Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 88
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Iben merasa sangat bersalah.
Sudah beberapa minggu dia tidak mengganti bunga sedap malam di kamar ibunya.
Bunga ini pasti sudah lebih dari tiga hari tidak diganti.
Iben tidak bisa menyalahkan Mbok Siti, yang terlambat mengganti dengan bunga baru yang segar.
BACA JUGA: Intip Kepribadian Seseorang melalui Tulisan Tangan
Bukankah mengganti bunga tiap tiga hari itu menjadi tugasnya sejak ibunya meninggal?
Iben menarik nafas panjang.
Dia melangkah ke tempat tidur.
Dijatuhkannya tubuhnya ke atas tempat tidur dengan posisi terbalik.
Kepalanya menghadap ke arah tembok di mana bagian itu mestinya tempat kepala bila ibunya tidur dulu.
Lalu dia tiduran dengan meletakkan kepala di atas perut ibunya, atau di atas paha ibunya.
BACA JUGA:Tes Kepribadian: Siapa Orang Pertama yang Anda Bantu? Pilihanmu Menggambarkan Karaktermu
Dengan lembut ibunya akan mengusap-usap kepalanya, menarik-narik pelan rambutnya, sambil bercerita tentang apa saja.
Tentang bunga sedap malam yang selalu hadir mengharumkan kamar, tentang burung-burung yang beterbangan di luar.
Dan beberapa saat kemudian, matanya akan terpejam, tertidur lelap dengan mimpi indah berkejaran dengan burung-burung yang beterbangan di luar kamar.
Saat ini, Iben telentang sendirian.
Matanya menatap tembok di depannya.
Di bagian atas tembok itu tergantung foto ibunya.
Foto berpigura kayu yang indah.
Dalam foto itu, terlihat ibunya seolah memandang dirinya yang telentang sendirian.
Wajahnya tersenyum.
BACA JUGA:Ini Kata Ustadz Adi Hidayat: sedang Diuji Allah? Bersabarlah, hanya Kamu yang Mampu
Iben bengong sejenak.
Foto itu foto ketika ibunya masih muda, masih terlihat segar dan lincah.
Berbaju blus sederhana lengan pendek berwarna kuning gading.
Rambutnya diikat ekor kuda.
Iben memandangi lama foto ibunya.
Dan tiba-tiba saja dia njenggirat kaget.
Foto itu tersenyum makin manis, dan pelan-pelan dia melihat wajah ibunya berubah.
Berubah menjadi wajah Lita!
BACA JUGA:Pecel Lemah Abang, Sajian Berbeda Rasa Menggoda
Iben mengucek-ucek mata.
Dia makin terkejut ketika hapenya berdering keras.
Dia lihat layarnya. Oh, telepon dari Ikang dari Boston.
Dia langsung angkat hapenya, menerima panggilan Ikang.
“Halooo…. Kak Ikang! Apa kabar?”
“Heh, kabar baik. Gimana kamu? Di mana ini? Di kampus?”
“Aku di rumah saja. Kebetulan sedang tidak ada jadwal kuliah. Kakak lagi ngapain?”
“Lha, ini lagi telepon kamu. Di sini kan sudah malam, nih. Eh, Ben, aku kemarin sudah telepon ayah. Aku sudah diberi tahu banyak oleh ayah, soal perusahaan kayu itu. Itu perusahaan kan memang disiapkan untuk aku kalau aku sudah lulus nanti. Tapi sekarang, karena tidak ada yang ngurus, oleh ayah diserahkan kepada Lita untuk mengurusnya. Katanya sekarang memang tambah maju ya? Tak sangka perempuan penyanyi dangdut itu bisa juga ngurus perusahaan. Tapi, aku khawatir. Terus terang saja, kalau dia punya kapabilitas manajerial bagus, bisa-bisa perusahaan itu nanti malah direbut untuk dikangkangi sendiri.” Ikang berhenti sebentar.
BACA JUGA:Ini Pesan Ustadz Adi Hidayat untuk Ibu Hamil supaya Tidak Menyesal
“Iya, kak. Perusahaan itu sekarang omsetnya naik lagi. Lita ternyata mampu menjalankan usaha dengan baik. Dia sekarang sibuk. Hampir tidak pernah ada di rumah lagi.” Iben menimpali.
“Oke, sekarang begini. Kamu mau gak bantu aku?” tanya Ikang.
“Bantu apa?” jawab Iben spontan.
“Begini, Ben. Memang bahaya kalau Lita kita biarkan ngurus perusahaan itu sendirian. Aku sudah usul pada ayah, kamu sebaiknya ikut mendampingi Lita ngurus perusahaan itu. Kamu tetap kuliah sih. Tetapi saat ada waktu, kamu harus ikut ke pengolahan kayu. Kamu lihat apa yang Lita kerjakan. Bilang saja kamu diperintah ayah untuk ikut bantu dia ngurus perusahaan. Soal manajemen keuangan dan cash flow keuangan kan kamu juga gak buta-buta amat. Iya, kan?”
“Weh, Kak Ikang mau jadikan aku mata-mata untuk mengawasi Lita, ya?”
“Straight to the point, iya. Memang begitu maksudku. Kamu mau dan bisa, kan? Bagaimanapun, Lita is our enemy. Dia orang yang tidak kita harapkan kehadirannya di keluarga kita. Iya, kan?”
“Hm, bisa sih bisa. Mau juga mau. Tapi itu kan perlu waktu dan tenaga ekstra.”
“Don”t worry. Aku akan telepon dia. Aku minta dia kasih kamu gaji bulanan untuk bantu dia.”
“Agak rumit juga. Seperti apa respon dia nanti ya?”
“Kamu tak usah mikir macam-macam. Itu urusanku. Aku sudah telepon ayah. Ayah setuju. Ayah malah seneng kalau kamu mau. Ayah bilang, ini malah jadi semacam training gratis buat kamu. Soal Lita, nanti aku juga yang selesaikan. Yang penting kamu siap. Selebihnya, aku telepon Lita. Semua beres. Oke?”
“Ya, terserah Kakak sajalah. Aku tinggal jalankan perintah.”
“Wokeee… thank you, Ben. Kerjakan tugasmu dengan baik, ya.”
BACA JUGA:Perawat Harus Memiliki Payung Hukum Soal Khitan
“Emang aku mau digaji berapa, nih. Hehehe….”
“Belum kerja sudah tanya gaji. Dasar mata duitan. Tanya aja pada Lita. Minta yang cukup untuk pacaran tiap akhir minggu. Gitu!” Nada Ikang terdengar ketus.
“Hehehe…” Iben tahu Ikang juga bercanda. Makanya dia hanya tertawa.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***