Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 92
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Iben sendiri merasakan ada sesuatu yang beda pada diri Lita.
Dia sendiri tidak tahu, mengapa rasanya sangat nyaman bila berada di dekat Lita.
Dia merasa sangat tenang, bahagia, bila bersama Lita di mana pun.
Saat jalan bersama menaiki atau menuruni tangga, misalnya, tanpa sadar Iben memegang tangan Lita, menggandengnya sampai di ujung tangga.
Begitu pula bila sedang berjalan di tengah keramaian, tangan Iben otomatis memegang tangan Lita, menggenggamnya sambil berjalan.
Dan Iben merasakan kedamaian yang luar biasa bila sedang berjalan berdua.
Rasa yang sama dia peroleh seperti saat-saat dia berjalan berdua dengan ibunya, Ipo, dulu.
Begitulah yang dirasakan Iben.
Dia seperti tak ingin jauh lagi dari Lita.
Semangat bekerjanya menjadi semakin tinggi.
Dengan demikian, waktu Iben saat ini hanya terkonsentrasi pada dua hal: kuliah dan perusahaan.
Kalau selesai kuliah, ya langsung tancap gas turun ke tempat pengolahan kayu.
Seperti hari ini, usai kuliah pukul dua belas siang, Iben sudah memacu Vespa tuanya ke arah pelabuhan.
Sampai di pengolahan kayu masih lima menit menuju pukul satu.
Dia parkir Vespanya di garasi kantor, di sebelah Toyota Camry yang dipakai Lita.
Iben berjalan cepat menuju ruang kantor.
BACA JUGA:Upin Ipin Kisah Nyata? Pantesan sampai Sekarang Masih Kecil, Ternyata…
Di dalam ada beberapa karyawan yang masih sibuk kerja.
“Selamat siang, Mas Iben.” Sapa Dewi, Sang Bendahara cantik, dengan senyuman manisnya yang khas, menunjukkan lesung pipit di kedua pipinya.
“Selamat siang, Wi.” Jawab Iben, “Eh, aku belum sempat makan siang nih. Lapar. Bisa pesankan nasi pecel di warung depan?” tanya Iben, sambil duduk di kursi kerjanya.
“Wah, jam segini, belum makan, Mas? Kayaknya Bu Lita juga belum makan. Tidak sekalian saja pesan makannya untuk berdua?” tanya Dewi.
“Oh, ya? Coba aku tanya dulu dia,” potong Iben.
Lalu Iben bangkit dari duduk dan berjalan menuju ruang dalam kantor.
Di ruang dalam, Lita terlihat masih sibuk dengan berbagai berkas dokumen yang harus ditanda tangani.
Melihat Iben masuk, dia menoleh.
Tersenyum manis, dan tangannya tetap sibuk dengan dokumen di depannya.
“Oh, kamu, Ben. Kok agak cepet sampai kantor hari ini.” tanyanya.
“Iya. Jalanan lancar. Jadi bisa agak ngebut dikitlah.” jawab Iben, sambil duduk di kursi tamu yang ada di tengah ruangan.
“Aku lapar. Belum makan siang. Aku sudah pesan nasi pecel pada Dewi. Katanya kamu juga belum makan. Mau aku pesankan sekalian?” tanya Iben.
“Boleh. Aku juga sudah mulai merasa lapar nih. Sejak pagi ngobrol dengan Pak Ali, partner kita di Banjarbaru, Kalimantan. Sampai lupa belum mengisi perut juga.”
BACA JUGA:Puisi Rindu
Lita menyambut tawaran Iben.
Tangannya berhenti menulis.
Lalu bangkit dari kursinya dan berjalan menuju meja tamu.
Lita duduk di kursi yang berseberangan dengan Iben.
“Oke, aku minta Dewi pesan dua porsi nasi pecel ya.” tegas Iben.
Lita hanya mengangguk kecil.
Iben lalu keluar ruangan sebentar, menuju meja Dewi.
