Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 85
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Diusapnya keringat di keningnya dengan tisu.
“Kak Ikang sudah telepon ayah. Kata ayah, Kak Ikang tidak perlu khawatir. Perusahaan itu tetap menjadi milik Kak Ikang. Hanya sementara Kak Ikang menyelesaikan kuliah, biar Lita yang mengurusnya. Selama ini memang perusahaan tidak ada yang ngurus. Hanya diurus orang kepercayaan ayah saja. Bagaimanapun ternyata perusahaan terus menurun. Setelah dipegang Lita, katanya perusahaan mulai meningkat lagi. Bahkan, katanya melonjak cukup tinggi omsetnya. Berarti Lita memang punya bakat dan kemampuan mengurus perusahaan.”
“Lalu apa masalahmu? Kok kamu sekarang jadi seperti orang linglung begitu?” tanya Dodit sambil menatap tajam mata sahabatnya.
BACA JUGA:10 Ciri Istri Pembawa Rezeki untuk Suami, Kamu Harus Tahu
“Kan sudah kubilang, Lita sekarang hampir tidak pernah ada di rumah. Berangkat pagi pulang malam. Bahkan terkadang pergi ke Kalimantan, menemui supplier kayu di sana, bisa berhari-hari.” jawab Iben.
“Dan kamu merasa kesepian di rumah?” Sekali lagi Dodit menatap tajam mata Iben.
Iben merasa risih ditatap begitu oleh Dodit.
Dia kembali memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca yang mengarah pada jalan di sebelah gedung perpustakaan.
“Jujur iya.” jawab Iben lirih.
“Sekarang suasana rumah mati. Hanya ada Mbok Siti. Saya jadi tidak kerasan lagi tinggal di rumah.”
“Aku tahu.” kata Dodit.
“Kamu ini sedang merasa kehilangan. Kemarin kamu berantem terus dengan Tante Lita. Meskipun berantem, kamu toh tetap betah ngendon di rumah. Karena keberadaan Tante Lita membuat suasana rumah tidak sepi. Kemudian Tante Lita berhasil melunakkan kekerasan hatimu. Kamu mulai bisa berkomunikasi dengan hangat. Tante Lita semakin membuatmu kerasan tinggal di rumah. Kamu mulai merasa kembali hangat dengan suasana rumah. Dan tiba-tiba sekarang Tante Lita sering menghilang dari rumah. Kamu kembali merasa sepi. Kamu kehilangan suasana hangat bersama Tante Lita.”
Iben masih tetap diam. Namun kepalanya terangguk-angguk pelan.
Dodit melanjutkan bicaranya.
“Mengapa kamu tidak bicara terbuka saja dengan Tante Lita? Kamu dan Tante Lita sudah menjadi bagian dari satu keluarga. Tante Lita adalah ibumu, walau hanya ibu tiri. Tapi itu tak perlu jadi halangan atau hambatan untuk bicara terbuka. Bukannya malah saling diam seperti main petak umpet. Tante Lita pergi pagi pulang malam. Kamu pergi sore pulang pagi. Kapan mau ketemu? Kapan masalahmu selesai?” Dodit memberondong Iben dengan pertanyaan, yang sebenarnya tidak perlu jawaban.
“Oke…oke…! Aku yang banci. Aku yang tak punya keberanian!” Iben setengah berteriak sambil menarik-narik rambutnya yang gondrong.
BACA JUGA:Bersabar Kala Penebar Fitnah Terus Menabur Hasutan
“Bukan itu masalahnya. Aku yakin, Tante Lita pun sebenarnya punya pikiran yang sama dengan kamu. Dia pasti ingin bertanya, ke mana saja kamu tiap malam, kok tidak pernah pulang. Mau menghubungi kamu lewat telepon, pasti dia merasa risih. Akhirnya, pertanyaan-pertanyaan itu hanya disimpannya saja untuk dirinya sendiri. Sama seperti kamu. Bertanya mengapa Tante Lita sekarang menjadi super sibuk dengan perusahaan. Tetapi tanya itu tak pernah kamu keluarkan.”
Dodit berhenti sebentar.
Lalu lanjutnya, “Mbok Siti pun punya pertanyaan yang sama. Mengapa kalian berdua sekarang tidak pernah berada di rumah? Dan Mbok Siti pun hanya mampu menyimpan tanya itu untuk dirinya sendiri. Yang jelas, dari kalian bertiga, Mbok Siti lah yang paling merasa kesepian. Kamu tahu gak itu, Iben?”
Iben mendongakkan kepala.
Matanya menerawang jauh ke luar jendela perpustakaan.
“Ya, kau benar, Dit. Tak seharusnya aku membuat Mbok Siti jadi ikut sedih. Aku sangat berdosa kalau Mbok Siti sedih gara-gara memikirkan aku. Aku akan di rumah malam ini.” katanya seperti berjanji pada dirinya sendiri.
“Bagus.” Dodit menepuk bahu Iben. “Cobalah perbaiki suasana rumahmu. Kamu pasti bisa!”
Wajah Dodit berseri. Senyum mengembang di bibirnya. Iben pun ikut tersenyum.
BACA JUGA:Istri Mandiri Suami Tak Perlu Minder
“Yuk, kita turun. Sudah sore. Perutku lapar, he…! Gimana kalau kita nongkrong di angkringan tahu gimbal di pojok situ?”
Dodit memberi ide untuk melanjutkan ngobrol sambil menikmati tahu gimbal. Makanan khas Kota Semarang, terbuat dari sayuran, lontong, tahu, telur, dan rempeyek udang. Tahu gimbal adalah salah satu makanan favorit mahasiswa, sebagai menu pengganti makan siang, bila ada kuliah sampai sore.
“Siplah. Kebetulan perutku juga sudah terasa lapar.” jawab Iben, sambil bangkit dari kursinya.
Sampai menjelang senja, dua orang sahabat itu ngobrol sambil menikmati tahu gimbal, di warung pojok kampus di bawah pohon akasia yang cukup rindang.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***