Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 104
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Bagian 14
GELAS RETAK
Akhir pekan ini Theo mau pulang.
Selama seminggu penuh akan berada di Semarang.
Partainya mengadakan Rapat Kerja Nasional, mengundang Dewan Pimpinan Daerah Provinsi dan Kabupaten/Kota seluruh Indonesia.
Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Daerah itu berkumpul untuk membahas strategi pemenangan dalam Pemilihan Umum tahun depan.
Sebagai bagian dari Pengurus Dewan Pimpinan Pusat, Theo ikut sibuk mengurusi persiapan penyelenggaraan rapat kerja.
Meskipun rapat kerjanya hanya berlangsung tiga hari, Jumat sampai Minggu pekan depan, tapi Theo sudah pulang ke Semarang sejak akhir pekan ini.
BACA JUGA: Tausiyah di Khataman Quran HPN, Ketua MUI Jateng Ajak Wartawan jadi Penyuara Kebenaran
Katanya, dia ikut bertanggung jawab suksesnya rapat kerja.
Oleh karena itu, dia harus ikut cek dan recek segala persiapan yang telah dilakukan oleh Panitia Daerah.
Lita hanya menanggapi dingin kabar mau pulangnya Theo.
Dalam hati kecilnya, Lita justru berharap Theo tidak usah pulang saja.
Perasaannya pada Theo sudah berubah.
Theo tak lagi membangkitkan getaran naluri biologis pada tubuhnya.
Ingatan pada Theo menjadi hambar, tawar.
Tanpa sentuhan emosional sedikit pun.
Menyadari keadaannya kini, Lita gelisah, galau sendiri.
Membayangkan apa yang akan terjadi saat Theo datang nanti.
Sebagai istri, dia harus siap melayani dengan sepenuh hati.
Sedang yang dia rasakan jiwanya sebagai istri telah mati.
Sejak pulang dari Banjarbaru, Kalimantan, Lita sudah tidak pernah memikirkan Theo lagi.
Hari-harinya, sekarang ini justru penuh dengan kegembiraan, keceriaan, kebahagiaan, lahir batin, baik saat di rumah, maupun saat bekerja di kantor perusahaan.
Lita selalu bersama Iben.
Di rumah, mereka tetap menjaga jarak.
BACA JUGA: Ziarah ke Makam Wartawan Senior, Agenda Peringatan HPN 2022
Mencoba bersikap wajar dan santai di depan Mbok Siti dan Pak Anwar.
Hanya saja, bila malam hari, di mana Mbok Siti dan Pak Anwar sudah berada di belakang, Lita dan Iben bisa sebebasnya menumpahkan segala rindu dendam rasa mereka yang seperti tersumbat seharian penuh.
Mereka sudah tidak malu-malu lagi.
Tidak ada yang membuat risih saat mereka berdua.
Entah di kamar Iben atau di kamar Ipo, ibunya.
Yang jelas, Lita selalu menolak bila Iben ingin masuk ke kamar pribadinya.
Lita hanya mau berdua Iben di kamarnya atau di kamar Ipo, ibunya.
Mereka berdua benar-benar sudah seperti sepasang kekasih remaja yang begitu lengket.
Begitu mesra.
Lita dan Iben sudah terperangkap dalam perasaannya sendiri.
Jatuh cinta.
Salahkah mereka?
BACA JUGA: PPKM Level 3 Ditetapkan Pemerintah, Ini Aturan Pembatasan Terbaru
Kata orang cinta itu anugerah.
Cinta tak pernah salah.
Yang salah adalah mengapa memberikan cinta kepada orang yang salah.
Cinta terlarang.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***