“Wi, jadi pesan dua porsi nasi pecel ya. Plus dua gelas teh manis hangat. Jangan lupa kerupuk karaknya.”
Iben memberi instruksi pada Dewi.
“Siap, Mas. Biar Pak Kardi yang ke warung depan. Nanti saya antar ke dalam.” jawab Dewi.
“Sip. Trims ya.”
“No problem”
Iben membalikkan badan, berjalan ke dalam ruangan Lita. Lita masih duduk di kursinya. Menunggu Iben.
“Ada apa dengan Pak Ali di Banjarbaru?” tanya Iben setelah duduk di kursi di depan Lita.
“Ada sedikit masalah di Banjarbaru. Pemasok kayu kita di sana, kata Pak Ali, mulai agak rewel memenuhi permintaan kita. Pak Ali berharap, aku bisa ke Banjarbaru, menemui pemasok kita itu. Menurut Pak Ali, kalau aku ketemu langsung kan bisa negosiasi. Semua jadi jelas, sehingga Pak Ali tidak harus pusing terus, seperti sekarang ini.”
Iben manggut-manggut mendengar penjelasan Lita.
BACA JUGA:Hindari Memperoleh Harta dengan Cara Batil
Tapi dia belum sepenuhnya paham, apa dan ke mana arah pembicaraan Lita selanjutnya.
“Aku sudah janji pada Pak Ali, hari Senin minggu depan, aku akan ke Banjarbaru, menemui pemasok kita itu. Kamu ada kuliah, minggu depan?” tanya Lita, tiba-tiba.
Iben terkejut.
Kepalanya mendongak.
Melihat ke mata Lita.
Sekejap.
Setelah itu, sedikit memiringkan kepala melihat ke arah lain.
“Maksudmu bagaimana?” tanya Iben seperti orang blo’on.
BACA JUGA:Intip Kepribadian Seseorang melalui Tulisan Tangan
“Kalau kamu tidak ada kuliah, atau mau bolos kuliah barang dua-tiga hari, aku mengajak kamu ikut aku ke Banjarbaru. Biar kamu ikut melihat langsung apa yang terjadi di sana. Kan kamu bertugas mengawasi aku? Hihihi….” Lita berkata sambil tertawa seperti geli sendiri dengan idenya itu.
“Oh, begitu,” jawab Iben, menarik nafas panjang, “bolehlah. Aku bolos kuliah satu-dua kali tidak masalah. Masih aman untuk bisa ikut ujian akhir semester. Jadi, di sana kita dua hari nanti?”
“Kita lihat perkembangan situasi di sana, nanti. Semoga dua hari bisa sampai titik temu dengan pemasok kita. Tiket pulangnya kita ambil yang open-date, saja.” Lita menjelaskan rencana perjalanannya.
Sebelum Iben berkata lagi, terdengar ketukan halus di pintu. Lita menoleh ke arah pintu. Dewi membuka pintu, masuk ke dalam, dengan tangan membawa nampan berisi dua piring nasi pecel, dua gelas besar teh manis hangat, dan dua bungkus plastik kerupuk karak.
“Ini nasi pecelnya, Bu.” kata Dewi sambil meletakkan nampan di atas meja.
“Ya, terima kasih, Dewi. Oh, ya. Tolong pesankan tiket pesawat ke Banjarbaru untuk kami berdua, Senin minggu depan. Pulangnya open-date saja, ya.” kata Lita pada Dewi, yang masih berdiri di samping Lita.
BACA JUGA:Orang Tua Perlu Melek Pendidikan Literasi Digital
“Siap, Bu. Apa ada yang lain?” tanya Dewi.
“Cukup. Eh, tolong bilang ke Pak Agung, satu jam lagi, aku pengin ketemu. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengannya.”
“Baik, Bu. Saya sampaikan ke Pak Agung.”
Dewi lalu melangkah mundur dan keluar ruangan. Tinggal Lita dan Iben, yang menikmati nasi pecel tanpa banyak bicara lagi.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***