mengambil kayu dari kita, pasar mereka kan lumayan besar. Perlu kita kembangkan, Mas. Ada baiknya nanti aku bertemu dengan para key person developer itu untuk menjadi pelanggan loyal kita.”
Lita memberikan gagasan baru pada Agung.
BACA JUGA: 10 Ciri Istri Pembawa Rezeki untuk Suami, Kamu Harus Tahu
“Itu ide bagus, Bu. Kalau developer se Kedungsapur mengambil kayu dari kita, wah…itu sudah akan meningkatkan penjualan kita.” Agung menanggapi. Dan Lita masih manggut-manggut saja mendengarkan tanggapan Agung.
“Berkeliling menemui para Developer itu perlu waktu dan tenaga ekstra.”
Kembali Agung seolah memberi penjelasan.
“Iya. Tidak apa-apa. Aku akan mulai lakukan minggu depan.” Tukas Lita.
“Sekarang, ayo temani aku berkeliling melihat-lihat kegiatan keseharian semua karyawan di sini.”
“Mari, Bu. Saya antar ibu berkeliling. Semua karyawan sudah siap di tempat masing-masing.” jawab Agung.
Lita didampingi Agung berjalan berkeliling melihat kegiatan rutin karyawan.
Dimulai dari melihat-lihat tumpukan kayu-kayu gelondongan yang didatangkan langsung dengan kapal dari Kalimantan.
Kayu-kayu gelondongan itu lalu masuk ke ruang penggergajian.
Suara mesin gergaji kayu berbagai ukuran sangat bising.
Kayu-kayu gelondongan itu digergaji, dipotong-potong menjadi berbagai ukuran.
Dan kayu-kayu yang sudah terpotong rapi dikelompok-kelompokkan sesuai ukuran, lalu dibawa ke ruang penyimpanan.
Dari sana kayu-kayu potongan tersebut siap dikirim kepada para pemesan.
Lita banyak bertanya pada Agung tentang segala hal, seluk beluk, yang berkaitan dengan proses pengolahan kayu.
Sejak awal kayu-kayu itu didatangkan dari Kalimantan sampai kayu-kayu itu dikirimkan kepada para pelanggan, yang kebanyakan adalah toko-toko bangunan dan pedagang pengecer di wilayah Semarang dan sekitarnya.
“Berapa kali dalam sebulan kita mendatangkan kayu gelondongan dari Kalimantan?” tanya Lita.
“Rata-rata dua kali, Bu. Setiap datang rata-rata lima trailer. Jadi sebulan kita mengolah sekitar sepuluh trailer.” Agung menjelaskan.
“Oke. Kayaknya kapasitas mesin gergaji kita masih belum terpakai maksimal. Masih bisa ditambah lagi.”
Lita seperti bicara pada dirinya sendiri.
“Ditambah dua kali lipat juga masih mampu, Bu.” jawab Agung.
”Waktu Bapak masih pegang sendiri beberapa tahun lalu, kapasitas kerja mesin memang dua kali lipat dari yang sekarang.”
“Baiklah. Terima kasih, Mas Agung. Dengan kerja keras, kita harus bisa mengembalikan kapasitas mesin itu. Kurasa cukup untuk hari ini.” kata Lita.
Lita dan Agung kembali masuk ke ruang kantor.
Hari ini Lita banyak melihat-lihat berbagai dokumen dan data performance perusahaan.
Lita merasa harus banyak belajar untuk mengetahui lebih jauh kinerja dari catatan laporan aktivitas perusahaan yang sekarang dipimpinnya.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***