18 April 2026 00:04

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 111

0

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Malam ini, sepert biasa, Theo cukup bergairah ingin menghabiskan malam bersama Lita.

Theo sangat aktif melakukan foreplay, mengajak Lita mendaki menikmati kebersamaan.

Tapi, tampaknya Lita tidak begitu mampu mengimbangi keinginan Theo malam ini.

Tubuhnya memberikan respons yang berbeda dengan mulutnya.

Sebagai lelaki sangat berpengalaman, Theo merasakan itu.

“Kenapa kamu, Ta? Kamu gak pengin meneruskan ini, ya?” tanya Theo agak menyelidik.

Sementara sejenak dia menghentikan aktivitasnya.

“Gak tahu…aku gak papa…teruskan saja, Yah…”

Lita agak gagap menjawab pertanyaan Theo.

Tapi, tangannya merangkul erat tubuh Theo.

BACA JUGA:Bersabar Kala Penebar Fitnah Terus Menabur Hasutan

“Ada beban di pikiranmu. Kamu tidak biasanya bersikap seperti ini.”

Berkata begitu, Theo mengelus-elus rambut Lita.

“Gak…gak ada beban pikiran. Mungkin hanya sedikit capek. Ayo, Yah…teruskan..”

Lita meyakinkan Theo.

Theo masih diam.

Tapi kini tubuh Lita yang berada di bawahnya yang mulai bergerak-gerak.

Akhirnya, Theo mengikuti juga gerakan tubuh Lita.

Malam ini Theo merasa tidak mendapatkan sepenuhnya yang dia harapkan.

Meskipun demikian, Theo tidak banyak bicara lagi.

Dalam pikirannya, mungkin benar Lita dalam kondisi lelah.

Walaupun malam ini dia agak sedikit kecewa, bukanlah sesuatu yang harus jadi masalah.

Masih ada banyak malam-malam berikutnya.

Begitu pikiran yang berkecamuk dalam kepalanya.

Maka, untuk membuang kekecewaannya, Theo langsung memejamkan mata mencoba tidur.

BACA JUGA:Gejala Omicron yang Sering Dikeluhkan dan Diwaspadai

Bukankah dirinya sendiri sesungguhnya juga dalam keadaan cukup lelah?

Sambil masih memeluk Lita, Theo mulai melayang-layang memasuki alam bawah sadarnya.

Tertidur.

Sedang Lita, dalam diam terbaring telentang, matanya masih saja terbuka.

Dilihatnya langit-langit kamar yang menampilkan bayangan-bayangan dari redupnya lampu tidur di pojok kamar.

Pikirannya menerawang mengembara entah ke mana.

Dia paham betul apa sesungguhnya yang sedang terjadi dalam dirinya.

Sejak menikmati buah terlarang bersama Iben, sepenuhnya pikiran, perasaan, dan tubuhnya, sudah menyatu dengan Iben.

BACA JUGA: Usia Terbaik Anak Disunat

Theo sudah seperti menjadi asing bagi perasaan dan tubuhnya.

Sudah tidak ada getaran lagi yang muncul walau Theo memberikan sentuhan-sentuhan selembut apa pun.

Pikirannya masih bersedia menerima Theo.

Tetapi tubuh dan perasaannya ternyata tidak mampu menipu walau sekedar berpura-pura menerima.

Yang terjadi kemudian, meskipun Lita dengan pikirannya berusaha menyenangkan Theo, tetapi respons tubuh dan perasaannya tetap dingin.
Tubuh dan perasaannya bergerak hanya karena kendali otaknya.

Naluri alamiahnya sudah pergi bersama suara deru mesin Vespa tua Iben, sore tadi.

Tanpa terasa, mata Lita basah.

Butir-butir air mata mulai menetes mengalir turun dari kedua pipinya.

Malam bertambah dalam.

BACA JUGA:Pers Efektif Perkuat Moderasi Beragama di Indonesia

Sepi makin meremas hati.

Hati Lita serasa retak.

Apalagi saat mengingat Iben.

Yang malam ini entah sedang di mana dan berbuat apa di luar sana.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Exit mobile version