Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 105
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Begitupun, bila di kantor, mereka bersikap biasa di depan Agung, Dewi, dan karyawan lainnya.
Hanya saja, bila mereka pergi berdua menemui pelanggan atau untuk keperluan yang lain, sekarang mereka memilih pergi berdua saja.
Dan bila mereka pergi berdua, dipastikan memakan waktu lama.
Bahkan sering tidak kembali lagi ke kantor.
Pak Anwar, sopir keluarga, lebih banyak duduk menganggur main catur dengan satpam kantor perusahaan.
Pak Anwar diajak mengantar Lita, hanya bila Iben sedang kuliah, sementara Lita harus keluar menemui pelanggan.
BACA JUGA: Gebrakan Baru, Agenda HPN 2022 Tingkat Jateng Dapat Apresiasi
Rencana kedatangan Theo benar-benar membuat Lita galau gelisah.
Malam ini, setelah Mbok Siti membereskan meja makan usai makan malam, Lita dan Iben ngobrol di ruang depan sambil nonton televisi.
“Ben, ayah Jum’at sore besok mau pulang. Katanya ada Rapat Kerja Nasional partai di Semarang. Jadi agak lama berada di Semarang. Sampai akhir minggu pekan depan.” kata Lita memulai pembicaraan.
“Hm, seminggu di sini? Itu berarti aku harus kembali jadi kutu buku di perpustakaan. Dan kamu kembali jadi istri yang manis melayani suami di rumah.” Iben menjawab agak ketus.
Lita menghela nafas.
Dia bisa memahami perasaan Iben.
Tentu Iben sama gelisah galaunya dengan dirinya.
Kedatangan Theo benar-benar duri yang menyakitkan bagi mereka berdua.
“Ini sudah jadi risiko kita, apapun harus kita hadapi dengan pikiran dingin. Harus ada solusi agar semua tetap berjalan dengan baik.”
Lita mencoba mengajak Iben berpikir lebih dewasa.
BACA JUGA: Ketua PW Muhammadiyah Jateng Raih Doktor Studi Islam
“Di mataku, ayah adalah suami dan lelaki yang tidak punya tanggung jawab terhadap keluarga. Ibuku disiksa lahir batin sampai mati ngenes. Apakah ayah bersedih saat ibuku mati? Tidak! Kematian ibu sama sekali tidak ada artinya. Ayah masih tetap tidak berubah. Bahkan baru tiga bulan ibu mati, dia sudah membawamu ke rumah ini untuk diperkenalkan kepada kami, tiga anak lelakinya yang sedang tumbuh jadi lelaki dewasa juga.”
Iben berhenti sejenak.
Wajahnya tegang.
Merah.
Gerahamnya berbunyi gemeretak, menahan emosi yang tampaknya akan semakin memuncak.
“Shsst….jangan keras-keras. Mbok Siti bisa mendengar dari belakang.” Lita mengingatkan.
BACA JUGA: Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 104
“Ayah egoist! Dia membuat ibu sakit. Dia yang membuat ibu mati. Ibuku yang menjadi pelindungku, ibuku yang paling tahu dan menyediakan kebutuhanku. Dalam hidupku, hanya ada ibu. Ayah aku anggap tidak pernah ada. Kalau pun sesekali dia pulang, aku menganggapnya hanya sebagai tamu yang menginap satu dua malam. Habis itu akan pergi lagi. Tidak meninggalkan apa-apa. Tapi, dia telah membuat ibu mati! Dia telah membunuh ibu! Aku benci. Benci!”
Iben sudah berteriak.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***